He Is Cha Siwon.!

He Is Cha Siwon.!
86



" ceraikan aku..! " teriak tasya setelah beberapa detik terdiam.


kertha yang mendengar itu langsung menatap tajam kearah tasya.


ini bukan pertama kali kertha menatapnya seperti ini, tasya sudah tak takut lagi dengan tatapan dingin kertha, ia sudah muak dengan pria yang tak bisa memahami perasaan seorang wanita, tasya juga sudah bosan dengan hidupnya yang tak berjalan sesuai keinginannya.


" kau ingin bercerai..?" tanya kertha seakan tak bisa mendengar dengan jelas


" ya.. aku ingin bercerai sekarang juga, apa gunanya aku disini sekarang? kau tak pernah berprilaku baik selama aku disini.. kau pikir aku suka dengan semua yang kau berikan? aku bahkan sudah bosan dengan uangmu, aku tidak butuh kehidupan mewah seperti ini, aku sudah punya segalanya... aku hanya ingin bahagia itu saja.." ucap tasya dengan lancarnya, dia bahkan sudah tak peduli lagi dengan sifat kasar kertha.


kertha yang tadinya sudah duduk di kasur empuk itu kini berdiri dan berjalan dengan penuh kemarahan kearah tasya, lalu ia kembali meremas rahang tasya dengan kuat, tasya meringis merasakan sakit.


" baiklah..ayo kita bercerai... tapi kau harus membayar semua yang sudah aku berikan padamu.." kata kertha dengan amarahnya, lalu ia mendorong tasya hingga wanita itu tersungkur ke lantai.


kertha mengambil handphonenya lalu menekan nama sekertaris pribadinya.


" Riyan... tolong berikan aku surat perceraian besok pagi, kau harus mengantar kerumahku besok pagi."


kertha mematikan sambungan telepon tanpa mengetahui jawaban sang sekertaris.


lalu ia kembali mendekati tasya yang masih menangis antara sakit dan juga menyesal.


kertha menarik paksa tangan tasya, dan tentu saja itu sangat menyakiti tangan tasya.


" sakit tha... aku mohon lepaskan " pinta tasya.


namun kertha tak peduli ia malah mendorong tasya ke ranjang dengan sangat kasar.


tunggu, apa yang akan ia lakukan sekarang.?


Tasya merasa takut saat ia sudah terlempar keatas ranjang, tentu saja ia sangat takut karena selama ia menikah dengan kertha ia belum pernah melakukan hubungan suami istri.


" kertha.. apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya tasya, ia merasa takut saat tiba tiba kertha sudah membuka kemejanya sendiri.


" apa kau masih ingat... kapan terakhir kita melakukan hubungan intim?" tanya kertha yang masih mencoba melepas kemejanya dengan paksa.


dan kali ini tasya mencoba mengingatnya, yang ia ingat hanya saat liburan di bali bersama tristan itu saja, bahkan selama menikah pun kertha tak pernah menyentuh dirinya.


" sepertinya kau sudah ingat, dan kali ini aku tak ingin merasa rugi karena sudah menikahimu.." kata kertha, ia sudah mulai meraih dagu tasya.


dengan cepat tasya memalingkan wajahnya, entah kenapa hanya takut yang dia rasakan.


kertha mendekatkan wajahnya ke wajah tasya, namun tasya mengelak dengan cepat.


tapi tangan kertha meraih dagunya lagi dengan kasar.


tasya bisa mencium aroma alkohol di tubuh kertha.


kertha menahan tangannya agar tasya tak bisa menolaknya lagi, ini sangat menakutkan.


dan sedetik berikutnya, kertha sudah meraup habis bibir tasya dengan sangat kasar.


dan saat itu juga tasya menangis.


apakah harus seperti ini..?


selama satu tahun aku menikah dengannya, inilah pertama kali ia menciumku, inilah pertama kali ia menyentuhku.


andai saja kau bersikap lebih baik padaku, mungkin aku bisa merubah perasaanku terhadapmu.


mungkin.. aku sangat egois karena mengharapkan cinta tristan.


tapi hanya kesepian yang ada di dalam hatiku.


andai saja kau bersikap lebih baik lagi...


bisa saja perasaan untuk tristan akan ku ganti untukmu...


hanya saja.. kau terlalu sibuk dengan cinta yang baru saja kau rasakan.


kau terlalu sibuk dengan kesenanganmu sendiri tanpa pedulikan aku...


tapi kali ini...


mungkin akan kuterima apa saja yang kau lakukan..


karena ini akan menjadi akhir dari hubungan ini.


Tasya menangis bersamaan dengan sentuhan kasar yang kertha lakukan, bahkan kali ini ia mencoba menerima hubungan intim yang pertama ia lakukan selama dalam ikatan pernikahan.