
POV Ratu Hunt.
Ratu menghela nafas lega, nyaris saja ia ketahuan oleh orang yang sangat ia benci.
"Aku tak mengira kalau dia akan muncul disana, beruntung aku bisa lolos."
Ia kembali dengan selamat ke istananya dan menyusun miniatur baru di lemari kaca yang berada di ruangan rahasia.
"Koleksi ku bertambah banyak, syukurlah aku tidak ketinggalan miniatur limited edition."
Ratu tersenyum ceria, tak berselang lama...
Duarrr...!
Suara ledakan terdengar keras sekali disertai guncangan hebat selama beberapa saat.
Ratu lekas melihat keluar jendela untuk melihat apa yang terjadi, nampak asap mengepul dari kejauhan dan itu tidak jauh dari tempat ia membeli miniatur tadi.
"Apa ada monster yang muncul lagi?"
Tok...! tok...!
Seseorang mengetuk pintu kamar Ratu.
Ratu yang masih berada dalam ruangan rahasia pun lekas pergi membukakan pintu kamarnya.
Orang yang mengetuk pintunya tidak lain adalah adiknya sendiri, dengan raut wajah khawatir Mara melaporkan apa yang terjadi kepada kakaknya.
"Kakak, monster tak dikenal tiba-tiba muncul di tengah kota, aku sudah mengirim Arnoldi dan Teresha untuk menanganinya," lapor Mara.
"Monster apa yang muncul disana? sejenis Pyroberus kah?" tanya Ratu.
"Bukan kak, salah satu pengintai kita sudah mengirim mengirim foto makhluk itu, monster yang satu ini jauh berbeda," jawab Mara seraya menunjukkan foto monster itu di ponselnya.
Ratu sama sekali tidak menduga, monster yang satu ini memiliki wujud unik.
Berlengan enam serta memiliki kulit yang nampak kokoh bagai perisai, raut wajahnya nampak begitu ganas dengan taring yang menyamai taring seekor anjing laut.
Dengan melihat fotonya saja sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa monster yang satu ini akan sangat merepotkan, ratu tidak yakin kalau Arnoldi dan rekannya dapat mengatasi monster ini.
"Kirim bala bantuan lagi, aku memiliki firasat buruk akan monster ini," titah Ratu.
"Baik."
Lekas Mara pergi melaksanakan perintah, sementara Ratu kembali kedalam kamarnya.
Sejenak ia termenung memikirkan sesuatu.
"Aku harus segera menemukan cara untuk meningkatkan kemampuan sihirku, demi kebangsawanan ini."
...*********...
Sementara itu di tengah kota.
Para ksatria dari Hunt dan Seis nampak kerepotan menangani monster dihadapan mereka, yang lebih mengejutkannya lagi adalah monster ini memiliki resistensi sihir yang amat tinggi, sampai Arnoldi terpaksa menutup mulut besarnya.
"Tak kusangka monster ini sangat tahan sihir, ini gawat, energiku hampir habis," batin Arnoldi sambil terus menembakkan peluru sihir tingkat menengah.
Daya hancur dari peluru sihir tingkat menengah umumnya cukup besar untuk menembus sebuah kendaraan perang, tetapi bagi monster ini peluru sihir hanyalah sekedar angin lewat yang mengenainya.
Aqynanta yang awalnya kesal kini menahan tawa terhadap Arnoldi yang membungkam mulutnya sendiri, ucapan sombong yang ia keluarkan sebelumnya terpaksa harus ia tarik kembali.
"Ada apa bocah? apa kau salah merapal mantra sehingga sihir mu tidak mempan?" sindirnya.
Perkataannya begitu menusuk.
"Diam kau...! kau pun sama saja, pedang tumpul mu sana sekali tidak berguna," balasnya.
"Monster ini tidak tergores sama sekali meski sudah menerima serangan berat, akan lebih baik kita bekerja sama," tukas Nova yang langsung membuat Arnoldi meliriknya dengan sinis.
"Apa kalian sudah lelah? sampai meminta untuk bekerjasama dengan kami?" sahut Arnoldi.
"Bukankah kau sudah melihatnya? sihir dan serangan fisik tidak berdampak padanya, apa kau tidak menyadari itu?" balas cepat Nova.
Arnoldi tidak bisa memungkiri itu, ia tidak mampu menangani monster ini hanya dengan bantuan rekannya saja.
Disela kondisi sulit, secara diam-diam Aqynanta mengumpulkan tenaga dan memasang kuda-kuda dalam posisi hendak menyerang.
Gio dan Nova berusaha mengulur waktu sampai Nanta siap untuk menyerang, mereka berdua menahan monster itu mati-matian.
"Kuharap ini berhasil," batin Nova.
Soul weapon berwujud long sword milik Nova mengeluarkan aura biru pekat, dengan satu kali tarik nafas ia berkonsentrasi pada bilah tajam pedangnya.
