He Is Cha Siwon.!

He Is Cha Siwon.!
85



" PRAANG..!! "


Tasya melempar semua alat make up dari meja riasnya, ia kembali menangis menyesali apa yang sudah ia lakukan.


kalau saja ia tak mendekati kertha mungkin dirinya sudah menikah dan hidup bahagia bersama tristan. bertahun tahun ia mendekati kertha hanya untuk lebih dekat lagi dengan tristan, namun apa yang terjadi sekarang? dirinya malah kehilangan keduanya.


Siapa bilang tasya tidak tahu apapun tentang kehidupan kertha? tasya benar benar sudah mengetahui semua itu bahkan dirinya juga pernah bertemu dengan wanita simpanan itu.


semua terasa sangat tidak adil sekarang, satu persatu semua orang akan pergi meninggalkannya, hidupnya pun sudah tak berarti lagi semenjak ia menerima lamaran kertha.


Andai saja waktu bisa ia putar, rasanya ingin sekali ia kembali ke masa SMA dulu, ia ingin memperbaiki beberapa kesalahan yang ia lakukan dulu.


dulu tristan adalah pria egois dan pemarah bahkan bisa di bilang tristan adalah pria pencemburu yang berlebihan hingga membuat dirinya tidak tahan dengan sikap sok mengatur tristan, lalu kehadiran kertha yang perhatian dan lembut membuat kenyamanan di dalam hatinya, bahkan ia dengan senang hati menerima perasaan kertha tanpa memikirkan perasaan tristan sedikitpun.


Aah.. kenapa ia harus se bodoh ini?


beberapa bulan setelah menjalani hidup sebagai seorang istri, ia belum pernah merasakan keindahan dalam hubungan suami istri, kertha hanya marah setiap pulang dari kantor, kertha hanya memaki setiap meminta sesuatu yang masih ia cari.


kertha berubah semenjak pulang dari pulau bali, kertha berubah semenjak wanita itu pergi, dan kali ini dirinya bukan siapa siapa lagi untuk kertha.


" Aku bodoh.." makinya pada diri sendiri.


ia masih menangis sambil meletakkan kepalanya di bagian meja rias.


Suara pintu kamar terbuka mengagetkannya, ia langsung mengangkat kepala dan melihat kearah pintu.


ia bisa melihat seorang pria yang dulu sangat lembut dan penuh perhatian kini menatapnya dengan tatapan tidak suka.


" Kau sangat suka membuang uangku " katanya setelah melihat beberapa alat make up berserakan, kertha menatap tasya dengan ekspresi datar.


tasya bisa melihat rahangnya sedikit mengeras, sepertinya pria itu menahan emosi padanya.


" kau tau.. aku bosan dengan semua ini, aku bosan pura pura bahagia saat bersamamu " kata kertha lagi sambil membuka dasinya dengan kasar.


tasya berdiri,rasanya ia juga ingin menunjukkan padanya kalau selama ini hidupnya lah yang paling membosankan, bahkan ia bingung bagaimana caranya agar ia tak se hampa ini, bahkan kini ia sudah tak peduli dengan uang kertha yang sudah tak ingin ia sentuh lagi. Tasya sangat benci hidupnya yang seperti ini.


" Aku sudah kalah dari adikku sendiri, aku sudah tak perlu merawatmu lagi" katanya lagi


kenapa ia malah ikut ikutam menyukai wanita yang awalnya sangat ia benci.


Gadis itu terlalu polos dan tak punya pengalaman sama sekali, bahkan.wanita itu sangat kasar dan pemarah.


tapi entah kenapa saat gadis itu tersenyum membuat dirinya merasa senang, bahkan ia merasa sangat ingin memeluknya saat melihat gadis itu menangis.


hatinya luluh pada seorang wanita polos, dan bodoh.


kenapa harus terlambat menyadarinya? kenapa harus terlambat..?


andai saja dulu ia menerima dengan tulus perasaan Al dulu mungkin tak akan se terpuruk ini.


bahkan dirinya pun sudah lelah menjadi pria ********.


" kau pikir aku tidak lelah..?"


Suara tasya membangunkannya dari lamunan, entah kenapa ia merasa kesal mendengar suaranya saja.


" aku juga lelah, aku lelah pura pura mencintaimu selama ini, aku lelah sok peduli dan manja padamu,aku lelah.. kau pikir aku mencintaimu hah..?? aku tak pernah mencintaimu kertha... tidak pernah..!! aku hanya ingin lebih dekat dengan tristan, aku hanya ingin kembali padanya.. tapi entah kenapa semuanya jadi seperti ini.."


suara tasya menjadi semakin pelan, sepertinya ia sudah tak kuat dan ingin menangis...


biarlah saja ia hancur sekalian.. bahkan meskipun ia bebas dari kertha ia tak akan menjadi baik baik saja...


yang ada hidupnya akan semakin hampa.


" kau memang wanita licik."


kertha menatap tajam kearah tasya,namun itu tak membuat tasya takut malah kali ini tasya sangat menantang.


ia bosan... dirinya benar benar sangat tak kuat dengan kehidupan orang kaya seperti ini.


" ceraikan aku "


ucap tasya setelah beberapa detik terdiam, dan tentu saja Kertha langsung melihat kearah tasya dengan tatapan dinginnya.