
Arka kembali membolak balik buku materi yang entah apa isinya, dia bahkan tak bisa fokus dengan mata pelajaran yang kini ia pelajari, entah kenapa otaknya masih saja memikirkan wanita yang semalam ia bawa, meskipun tak ada sesuatu yang spesial dari wanita murahan itu tapi entah kenapa wajah takut dan sedih wanita itu masih teringat jelas di dalam otaknya.
Arka tau kalau Hannah adalah milik bang kertha, Arka tau kalau hannah hanya bisa di gunakan oleh bang kertha, tapi entah kenapa arka merasa sangat tidak terima dengan perlakuan kasar bang kertha saat memaksa hannah untuk ikut bersamanya, hannah terlihat sangat takut dan tak ingin pergi bersama bang kertha,
" Shit..!!"
umpat arka sambil membanting buku buku yang sejak tadi hanya ia pelototin, pikirannya kacau hanya karena dia merasa tak terima dengan perlakuan bang kertha.
Arka mengusap kasar wajahnya, entah kenapa dia segelisah ini hanya karena memikirkan wanita seperti hannah, aah.. mungkin ini hanya sebuah rasa khawatir karena hannah sahabat sang kakak, dan itu sangat wajar kan? siapapun bisa membuat semua orang khawatir dadakan, Ya. seperti dirinya saat ini.
" ceklek.."
Arka langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar suara pintu terbuka, dan kini ia bisa melihat wajah sang kakak yang tersenyum penuh dengan kebahagian.
Arka tersenyum saat melihat Kakak perempuannya terlihat sangat bahagia, entah kenapa Arka menjadi sangat menyayangi sang kakak yang dulunya sangat menyebalkan untuknya, setelah kejadian sang kakak yang kabur karena tak ingin menikah itu membuat semua orang dirumah ini menjadi lebih perhatian kepada gadis ini , sebelumnya Al adalah wanita yang sangat tertutup dan sangat suka menyendiri sepertinya Al sangat tak suka bergaul, namun setelah 3 bulan kabur dari rumah ini suasana hati Al menjadi berubah drastis, Al menjadi wanita yang benar benar apa adanya dan seperti hidup kembali , meskipun sempat kembali menyendiri karena patah hati,
Tapi, Cinta selalu membuat semua manusia menjadi hidup..
dan itu terjadi pada Al.. sang Kakak.
" Kakak lagi seneng? " tanya arka .
sang kakak masih nyengir kuda dan langsung duduk di kasur empuk milik sang adik.
" hei bocah.. elo gak ada acara keluar gitu hari ini? " tanya Al sambil menaikkan satu alisnya.
" gak ada.. emang kenapa? " tanya arka balik.
" hmmm.. gak ada sih.. gue.. cuman pengen ikut keluar aja " jawab Al sambil mengangkat bahunya.
Arka tersenyum mengejek setelah mendengar jawaban sang kakak, siapapun juga akan tahu kalau dia sedang ingin keluar dan bertemu dengan seseorang.
Al langsung melotot mendengar ucapan Arka, namun dia tak memungkiri kalau perkataan sang adik itu benar, hari ini dia benar benar ingin bertemu dengan tristan, hari ini dia benar benar sangat ingin hanya berdua dengan tristan,
mungkin ini sangat kekakanakan, tapi entah kenapa rasanya Al selalu ingin berada di samping tristan, rasanya Al tak bisa menjauh sedetik saja dari tristan.
Apakah seperti ini cinta..?
" Enggak kok.. gue cuman mau ikut keluar sebentar trus lo tinggal gue di halte gitu juga gak papa kok.. gue cuman mau ikut keluar doang.."
dan entah kenapa cara ngeles Al terkesan sangat lebih kekakanakan lagi.
dan itu mampu membuat Arka tertawa sekerasnya.
" hahaha... kakak lucu banget ..!! sumpah..! emangnya kakak Itu masih SD apa? pakek alasan kayak gitu cuman pengen ketemu sama si tristan.. hahahaha.." kata Arka yang kali ini sudah ngakak sampek jungkir balik, Ya.Arka merasa sangat lucu mendengar perkataan polos sang kakak yang sepertinya memang sudah sangat merindukan tristan.
" oke oke.. gue anter kakak sampek apartemen tristan..hahaha.. sumpah kakak lucu banget..." kata Arka sambil mengusap air di matanya, kepolosan sang kakak membuatnya menangis karena tertawa.
" Gak lucu ..*****.. gue cuman malu aja mau jujur " jawab Al yang kini jelas saja sudah manyun.
tapi kali ini sang adik sangat pengertian, bahkan dia sudah sukarela ingin mengantarnya bertemu tristan.
" serius nih lo mau nganter gue kesana ?" tanya Al yang tak yakin dengan sang adik, Arka sudah mengangguk saja tanpa melihat kearah Al..
" Oke.. gue ganti baju dulu, sekalian elo aja yang ijin ke mama kalo kita mau ke apartemen tristan.." kata Al yang kini sudah semakin sumringah, dengan cepat Al bangun dari kasur empuk milik Arka,
Namun.. Al berhenti di tempat saat melihat mama sudah berdiri tepat di ambang pintu kamar Arka...
Deg.
Sepertinya Mama sudah mendengar semuanya.