Matanya menyala biru tengah mencari celah dari pertahanan musuh.
"Dia pasti akan jatuh jika kutebas matanya."
Tubuh Nova memancarkan energi hebat sampai membuat Arnoldi nyaris berlutut, ia maju dengan kecepatan tinggi dan mengarahkan tebasan nya tepat ke arah mata monster itu.
Sringgg.....!!!
Tebasan berkecepatan tinggi menerbangkan segala objek disekitarnya.
Nova kembali menyarungkan pedangnya setelah melakukan tebasan kuat itu.
"Apa aku berhasil?"
"GRAAAAA....!"
Monster mengerang dahsyat, tebasan Nova berhasil membutakan mata kirinya.
Kini monster itu mulai membabi-buta karena rasa sakit, lekas Arnoldi menyiapkan sihir summon pada momentum ini.
"Keluarlah yang tak tergoyahkan, silver golem."
Arnoldi merapal mantra pemanggil, muncul dari dalam tanah sesosok raksasa perak bertubuh kekar yang langsung menahan monster itu dengan tangan besarnya.
Gio melihat kesempatan untuk menyerang, ia memutar kencang kapaknya dan langsung menebas tubuh monster itu sekuat tenaga.
"Akan ku hancurkan kulit kerasmu itu."
TRAAANG....!
Serangan keras Gio berhasil menghancurkan kulit bagian punggung monster itu, membuka sebuah celah yang menjadi satu-satunya kelemahan.
Disaat yang bersamaan Nanta sudah selesai dengan persiapannya, energinya sudah terkumpul maksimal dan ia siap menebas.
"Sudah berakhir, monster itu sudah tamat," batin Nova.
"Tidak pernah ada monster yang selamat dari Wind Blade milik kak Nanta," lanjutnya.
Nanta secara mendadak menghilang dari pandangan disertai datangnya angin dahsyat yang menerpa kuat, terdengar suara tebasan yang begitu tipis disertai kemunculan Nanta yang kini berada tepat dibelakang monster itu.
Si monster terdiam kaku sebelum akhirnya ia berubah menjadi potongan-potongan daging berbentuk dadu kecil.
Semua terdiam melihat aksinya yang mengagumkan.
Arnoldi sendiri tidak menyangka hasilnya akan seperti ini.
"Yang benar saja, ini mengerikan," ucap Arnoldi.
"Jadi bagaimana? masih meremehkan kekuatan fisik?" sindir Nanta.
Arnoldi hanya bisa terdiam dan mengakui.
Nova sangat senang karena masalah ini telah tertangani dengan baik tanpa ada korban jiwa, ia juga kagum terhadap kakak kandungnya itu.
Bilah pedang Nanta yang bersimbah darah menjadi bukti ketangguhan seorang ksatria pedang terkuat di kebangsawanan Seis.
"Aku harus segera membasuh pedang ku, lekas hubungi orang-orang yang bertugas menyingkirkan bangkai monster," perintah Nanta.
"Baik kak," balas Nova.
Pada momen ini, seorang Arnoldi merasa begitu malu.
Ia merasa sangat gagal sebagai seorang ahli sihir, sementara Nanta beranjak pergi dengan penuh rasa bangga.
"Sial...!"
Batin Arnoldi sambil memukul-mukul tanah.
"Kuharap bocah itu bisa memetik hikmah dari semua ini," ujar Nanta.
"Kesombongannya berakhir memalukan, rasa malu itu adalah hukuman yang pantas untuknya," sahut Gio.
"Masalah selesai, kita harus segera melaporkan ini kepada pimpinan."
Para ksatria Seis hendak beranjak dari lokasi pertarungan mereka.
Namun....
"Tunggu dulu," ucap Nova mendadak.
"Ada apa?" tanya Nanta, bingung.
"Entah mengapa, aku merasakan firasat buruk," jawab Nova.
"Apa maksudmu?"
Nanta sama sekali tidak mengerti.
"Komandan Nanta, lihat...!'
Gio berteriak secara tiba-tiba seraya menunjuk ke suatu arah.
Rupanya potongan-potongan daging dari monster itu bergerak dengan sendirinya.
Perlahan potongan-potongan daging itu kembali menyatu membentuk sosok monster yang sebelumnya telah dikalahkan.
Sontak saja ini menimbulkan rasa tercengang untuk semua orang yang menyaksikannya.
"Mustahil," ucap Nanta.
Monster itupun kembali utuh seperti semula, ia mengaum keras dan memandang ke arah para ksatria.
Tatapan matanya kali ini begitu berbeda dari sebelumnya.
Nanta kembali menghunus pedangnya dan bersiap untuk babak kedua, kali ini ia merasa begitu kesal.
"Monster ini benar-benar membuatku muak."
Bersambung......