He Is Cha Siwon.!

He Is Cha Siwon.!
Faktor Usia kah?



Setelah sampai dirumah, mama menyambut tristan dengan sangat hangat, mama juga langsung membawakan handuk untuk tristan, mama membawa tristan masuk kedalam kamar arka yang tepat di sebelah kamarku,


Dengan malas aku mengikuti mama yang terus bersikap sok ramah kepada tristan, aku langsung masuk kedalam kamarku, lalu aku menghangatkan air dan cepat cepat mandi, Rasanya enak banget,


" AL.. Mama sama papa mau pergi ke pesta ulang tahun om ardi, mungkin mama pulang malam, tolong bujuk adik ipar kamu supaya menginap disini malam ini.. " kata mama.


Ya aku liat mama sudah memakai gaun pesta tadi, aku tak menjawab apapun.. Aku masih sangat sibuk menikmati hangatnya air ini.


Setelah beberapa menit, aku sudah keluar dari kamar mandi, aku kaget melihat tristan yang sudah duduk dan memainkan komputer ku.


" hei.. Tunggu..!!! "


Aku sudah berlari menghampirinya, dengan cepat aku merampas mouse komputer bututku,


Ini adalah privasiku, dan aku juga sudah banyak menyimpan film film pemuas otak nakalku.


Tiba tiba ada yang aneh, aku merasa sesuatu sedang mengendus endus leherku, dan aku baru sadar posisi tak nyaman ini sekarang, aku sudah membiarkan tristan menciumi leherku, dan aku masih memakai handuk.


Dengan cepat aku ingin menghindari tristan, tapi tristan sudah menarik tanganku hingga aku sudah terduduk di pangkuannya,


Jantungku seperti berhenti berdetak sekarang,


Bagaimana ini..


Dan sedetik berikutnya, tristan sudah melumat bibirku dengan sangat lembut, ya tuhan.. Bibirnya sangat hangat hingga aku tak kuasa untuk menolaknya, aku sudah melingkarkan tanganku di lehernya, betapa bodohnya aku yang begitu saja menerima ciuman tristan,


Aku juga sudah mulai mengikuti irama bibir tristan, dan aku juga sudah melumat lidah tristan..


Ya Tuhan apa yang aku lakukan? Aku sudah pasrah...


Nafasku sudah terengah engah, aku kehabisan nafas,


Tristan menghentikan ciumannya.


Dia tersenyum melihatku, wajahku sepertinya sudah seperti udang rebus,


Aku langsung berdiri dan menghindarinya, dengan cepat aku mengambil bajuku di lemari lalu memabawanya kedalam kamar mandiku.


Jantung ini, beraninya dia berdebar sekencang ini..? Aku takut tristan akan mendengar degub jantung ini,


Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku menerima ciumannya. ? Apakah aku sudah ketagihan karena sudah merasakan ciuman yang sebenarnya?


Huaah.. Jantungku.. Ada apa dengan jantungku ini?


Apakah sudah rusak hingga harus terus berdegub seperti ini...


Aku masih menyentuh bibirku ini, masih terasa sangat jelas bekas lumatan bibir tristan, ini sudah kedua kalinya aku berciuman dengan tristan, Ya Tuhan.. Apakah masih akan terjadi ciuman ketiga, ke empat.. Atau yang lainnya? Bukankah seharusnya aku berciuman dengan kertha,? Kenapa aku malah dengan suka rela menerima ciuman tristan yang sangat lembut ini..


Aku sudah keluar dari kamar mandi, dan ternyata tristan sudah tiduran di kasurku, eh.. Tunggu itu kasurku.. Seharusnya dia tidur di kamar arka kan?


Aku menggoyangkan tubuh tristan, tapi bocah ini tak bergeming, apakah semudah itu dia tertidur? Tapi kenapa wajahnya tak terlihat seperti orang yang sedang tidur nyenyak.


Otak usilku muncul, aku sudah menutup hidung mancungnya, dan tentu saja dia sudah tak bisa bernafas,


Aku sudah tertawa dan terus mencubit hidungnya.


Dan tiba tiba saja tangannya sudah meraih tubuhku hingga aku jatuh terpental di sampingnya.


Dan kini tristan sudah memeluk tubuhku dengan erat.


" tan.. Lepasin. Nanti ketahuan mama. " kataku sambil mencoba melepaskan pelukannya yang sangat erat,


" tante udah berangkat ke pesta, " katanya,


Dan dengan cepat dia melumat bibirku lagi, aku semakin kaget di buatnya, dia terus menciumiku hingga aku tak bisa bernafas dengan leluasa,


Tunggu, tangannya sudah *** payudaraku dan aku sudah semakin lemas karenanya...


Tubuhku sudah seperti terkena setrum, rasa hangat menyelimutiku, aku menikmati setiap sentuhannya...


" aaahh... "


Oh my gosh..


Entah kenapa aku sudah mendesah sekarang, ciuman ini semakin panas, dan aku membiarkan tristan yang sudah *** payudaraku,


Tangannya sangat lembut, dengan mudahnya dia mengeluarkan payudaraku dari bungkusnya, dan kini dia sudah melumat ** ku...


Haaah..!!!! Tidak.. Kenapa jadi begini? Tidaaak.. Ini tak boleh terjadi..


Aku mendorong tubuh tristan sekuat tenagaku, dan kini tristan sudah menghentikan kegiatannya,


Jantungku sudah berdetak tak karuan, sebenarnya aku agak tak rela dia menghentikan kegiatannya, tapi entah kenapa aku jadi ingat kertha sekarang


" maaf kak.. Aku.. Aku kebawa suasana, kakak terlihat cantik banget sekarang "


Kata tristan,


Dan kini dia sudah keluar dari kamarku,


Apakah cuaca hujan seperti ini membuat hormon ku naik? Kenapa aku pasrah saja di perlakukan seperti itu?


Apakah faktor usiaku ini, hingga aku menikmati sensasi seperti ini?


Astaga... Betapa tololnya aku.