
Waktu berlalu sangat cepat, setelah kejadian kertha menolakku dengan terang terangan, aku sudah mulai menjauh dari kertha dan juga mamanya,
tapi tidak dengan pria satu ini, tristan semakin menampakkan sikapnya yang sok perhatian padaku.
Kau tau? Dia meminta ijin ke mama untuk pergi liburan ke bali bersama kertha dan juga teman temannya, oh ya Tuhan..
Aku harus bertemu dengan kertha lagi karena ulahnya, dan kali ini alasannya adalah membuat kertha jatuh cinta padaku, yaah itu sudah tak mungkin terjadi karena kertha sangat mencintai wanita yang tak pernah di sebutkan namanya.
Akuu sempat bertanya pada tristan tentang wanita yang mereka rebutkan, tapi tristan selalu mengatakan kalau wanita itu tak pernah penting dalam hidupnya, dan tristan bilang kalau mamanya sudah sangat berlebihan saat bercerita.
Okelah.. Aku tau kalau tristan hanya menutupi masalalu nya padaku dan aku tak perlu bertanya lagi.
Selamat datang di pulau bali, pulau yang sangat asri dan subur, kau tak akan pernah menemukan gedung pencakar langit disini, kami menyewa sebuah villa untuk menginap seminggu ini,
Aku sudah menjatuhkan tubuhku di atas kasur empuk ini, rasanya nyaman sekali membuat mataku mengantuk, perjalanan membuatku lelah.
Tapi tiba tiba seseorang sudah masuk kedalam kamarku membuatku membuka mataku lagi.
Aku tak kaget dengan siapa yang sudah datang, si siwon sudah nyengir kuda saat melihatku.
Dan entah kenapa dia bersikap sangat manja padaku sekarang, dia sudah memeluk tubuhku yang masih terlentang di atas kasur.
Dan entah kenapa aku pasrah saja saat dia memelukku seperti ini, ada perasaan sangat tenang saat aku mendapatkan pelukan hangatnya.
" tristan.. Elo gak takut abang elo tiba tiba masuk? " tanyaku, dan dia hanya menggeleng dan mencium dahiku.
" aku sudah kunci pintu kamar kakak" jawabnya dengan santai, dan aku malah takut mereka bisa ngeliat dari kaca jendela yang besar besar ini, meskipun ini di dalam kamar tapi aku masih bisa melihat dengan jelas suasana di luar sana.
Belum selesai aku bicara tristan sudah melumat habis bibirku, tentu saja aku sangat kaget dengan perlakuannya kali ini, tapi entah kenapa aku selalu saja merasa tak masalah dengan semua ini, aku selalu menikmati perlakuannya yang seperti ini meskipun sebenarnya aku tau... Ini tak pernah benar.
Dan aku terus saja menerima perlakuan romantisnya.
" tan.. Udah.. "
Aku mendorong tubuh beratnya agar dia berhenti menciumku.
" kakak gak suka aku kayak gini? " tanyanya,
Aku tak bisa membaca pikirannya, dia tak menampakkan wajah kecewa atau hanya sekedar main main saja, tatapannya selalu saja tak bisa kumengerti.
" bukan.. Bukan gak suka.. Gue takut ada yang liat " kataku dan kangsung bediri, aku malah takut kalau aku melakukan hal lebih dari sekedar ciuman dengannya,
Bagaimanapun aku normal senormal normalnya...
Aku bisa saja khilaf saat bersama pria ganteng seperti dia, bagaimana kalau aku harus kehilangan keperawananku saat menikah dengan kertha nanti?
Aku takut semua itu akan terjadi.
Tristan memelukku lagi, kali ini dia memelukku dari belakang, dan aku bisa merasakan hembusan nafas hangatnya di bahuku.
" kak.. Gak papa kan aku seperti ini.. " katanya sambil menciumi leherku, aku tak mengerti dengan apa yang dia katakan, yang jelas aku sangat menikmati saat berdua dengannya.
Aku juga tak tau apa yang sudah aku lakukan sekarang, aku hanya menerima apa saja yang dia lakukan padaku, dan itu membuatku sangat tenang damai dan juga bahagia.