He Is Cha Siwon.!

He Is Cha Siwon.!
88



Tristan benar benar membuatku khawatir, ini sudah hari ke tujuh...


Kenapa sampai detik ini dia tidak menelponku juga..?


Rasanya aku ingin pergi ke apartemen tristan saja.


Tapi, demi kebaikan dia aku rela menahan rasa rindu ini, aku harus kuat menahannya.


Rindu... aku sangat rindu.


Aku seperti orang bodoh karena merindukan tristan. Aku menjadi uring uringan sendiri dari saking rindunya.


Tiba tiba handphone ku berdering, dengan cepat aku meraih ponsel yang sejak tadi memang tak pernah jauh dariku.


Dan benar saja...kulihat nama Tristan di layar handphoneku, Aku langsung duduk dan dengan cepat menekan tombol berwarna hijau.


" Hallo.." sapaku dengan semangat, sudah seminggu aku tak mendengar suara indahnya.


" Kau merindukanku?" Tanyanya di seberang sana.


Dia sedang menggodaku.


" tidakkah kau bertanya kabarku dulu?? " tanyaku.


Kudengar tristan sudah tertawa, dan aku sangat bahagia mendengar suara tawa pria itu.


" Apa kabarmu sayaaang....? Aku sangat merindukanmu.." ucapnya, Aku pun menjadi senyum senyum sendiri setelah mendengar kata merindukan aku.....


" Kau tau.. seminggu terasa bertahun tahun bagiku " Tambahnya lagi.


Rasanya pipiku memanas setelah mendengar ucapannya barusan, suara tristan seperti seseorang yang sudah sangat menantikan hari ini.


Entah kenapa rasanya seperti pertama kali aku jatuhnya padanya, rasanya sangat malu saat mendengar ucapan mesra dari tristan.


" Aku juga sangat merindukanmu " jawabku,Yang tanpa sadar sudah memeluk erat guling di sebelahku.


" Kau tak akan turun? " tanya tristan tiba tiba. aku masih terdiam mencoba mencerna pertanyaan tristan, Aku tak yakin kalau tristan sedang disini sekarang.


" Maksud kamu? " tanyaku ragu, aku tau dia sangat suka menggoda diriku ini.


" Apa kau tega membiarkan aku menunggumu di luar sini?" tanyanya lagi.


Aku pun langsung beranjak dari ranjangku dan berlari menuju jendela, dan benar saja.. aku bisa melihat pria itu sudah berdiri di luar sana.


Aku pun loncat kegirangan tanpa pikir panjang, aku langsung berlari keluar dari kamar dan dengan sangat lihai menuruni anak tangga.


Aku langsung membuka pintu dengan sangat tergesah gesah, bahkan aku sudah tak peduli dengan diriku yang hanya memakai dress rumahan sepaha.


Dan aku bisa melihat tristan sudah disana berdiri di sebelah mobilnya.


Ia memakai Tshirt hitam dan celana jeans se paha.


Sesederhana itu...


Wangi Khas maskulin dari tubuhnya berhasil masuk dengan leluasa ke rongga hidungku, Aku sangat rindu pria ini, aku sangat merindukan tubuh hangat ini, aku benar benar tak bisa sehari saja tanpa mendengar suaranya.


" Kau sangat merindukanku kan?... bahkan kau tak membiarkan aku bernafas dengan leluasa" goda tristan.


Aku pun juga sudah tak sadar kalau sudah meremas tubuh tristan.


Ya Tuhan... aku menyesal telah membuat perjanjian bodoh dengannya.


" Ajak aku masuk dulu dong.." pinta tristan.


Aku pun menarik tangan tristan membawanya masuk kedalam rumahku.


Sampai di dalam, aku langsung memeluk tristan tanpa melepasnya sedetik pun, entah kenapa rasanya aku sangat tak ingin jauh dari pria ini.


Dan tiba tiba tristan sudah meraih dagu mungilku, tanpa pikir panjang ia sudah ******* dengan lembut bibir ini.


Hangat..


Rasanya sangat hangat dan manis, entah kenapa rasanya bibir tristan begitu manis, membuat aku tak ingin melepaskannya.


semakin lama ciuman ini semakin menuntut, suara decapan yang semakin keras, suara hembusan nafa yang tak beraturan...


Aku... aku sudah hilang Akal...


Namun... tiba tiba tristan menghentikan ciumannya, lalu ia memilih untuk memeluk diriku dengan sangat erat.


Aku merasa kecewaa...


entah kenapa rasanya aku ingin hal yang lebih terjadi.


"Maafkan aku Al... aku hampir saja melupakan perjanjian kita.. " ucap tristan pelan.


Deg.


Seperti ada sesuatu yang menikam jantungku.


Aku yang membuat perjanjian tapi aku yang melanggar


Aku pun menarik tangan tristan agar duduk di sofa.


Dan jujur saja.... Aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.


" Jadi ... gimana kuliah kamu?" tanyaku basa basi.


" santai aja boss.... aku sudah siap mengajukan skripsi " jawabnya dengan penuh semangat.


Aku tau itu.. meskipun kau terlihat sangat berandal, tapi kau adalah pria yang sangat cerdas


Sebentar lagi.... kita akan bersama, tanpa ada batasan antara kau dan aku.


kau harus semangat tristan.