
Aku tak bisa mengangkat kepalaku, aku tak berani menatap wajah mama tristan, tiba tiba saja aku menjadi terdiam dan tak bisa bergerak.
" Ma.. sesuai janji tristan, tristan bawa Al kesini lagi "
Eeeh tunggu? sesuai janji? apakah tristan juga sudah cerita ke mamanya?
belum sempat aku berfikir lagi tiba tiba saja aku sudah mendapatkan pelukan hangat dari mama tristan.
entah kenapa aku jadi menangis begitu mendapatkan pelukan hangat dari mama tristan.
Rasa hangat dan tenang sama seperti saat pertama kali aku bertemu mama, aku juga masih belum bisa memahami sejak kapan wanita ini menjadi sangat berarti dalam hidupku, dalam sekajap aku sudah menganggap wanita yang sedang memelukku ini sebagai ibuku sendiri.
" Dasar anak Nakal.."
Tante mencubit pipiku dengan sangat keras, dan aku sedikit kaget karena sepertinya tak pernah terjadi kekacauan sama sekali.
Ya Tuhan.. sekali lagi aku beruntung, aku pikir aku akan mendapat tamparan keras karena sudah membuat masalah waktu itu, aku juga merugikan kedua keluarga karena aku kabur, tapi entah kenapa semua menjadi di luar nalarku.
dan kali ini mama tristan menjadi semakin terlihat kalau selama ini beliau sangat merindukanku.
" Kenapa kamu melakukan semua ini hah..? harusnya kamu bilang kalau tak mau menikah dengan si anak angkuh itu " kata mama tristan yang masih memegang erat tanganku, beliau juga sudah membawaku duduk di sofa, aku yang masih shock terus menatap heran.kearah tristan yang hanya menjawab dengan senyumannya saja.
Gila... harusnya aku tak seberutung ini, ini sangat tidak masuk akal kan..?
" Mama kangen banget sama kamu, setelah kamu pergi mama jadi gak enak makan, apalagi saat mama tau kamu sedang hamil dan..."
Deg.
jantungku seperti berhenti berdetak, mama tristan juga sudah tau kalau aku hamil.
" kamu gak apa apa kan sayang..? mama bisa merasakan bagaimana sakitnya kehilangan calon anak.. seharusnya tristan membawamu pulang saat kamu sudah di temukan " Kali ini mama tristan sudah menangis dan memelukku lagi.
Dan memang benar....
Banyak hal yang tidak aku ketahui selama tiga bulan ini.
-
-
-
-
Tiga bulan yang lalu.....
pov.tristan
Saat semua orang menerima kabar hilangnya Al, aku merasa bersalah di dalam apartemenku sendiri, dan aku merasa sangat menyesal dengan semua yang sudah aku lakukan
Tiba tiba hapeku berdering, dan kulihat nama Arka di layar handphoneku.
" hallo Ka.."
" dimana elo sekarang?"
Aku merasa ada yang aneh dengan perkataan arka yang tidak seperti biasanya.
" di apatemen gue Ka "
Untuk pertama kali arka menjadi sangat emosi, dia sudah tau segalanya wajar saja dia akan bersikap seperti itu.
tapi aku benar benar tidak tau kemana kak Al pergi.
" Jangan jadi ********.. kalo elo beneran cinta sama kak Al, elo harus jujur pada semua orang.! jangan melakukan hal bodoh seperti ini..!" teriak arka lagi
" gue beneran gak tau kemana kak Al pergi. sepertinya.. dia sudah sangat benci gue ka, semalem gue sama kak Al sampai jam 2 siang dan seterusnya dia sudah pulang , dan dia juga sedang marah .. "
" *** lo.. Damn..!! Anjing !! " maki arka
" maafin gue ka.. gue serius.. gue gak main main sama kak al "kataku pelan.
Arka sudah mematikan teleponnya tanpa mau mendengarkan lagi penjelasan dariku .
" Maaf Al.. maaf maaf maafin gue Aaalll..."
dan kali ini datang masalah baru lagi, Bang kertha mendengar semuanya.
Bang kertha sudah berjalan mendekatiku dan tentu saja...
bang kertha sudah memberikan bogem mentah ke wajahku.
itu sangat sakit.
" jadi setelah pesta elo yang bawa dia hah..!!?" teriak bang kertha, dan lagi di membogem wajahku.
dan samar samar aku mendengar mama berteriak.
" hei..!! apa yang kalian lakukan !!"
" Brengsek...Lo apain dia hah..? dia calon istri gue anjing "
kali ini bang kertha mengangkat tangannya lagi, tapi bisa ku tahan.
" gue tidur sama dia "
dan sekali lagi bang kertha memberiku bogem mentah.
" bang kertha bilang dia calon istri abang? tapi apa yang abang selama ini lakukan? abang tak bisa mengerti Al, abang hanya sibuk perhatian sama tasya kan..! "
" Bugh..!" satu bogeman berhasil kulayangkan ke wajah abangku ini. dan sekali lagi kejadian saat aku masih SMA terjadi... tapi kali ini aku yang merebut wanita bang kertha.
dan kami saling memberi bogeman satu sama lain, dan aku merasa puas karena bisa memukul bang kertha seperti ini, bahkan mama tak menghentikan kami, seakan akan ingin terus menonton adegan adu jotos antara aku dan bang kertha.
setelah merasa lelah dan darah segar sudah mengalir di dahi dan juga mulut kami.
" kali ini.. bang kertha harus mengalah " kataku dengan suara ngosngosan.
" enggak bisa.. abang juga sudah mulai jatuh cinta sama Al " jawab bang kertha yang sudah mengelap darah bibirnya.
" abang sudah punya tasya... dan sebentar lagi kak Al juga bakalan hamil, bagaimana pun bang kertha tetap harus mengalah " jawabku dengan santainya. bahkan aku gak peduli saat mama dan papa mendengar perkataanku.
" Dasar anak sialan.. apa yang sudah kamu lakukan pada wanita polos itu hah? apa mama mengajari kamu berbuat seperti ini? bagiamana kalau al tak kembali hah? bagaimana kalau dia melahirkan sendiri? ayoo cepat bangun... jangan pernah kembali sebelum kamu menemukan Al..."
Kata mama sambli terus memukul aku, dan kali ini mama sudah menangis lagi.
" Ya Tuhan... Apa yang harus aku lakukan? kasihan Al pergi tanpa menyadari keadaanya,bagaimana bisa aku membesarkan anak seperti mereka ini, kenapa anakku menjadi penjahat " kata mama sambil menangis lagi.