
Aku sudah pamit, mama kertha terlihat sangat sedih saat aku meninggalkan rumah mereka, aku gak tau apa yang mama kertha suka dari aku, aku bahkan bukan wanita yang cerdas, dan aku juga lebih terkesan tomboy, tapi mama kertha sangat menyayangiku, aku bersukur karena aku dipertemukan dengan mertua seperti beliau, setidaknya aku tak perlu bergosip tentang mertua kan..?
Tiba tiba mobil tristan berhenti di sebuah kafe, aku menatapnya sambil menaikkan alis.
" kita santai dulu kak, masak kakak udah mau pulang, "
Katanya seakan sudah tau apa yang akan aku tanyakan, dan aku setuju.
Aku sudah keluar dari mobil tristan, ternyata gerimis.
Aku sudah duduk di samping jendela, dan aku bisa melihat tetesan gerimis dari sini, jalanan sudah basah, cuaca dingin seperti ini membuat ada perasaan aneh dalam hatiku, entah kenapa jantungku berdebar debar sekarang.
" ini kak.. Teh melatinya "
Tristan menyodorkan teh padaku dan aku sudah menerimanya, tristan menyeruput kopi yang di pesannya, rambutnya sedikit berantakan, entah kenapa aku suka banget memperhatikan wajah imutnya itu, dia bener bener mirip banget sama siwoon, aku sampai tak bisa mengatur perasaanku.. Apakah aku sedang bersama siwon atau tristan, mereka seperti saudara kembar bagiku, ini sangat sulit di bedakan,
Lihat, tristan menjadi pusat perhatian disini, semua karyawan wanita curi curi pandang pada tristan, sedangkan tristan bersikap cuek dan tak peduli dengan orang orang yang sedang memperhatikannya.
" kak. Jangan liatin aku terus, nanti habis gantengku " katanya
Dan aku sudah tertawa sekarang, masa iya sih bakal habis gantengnya kalo diliatin mulu?
" dingin banget ya kak. " kata tristan dan aku hanya mengangguk
" elo jadi pusat perhatian tan.. " kataku,
Tristan langsung melihat sekeliling, dan dia hanya mengangkat bahu
" mereka sama kayak kakak.. Ngatain aku kayak siwon " katanya, aku bisa melihat ekspresi tak suka dari wajahnya...
" elo beneran mirip tau tan. " kataku sambil tertawa. Tristan terlihat semakin kesal.
Ternyata gerimis berganti hujan deras, dan kini aku sudah merasakan dingin menusuk tubuhku, aku juga sudah memakai baju tipis karena saran tristan tadi, iya sih kertha memang sudah tak berhenti menatapku, tapi itu tadi.. Dan sekarang aku sudah tak perlu menggoda kertha lagi kan? Sekarang aku sudah perjalanan akan pulang kerumah.
" sepertinya hujannya deres banget kak.. "
Kata tristan.
Dan tristan sudah mulai sadar dengan keadaanku yang kedinginan.
" kakak kedinginan? Ya udah kita pulang aja " kata tristan,
Lalu tristan beranjak menuju kasir,
Tristan sudah membayar kopi tadi, aku sudah berdiri menunggunya, lalu tristan merangkul tubuh mungilku ini, aku sedikit merasa hangat dengan pelukan tubuh jangkung tristan,
Kami berdua berlari menuju parkiran, tentu saja baju ku sudah basah kuyup.
Aku sudah masuk kedalam mobil, aku memeras pakaian ku agar tak terlalu basah, tristan juga sudah masuk kedalam mobil, Tshirt putih yang dia pakai juga terawang, aku bisa melihat kotak kotak di tubuhnya,
Tristan langsung melepas bajunya yang basah kuyup, aku langsung mengalihkan pandanganku, lagi lagi menjadi situasi sangat canggung saat aku sedang berdua dengan tristan, entah aku yang berlebihan atau bagaimana, aku selalu merasa tristan sedang menggodaku kali ini, tapi tanpa harus dia menggodaku aku sudah tergoda, tubuhnya yang tinggi, dan sixpack di bagian perutnya, mana mungkin wanita normal sepertiku tak tergoda.
" kak.. Kita langsung pulang atau ganti pakaian dulu? " tanya tristan,
Entah kenapa aku menjadi sangat kikuk sekarang, aku kembali mengingat kejadian saat hujan waktu itu, aku berniat mengeringkan bajuku kan? Tapi aku malah kehilangan ciuman pertamaku, huaaah sepertinya aku sangat berlebihan dengan situasi seperti ini.
" kakak ngeliat apa sih? "
Ya Tuhan.. Apa yang di lakukan bocah ini, kenapa dia mendekatkan tubuhnya padaku..? Jantungku sudah berdetak tak karuan, Ya Tuhan.. Aku hanya menghindari melihat tubuh seksinya, tapi kenapa dia jadi ikut ikutan melihat keluar?
Hembusan nafasnya membuat tubuhku ini panas, rasanya darahku sudah mendidih, aku tak tau sensasi apa ini, tapi yang jelas aku sudah sangat dag dig dug saat nafasnya menerpa bahuku.
Aku kaget saat tristan menyentuh bahuku.
" kakak.. Kok kaget sih cuman di pegang doang? "
Tristan merasa aneh dengan sikapku, dan aku hanya menggeleng.
" kita langsung pulang aja tan.. " kataku,
Tristan mengangguk menyetujuiku.
Ya Tuhan.. Ada apa denganku hari ini..?