
Aku sudah di kursi pesawatku, ini hanya perjalanan satu jam dan aku harus kuat saat aku harus duduk bersama tristan lagi, sebenarnya tadi pagi aku tak berkata apapun kepada mereka semua dan aku juga tak ingin berbicara dengan mereka semua, setelah aku mencium kertha semalam membuat aku jadi canggung, apalagi saat kertha selalu mencoba mendekatiku sejak tadi.
" tan.. Gue duduk sama AL ya.. " pinta kertha, sedangkan tristan tak bergeming sama sekali, dan aku sudah melihat tatapan tak suka dari wanita di sebelah kertha, dan aku yakin akan mendapatkan masalah setelah ini, dan aku kaget kenapa kertha tiba tiba ingin duduk bersamaku, apakah karena aku menghindarinya sejak tadi?
" abang sama dia aja, gue yakin.. AL masih malu setelah kejadian semalam " kata tristan dan aku sudah melotot karena perkataannya yang tentu saja membuatku semakin malu.
Kertha sudah pergi dan matanya masih mencuri pandang padaku, aku hanya takut dia akan marah dengan sikapku yang tiba tiba menciumnya.
Aku masih terdiam, dan aku juga tak peduli dengan candaan yang tristan ceritakan, sebenarnya aku tak punya alasan dengan sikapku yang kekanakan seperti ini, yang aku tau aku tak suka tristan bersama wanita itu.
" sebenarnya ada apa dengan kakak? "
Tristan membalikkan tubuhku dengan paksa, hingga aku sudah menghadap ke arahnya.
" kakak sudah melihat semuanya? " tanyanya dan masih menatapku dengan lekat.
Aku tak tau harus menjawab apa, yang jelas aku tak mau bicara dengannya.
" tan.. Pliss.. Diam. Sepertinya gue sedang mabuk udara " aku hanya punya alasan itu agar dia berhenti mengangguku.
Tapi bukan tristan namanya kalau tak mencari tau sampai selesai,
" dengan alasan apa gue harus cemburu? " tanyaku dan itu membuat tristan kembali menatapku.
" kakak yakin tak cemburu? " tanya nya lagi memastikan apakah benar yang aku katakan.
" ya.. Gue gak pernah cemburu, karena dari awal bukan elo yang gue suka, tapi kertha " kataku, dan aku sengaja mengatakan itu agar dia tak berfikir berlebihan, ya.. Semua ini tak mungkin untuk jadi sangat lebih, karena kita hanya hubungan ipar, tak lebih... Dan anggap saja semua yang terjadi antara aku dengannya sebuah bonus pelatihannya.
" aku gak bisa percaya itu.. " kata tristan, dan dia sudah menciumku, aku mendorong tubuhnya dengan cepat.
" apa yang lo lakuin? Disini tempat umum "
Aku takut kalau ada orang yang melihat kelakuan tristan, tapi sepertinya semua orang sedang sibuk masing masing.
" kakak coba saja untuk menghindar dan menjauh dariku, aku yakin kakak tak akan pernah bisa melakukan semua itu " katanya dan kembali menciumku lagi..
Bagaimana bisa aku menjauh darimu, jika kau terus memperlakukan aku seperti ini, entah kenapa aku menjadi sangat terbiasa dengan kelakuan sembrononya ini, dan aku juga kadang merindukan apa yang dia lakukan padaku, aku tau ini tak harus terus di biarkan terjadi, aku takut... Aku akan mencintainya dan bukan kertha lagi.
Tristan terus menggenggam tanganku, seakan akan dia tak ingin berpisah dariku, bolehkah aku berfikir kalau tristan sudah menyukaiku? Bolehkah aku salah paham kalau perlakuan dia selama ini karena dia sudah mencintaiku?
Apa yang bisa aku lakukan sekarang? Dengan sikapnya yang seperti ini membuatku jadi salah paham, atau aku yang sudah salah paham dengan sikapnya yang seenaknya saja terhadapku?