
Dan akhirnya..
Aku masih menjalankan misi yang tristan berikan, aku juga sudah terbiasa dengan heels, hubunganku dan kertha juga semakin maju..
Haha.
Aku juga sering keluar berdua saja sama kertha, meskipun hanya sekedar makan, dan pergi ke bioskop..
Aku berharap.. Semua ini lancar jaya.. Aku juga sudah tak sabar saat moment kertha akan meminta aku untuk jadi pacarnnya.
Sejauh ini.. Aku masih nyaman dengan hubungan ini..
Kertha sangat baik dan pengertian, dia juga sabar mendengarkan aku yang sudah terbuka sifat asliku,
1 bulan berlalu saat Aku dekat dengan kertha...
Malam ini, tristan menjemput aku yang habis jalan jalan ke taman hiburan, sebenarnya tadi kertha ingin mengantar pulang.. Tapi entah kenapa aku malah memilih menerima jemputan tristan.
Dan malam ini tiba tiba sudah turun hujan begitu deras, dan ini juga bukan pertama kalinya hujan.. Karena saat ini sudah masuk musim penghujan..
Aku menunggu tristan di bawah pohon, bajuku juga sudah basah kuyup.
Dan akhirnya. Mobil tristan sudah berhenti di depanku, tristan turun dan menghampiriku.. Dia memakaikan jaketnya untuk melindungiku dari air hujan.
" aduh.. Maaf kak.. Sampek kehujanan nungguinnya.. " katanya
" gak papa kok tan.. "
Aku sudah masuk kedalam mobil, akhirnya sudah tak dingin lagi..
" kakak pakek jaketku aja dulu.. "
Aku manut saja..
Lalu tristan melajukan mobilnya,
Entah kenapa saat hujan seperti ini membuat suasana di dalam mobil ini menjadi canggung.
" ke apartemenku dulu aja ya kak.. Udah deket kok.. Sekalian kakak keringin baju kakak dulu.. "
Aku pun hanya mengangguk saja.
Sampai di apartemen tristan,
Tristan membiarkan aku memakai kamar mandinya, dia juga diam di luar menungguku selesai.
Setelah mandi.. Aku bingung.. Aku mau pakek baju apa..?
Aku berinisiatif memakai kemeja putih milik tristan, tentu saja hanya ada baju seperti itu yang kulihat.
" kak.. Udah selesai..? "
Tanya tristan, dia sudah mengetok pintu kamar ini.
Aku mengintip dari dalam kamar, tristan tersenyum melihatku yang hanya mengeluarkan kepalaku saja.
" kenapa.? " tanya tristan, heran
Lalu tristan membuka pintu lebar lebar..
tentu saja aku takut tristan melihat aku yang hanya memakai kemeja ini.
Dan entah kenapa aku malah memeluknya.
" jangan lihaaaat.. "
Aku sudah memeluknya, tristan mengangkat kedua tangannya tinggi tinggi, mungkin dia takut untuk menyentuhku..
" kakak.. lepasin.. " katanya
Tapi aku masih menggeleng, dan malah seakan aku menikmati tubuh tinggi tegap milik tristan, badannya sangat hangat.. Wangi tubuhnya sangat segar, membuat aku semakin betah meneluknya..
Aku gak tau apakah aku sudah mencuri kesempatan sekarang, tapi aku beneran malu kalau tristan melihatku seperti ini.
" ah.. Kakak.. Aku gak akan tertarik dengan tubuh kakak.. Udah ah.. Lepasin. "
Oh ya tuhan..
Betapa bodohnya aku.. Lagian untuk apa aku malu sama bocah kayak gini..?
Aku sudah melepaskan pelukanku, dan ya.. Tristan hanya melihatku sekilas, dia benar benar tak berminat sama sekali denganku..
Yaaa... Secara.. Begitu Banyak cewek yang bertubuh lebih seksi dariku yang suka rela memamerkan tubuhnya pada tristan.
Dan aku sudah duduk di sofa bersamanya, ini sudah jam 10 malam..
Bajuku juga belum kering.
" anter aku pulang ya.. Aku gak nyaman kalo harus nginep disini.. "
" baju kakak belum kering, tunggu bentar lagi."
Aku merasa canggung saat hanya berdua dengannya, tristan memang sangat sedikit bicara, dia juga tidak terlalu terbuka seperti yang lainnya..
Tapi entah kenapa dia malah dengan baik hati membantuku untuk dekat dengan abangnya.
Sudah hampir jam 11, kami menghabiskan waktu dengan menonton tv bersama, sesekali aku melihat bajuku.. Apakah sudah kering atau tidak.
" udah hampir kering, entar lagi kita pulang ya"
Kataku,
sambil kembali duduk di samping tristan,
Kembali menonton tv, kau tau..
Adegan di televisi membuat susana semakin canggung, entah kenapa harus ada adegan ciuman saat hanya ada aku dan dia yang menonton.
Aku merasa malu sendiri, dan aku langsung mengganti channel tv.
" kok di ganti kak.? " katanya, seakan tak terima kalau aku sudah mengganti chanel tv.
" gak baik lihat ginian. " kataku dan masih mengganti chanel tv.
" kakak beneran belum pernah ciuman..? "
Pertanyaan tristan membuat aku terdiam seketika..
" aku bisa ajarin kakak cara ciuman yang benar, setidaknya kakak punya pengalaman saat ciuman sama abang kertha, kan gak grogi lagi.. " katanya.
Ah. Apa apa an anak ini.. Masak ciuman aja harus belajar..?
" sini kak.. Aku ajarin.. "
Tristan sudah mendekatkan wajahnya, dan entah kenapa aku sudah terdiam tak melakukan apapun,
Rasanya tatapan matanya sudah menghipnotisku.
Dan benar saja.. Bibir hangatnya sudah menyentuh bibirku, jantungku seperti berhenti berdetak, dan aliran darahku sepertinya sudah mendidih sekarang.
Tristan melumat bibirku perlahan, ya.. Dia melumat bibirku, aku tak tau apa yang harus aku lakukan, yang jelas.. Hembusan nafas hangatnya.. Aku sangat menyukainya.
Tristan menghentikan ciumannya, dia masih menatapku, aku sudah seperti orang bodoh, aku masih saja diam tak melakukan apapun..
Aku sudah terhipnotis olehnya..
" sekali lagi kak.. Kakak harus membalas kali ini, buka mulut kakak saat aku sudah melumat bibir kakak... "
Dia langsung meraih kepalaku lagi dan melumat bibirku lagi, dan kali ini aku sudah benar benar membuka mulutku sedikit..
Lalu trisatan dengan leluasa meraih lidahku dan memainkannya..
Ciuman ini berlangsung sangat lama.. Hingga aku hampir kehabisan nafas...
Aku sangat menikmati ciuman tristan, dia sangat lembut.
Dan aku sudah gila sekarang..
Aku membiarkan tristan dengan mudahnya mengambil ciuman pertamaku.