
Aku menjalankan apa yang sudah tristan katakan, aku hanya perlu bersikap baik dan jangan terlalu memperlihatkan kalau aku menyukai si kertha,
Dan yap..
Siang ini aku sudah duduk di taman bersama mama kertha, tristan bilang jangan pernah perhatian lagi, sebisa mungkin menjauh dari kertha, kalau di ajak ngomong jawabnya seperlunya aja, dan tetap berdandan cantik dan juga seksi saat berhadapan dengannya,
Gila. Aku paling benci bagian tampil seksi, aku mana bisa coba? Memang sih aku selalu nonton film romance yang ada adegan itunya jadi aku liatin baju baju yang di pakek cewek cewek itu..
Kau tau.. Payudaraku hampir terlihat, sebenarnya aku sangat risih tadi pas makek, dan akhirnya aku pakek cardigan sekarang, itu bisa ku praktekkan kapan kapan kan?
" Alberia gak papa kan tinggal disini seminggu lagi..? " tanya mama kertha,
apa yang harus aku katakan? Sebenarnya aku memang sangat kerasan disini, apalagi bisa ngeliat kertha setiap hari.
" dia pasti betah banget disini ma, malah maunya gak pulang pulang " kata kertha
Dan aku melihat sinis padanya
" oh ya.? Sepertinya mama akan mempercepat pernikahan kalian saja kalau begitu " kata mama kertha,
Dan kini kertha sudah kaget, sepertinya dia sadar kalau dia sudah salah bicara. Aku tertawa dan itu membuat kertha semakin kesal.
" sepertinya aku mau pulang saja tan.. Soalnya gak enak kalau lama lama disini " kataku,
Kertha memajukan bibirnya, dia sedang mengejekku.
" lho.. Kertha masih seneng lho kamu disini "
Kata mama kertha lagi, dan aku melihat kertha semakin mencibirku.
Awas ya.. Kalau lo nanti jatuh cinta sama gue, kalau bukan karena saran tristan.. Aku ogah pulang kerumah.
" hahaha.. Tante bisa aja, kayaknya kertha gak se seneng itu kok tan.. " kataku,
Dan yap.. Tristan sudah melotot sekarang.
Mama kertha langsung menatap kertha dengan tajam, kulihat kertha sudah menunduk.
" apa bener begitu? " tanya mama kertha,
Kertha diam saja
Nyebellin banget kan?
" besok aku mau pulang tan. " kataku lagi,
Mama kertha sudah meraih tanganku,
" yaudah.. Besok biar kertha yang anter kamu ya.. " kata mama kertha,
Kertha sudah tersenyum menang, haha kau tak tau apa yang sudah aku rencanakan kan?
" gak usah tan, tristan mau anter aku besok, sekalian mau mampir ke apartemen arka "
" oh ya..? Baiklah.. Kertha cepat telpon tristan, suruh dia menginap disini malam ini " perintah mama kertha, dan aku kembali tersenyum.
Kulihat dengan malas kertha menelpon tristan.
Dan tak lama kemudian, kertha menutupnya setelah tristan menerima permintaan mamanya.
Malam ini, setelah makan malam aku langsung menghampiri tristan yang merokok di balkon,
" ih.. Polusi tau.. " kataku sambil menghindari asap rokok yang menyebar, tapi tristan semakin meniupkan asapnya ke wajahku,
Aku langsung terbatuk karena menghirup asap rokok itu.
" uhuk uhuk.. Lo tau.. Lebih bahaya yang menghirup asap rokok daripada yang merokok, lo pengen bunuh gue secara perlahan..? " omelku, tristan hanya tertawa..
Entah kenapa aku merasa senang saat melihat dia tertawa, lesung pipinya membuat aku semakin gemes..
" lo tambah ganteng kalo ketawa gitu.. " kataku tanpa sadar, ya tuhan.. Mulutku ini memang selalu mempermalukan tuannya.
" kakak bilang apa tadi? " tanya tristan, dia semakin memajukan kepalanya sampai aku bisa menghirup aroma rokok dari hembusan nafasnya.
Dan entah kenapa jantungku seperti sudah berhenti berdetak, tristan ini selalu bersikap santai dan tenang, tapi mampu membuat dada ini menjadi sesak.
Aku tak berani menatap matanya, karena aku selalu terpesona saat aku menatap matanya.
" ehem.. "
Suara itu mengagetkan lamunanku, kucari asal suara itu dan ternyata kertha sudah berdiri di sana, entah sejak kapan dia berdiri disana.
Tristan menarik tubuhku hingga menempel padanya, aku jadi kikuk dengan perlakuan tristan,
" jadi.. Setelah aku menolakmu, kamu akan mendekati adikku? " tanyanya,
Dan aku sudah melotot mendengar perkataannya, apa yang ada didalam pikiranya? Mana mungkin aku semudah itu berpaling darinya?
" wah.. Abang jahat banget, cewek semanis kak AL di tolak " kata tristan.
Kertha tertawa, dan entah kenapa aku benci melihatnya tertawa seperti itu,
" kalo lo mau, ambil aja.. Gue gak suka cewek yang caper kayak dia..,, "
Deg..
Dadaku menjadi nyeri mendengar ucapan kertha barusan,
Apakah aku terlihat sangat murahan selama ini?
Ternyata kertha yang sebenarnya sangat kejam.
Aku tak tau sejak kapan airmataku sudah mengalir...
Ternyata begini rasanya di sakiti orang yang kita cintai.