He Is Cha Siwon.!

He Is Cha Siwon.!
Musik berhenti



Al sudah berdiri tepat di hadapan tristan seperti biasanya Al selalu bersikap kikuk saat harus berhadapan dengan seseorang yang dia sukai, Al mendongakkan kepalanya agar bisa melihat dengan jelas pria yang amat sangat ia rindukan itu.


Sedangkan tristan menatap dingin wanita dihadapannya, entah kenapa tristan merasa sangat ingin mengerjai wanita ini, dalam lubuk hatinya tentu saja dialah satu satunya wanita yang sangat ia cintai, bagaimanapun wanita inilah yang kini sudah merobek habis hatinya karena kepolosannya, bahkan sifat polosnya itulah yang membuat tristan semakin ingin menjahili wanita ini.


" Apalagi? Bukankah aku sudah bilang jangan pernah muncul di hadapanku lagi " kata tristan sedingin mungkin,


Kini Al sudah menundukkan kepalanya, tatapannya yang tadi seakan menantang kini sudah menunduk, dalam hati Al ingin mengatakan semuanya tapi entah kenapa dia merasa sangat takut saat tristan mengatakan hal itu tanpa perasaan.


" Aku hanya ingin mengatakan kalau aku... Sangat mencintaimu tristan " kata Al yang kini sudah semakin menunduk dan meremas tangannya dengan keras.


" Apa? Aku tak bisa mendengar apa yang sudah kamu katakan, tak bisakah kau bicara lebih keras lagi? " tristan semakin mempermainkan perasaan Al, padahal dia bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja Al katakan.


Al membuang nafasnya dengan keras, ada rasa kesal saat ia harus mengulang perkataan yang dengan susah payah dia katakan, kau tau.. Tak semudah itu saat kau harus mengungkapkan perasaanmu tepat di hadapan pria itu.


Al menarik nafas lalu mengatakannya dengan sangat lantang.


" Aku mencintaimu tristan..!!! " teriak Al.


Deg.


Tubuh Al semakin lemas dan tak bisa bergerak, rasanya dia sudah menjadi satu satunya titik yang wajib di lihat, bagaimana tidak..??? Al mengucapakannya tepat saat musik di ruangan ini mati, dan yap.. Tentu saja suara nyaring gadis ini menjadi satu satunya hal yang wajib di dengar.


Suara bisik bisik terdengar jelas di telinga Al,


" dasar murahan"


" tidak tau malu "


" siapa dia? "


Dan bla bla bla lainnya.


Al semakin menundukkan kepalanya, betapa malunya dia kali ini, bahkan kini dia sudah menangis karena merasa sangat malu, dan kini hannah sudah berjalan mendekati Al lalu memeluk tubuh gadis itu, hannah merasa sangat kesal dengan sikap tristan kali ini. Betapa niatnya dia ingin mempermalukan seorang Al.


" gue udah bilang.. Jangan bodoh hanya karena pria seperti " kata hannah yang kini sudah membawa Al pergi dari hadapan tristan.


Rasa bersalah menyelimuti hati tristan, dan sepertinya dia sudah sangat keterlaluan, tidak tapi itu tidak di sengaja, dia tidak tau kalau musik akan berhenti saat Al akan mengeraskan suaranya.


Tristan sudah berlari mengejar Al yang sudah keluar dari ruangan ini, dan tristan bisa melihat Al masih di dalam pelukan hannah, mereka sudah berdiri di depan mobil hannah.


" Al.. Boleh kita bicara sebentar " kata tristan yang merasa sangat bersalah sekarang.


" jangan dengerin cowok brengsek itu, ayo kita pulang " kata hannah dengan sangat sinis.


" lo.. Jangan ikut campur " kata tristan lebih dingin lagi.


Hannah sudah merasa kesal dengan apa yang ia dengar barusan.


" sepertinya memang sudah tak ada yang perlu kita bahas lagi " kata Al yang kini sudah maju ke arah mobil hannah, namun tristan menarik tangan Al dan membawanya pergi,,


" wooy... Lo mau bawa Al kemana.. " teriak hannah yang kini sudah menutup pintu mobilnya dengan kasar.


" lepasin tan " Al mencoba melepas cengkaraman tangan tristan yang masih terus berjalan.


Hannah diam tak mengejar, dan sepertinya dia memang harus memberikan waktu untuk mereka berdua saja,


Tristan sudah membawa Al masuk kedalam mobilnya, lalu mobil tristan sudah melaju meninggalkan tempat parkir ini.