
Al sudah naik keatas kasurnya bersiap untuk tidur besok juga sudah harus bekerja, tapi suara ketokan pintu membuat Al kembali membuka matanya, Al sangat yakin sahabatnya ini sedang ingin mengganggu tidurnya.
Al Berjalan dengan malas membuka pintu kamarnya, dan kini Al di kejutkan dengan sosok pria yang sudah berdiri tegap di hadapannya.
Tubuh Al terasa kaku tak bisa bergerak, Tristan sudah berdiri disana dan masih terus menatapnya, Al merasa canggung dan tak tau apa yang harus dia katakan untuk pertama kali. Antara ingin menangis dan marah.. Itu yang Al rasakan, sekuat tenaga Al menahan agar dirinya tak menangis, tidak apa apa.. Ini hanya sebuah pertemuan kau harus kuat Al.. Bertahan...
Tiba tiba tristan sudah memeluk tubuh mungil milik Al, Al semakin shock dengan perlakuan tristan yang sangat tiba tiba, Al sudah tak bisa apa apa, sekuat tenaga Al mencoba untuk tetap tenang saat bertemu dengan tristan, tapi hangat tubuhnya dan wangi parfumnya masih sama seperti yang dulu membuat Al merasa tenang setelah mendapatkan pelukan hangat dari pria ini, dan entah sejak kapan air mata Al sudah mengalir tanpa bisa ia tahan, Al menangis antara senang atau sedih dia pun tak bisa menjelaskannya.
" kamu baik baik saja..? " tanya tristan yang sudah melepas pelukannya, Al mengangguk dan sedikit heran karena tristan sudah tak lagi memanggilnya kakak.
" Kenapa? Kenapa kamu senekat itu? Kenapa kamu meninggalkan aku begitu saja.. Aku sangat merindukanmu Al.. " ucaap tristan, dan kini dia kembali memeluk tubuh Al,
Al masih berfikir keras kenapa tristan tak lagi memanggilnya kakak..??
Al mendorong tubuh tristan, al tak mau larut dalam perasaannya, Al tak mau kalah dengan perasaannya.
" kenapa? Apa kamu memaafkan aku setelah kejadian itu..? " tanya tristan yang membuat Al semakin ingin marah, tristan mengingatkannya kembali pada kejadian yang tak ingin dia ingat, meskipun dalam hatinya Al sangat merindukannya.
Tapi tristan menarik tangan Al dengan cepat hingga Al tertarik hingga ia menabrak dada bidang milik tristan,
" maksud kamu apa Al..? Sekarang kau sedang hamil anak aku, bagaimana bisa kami bilang tidak ada apapun di antara kita.. " kata tristan cepat, dan sedetik yang lalu Al lupa kalau dirinya sedang hamil anak dari tristan.
Ya Tuhan... Aku benar benar lupa kalau sedang hamil.
" kau tak akan bisa berbohong Al, ayo kita pulang Al.. Aku sudah cerita semuanya ke mama dan juga bang kertha, kita harus menikah.. " kata tristan, dan itu membuat Al semakin takut.. Al tak berani bertemu dengan mamanya yang keras kepala dan juga mama tristan yang sudah dia kecewakan, apalagi tristan sudah membongkar hubungan antara mereka, apa yang akan terjadi sekarang? Ini terdengar sangat memalukan, dia berhubungan dengan adik iparnya sendiri.
" enggak.. Lebih baik elo pergi sekarang " tolak Al yang kini sudah membuka pintu tempat tinggalnya.
" keluar. Pergi dari sini sekarang, aku gak mau liat kami lagi, aku gak mau kita ada hubungan apapub lagi " kata Al tegas, namun itu tak membuat tristan menyerah, sifat menyebalkan tristan memang tak pernah berubah,
" gak mau.. Aku akan tetap disini sebelum kamu pulang " tolak tristan yang sudah merebahkan tubuhnya di sofa. Al sudah merasa kesal sampai tak bisa berkata apapun lagi, semua ini salah hannah, ya... Semua ini karena hannah.