He Is Cha Siwon.!

He Is Cha Siwon.!
Aku tak mau menikah



" apakah kau sangat mencintai aku..? "


Deg.


Pertanyaan apa ini..???


Apakah aku terlihat sangat mencintai kertha? Hei.. Sadarlah.. Sepertinya aku sudah terobsesi karena aku sangat menyukai pria tampan.


Aku belum yakin kalau aku sudah mencintai kertha, kenapa aku malah menjadi ragu saat kertha bertanya seperti ini.


" kalau kau benar benar sangat mencintaiku, baiklah.. Ayo kita menikah secepatnya.. Bukankah lebih baik dicintai daripada mencintai? Aku akan menerima cintamu AL, tapi aku tak akan pernah bisa mencintaimu " kata kertha sangat tajam, setiap perkataan kertha membuat hatiku berdenyut nyeri, bagaimana bisa dia berpikir seperti itu sedangkan aku juga belum terlalu yakin dengan perasaanku ini...


" Ayo kita pulang AL... Biar orang tua kita melanjutkan semua ini "


Ucap kertha, dan aku semakin takut di buatnya.


" tidak.. Aku tak mau menikah secepatnya " tolakku dan itu sudah membuat rahang kertha mengeras lagi.


" lalu sebenarnya apa yang kamu inginkan hah..!!! ? " kertha mengeraskan suaranya membuat tubuhku bergetar karena kaget.


Apa apa an ini..? Kenapa kertha menjadi sangat emosi.


" aku tak mau tau.. Kita menikah saja secepatnya.. " ucap kertha lagi dan langsung meninggalkan aku sendiri di kafe ini.


Sikap kertha barusan membuatku takut dan kakiku masih gemetaran karena sikap kertha barusan.


Apakah aku sudah akan menikah dengan kertha? Apakah ini sudah benar?


Atau ini kan menjadi kesalahan lagi?


Kenapa..?


Kenapa aku sangat ragu sekarang?


Kenapa malah tristan yang ada di otakku sekarang?


Tristan...


**********


Dan benar saja seminggu setelah pertemuanku dengan kertha membuat mamaku bahagia seperti ingin mencapai langit saja, dan mama menjadi sangat perhatian mendengar kertha ingin mempercepat pernikahan.


" kamuhebat sayang... Kau bisa membuat kertha mencintaimu " kata mama sambil menyisirkan rambutku yang sudah panjang, entah setan apa yang membuat mama mau menyisir rambutku lagi sekarang, aku ingat terahir kali mama menyisir rambutku saat masih sekolah dasar.


" apakah mama senang? " tanyaku, entahlah.. Aku malah menjadi sangat ragu dengan semua ini, rasanya sangat berat saat aku harus menikah dengan kertha walau sebelumnya sangat aku inginkan.


" tentu saja... Mama sangat senang, " jawab mama,


Ya.. Mama senang saja sudah membuatku cukup tenang kan? Tapi aku tak tau apa yang akan terjadi setelah aku menikah nanti.


Tristan... Setelah semua itu berakhir.. Dia juga sudah tak pernah menghubungiku lagi, apakah tristan sudah mendengar kalau aku akan menikah secepatnya dengan kertha?


Mama sudah keluar dari kamarku dan kini datanglah seorang pengacau yang paling ngesellin.


" kakak beneran mau nikah sama bang kertha? " tanya Arka, dan langsung ku jawab dengan anggukan.


" gue pikir.. Kakak sukanya sama tristan " kata arka lagi, aku tertawa saat mendengar kata tristan.


" apa aku terlihat menyukai tristan..? " tanyaku sambil tertawa lagi, tapi entah kenapa hatiku sakit saat menyebutkan nama tristan.


" gue pikir seperti itu.. Soalnya Gue pernah liat kakak ciuman sama tristan.. " jawab arka santai, sedangkan aku sudah sangat kaget saat arka mengatakan hal itu..


Kapan..? Kapan dia ngeliat aku sedang ciuman dengan tristan? Sepertinya hanya ada aku dan tristan saja setiap kali bertemu.


" Kenapa kakak kaget.. Udah biasalah kak.. Tristan memang sering gitu sama cewek, cuman gue gak suka kalo dia mainin kakak kayak gini.. " kata arka,


Entah kenapa aku malah ingin menangis saat membahas tristan, dan aku yakin... Aku sudah menyakitinya sekarang.


" Kak... Kakak beneran suka tristan kan? " tanya Arka lagi, entah kenapa bocah ini menjadi sangat cerewet sekarang.


Aku masih terdiam, otakku penuh dengan tristan sekarang, mungkin dia memang pemain wanita sebelumnya... Tapi.. Dia sudah meminta aku untuk menikah dengannya..


Apakah kali ini.. Tristan benar benar serius?