
" turunin aku sekarang !! " teriak Al, Kali ini dia benar benar kesal dengan perlakuan tristan yang sudah mempermalukannya di tempat umum, Al sangat yakin kalau tristan sebenarnya itu bisa mendengar dengan jelas ucapannya tadi namun dia sengaja mempermainkan dirinya.
" coba aja kalo bisa " kata tristan yang masih fokus dengan setirnya.
Tak lama kemudian mereka sampai tepat di depan gedung apartemen tristan, setelah mobil berhenti Al langsung membuka pintu mobil mencoba untuk kabur, namun tristan tak kalah cepat darinya, dengan mudahnya tristan meraih tubuh Al dan dengan sangat kuat tristan mengangkat tubuh mungil Al.
" huaaah.. Apa yang kau lakukan..!! "teriak Al yang kini terus saja memukuli punggung tristan, semua mata tertuju pada kedua pasangan ini, ada yang tersenyum merasa lucu dan ada juga terus tertawa melihat kekonyolan mereka.
" kau akan pergi jika aku tak mengangkatmu seperti ini. " kata tristan dengan santainya.
" turunin aku.. Aku bisa jalan sendiri " kata Al, namun tristan masih tetap berjalan membiarkan Al di bahunya, ah.. Apakah dia tak merasa berat sedikitpun?
" sekali aku munurunkanmu, kau benar benar tak akan pernah bisa lari lagi"
AL melongo mendengar ucapan tristan barusan, maksudnya apa cobak..?
" ceklek "
Tristan membuka pintu apartemen lalu membawa Al masuk kedalam kamarnya,
Huaaah... Bagaiamana ini? Dia membawaku kedalam kamarnya
Tristan menurunkan tubuh Al tepat dia atas kasur, dan kini tibalah saat saat canggung diantara mereka.
Sedetik mereka terdiam tak bisa berkata apapun, entah kenapa suasana asing menguasai ruangan ini.
Al masih dalam fantasi pikirannya,
Enggak.. Gak mungkin kan aku di perkosa lagi dengan pria ini? Huaah.. Dia tidak akan benar benar memperkosa aku lagi kan?
Tak sadar Al sudah menggelengkan kepalanya, entah kenapa otaknya malah memikirkan hal itu sekarang.
Mungkin Al tidak sedang merasa takut jika tiba tiba tristan menyentuhnya, bahkan bisa saja dia menjadi sangat sukarela untuk di sentuh tristan.
" apa yang kau pikirkan? Apakah kau sudah berfikir kotor sekarang? "
Jleb..
Dan pertanyaan tristan sepertinya sangat tepat sasaran.
Kali ini Al sudah melotot seakan akan biji bola matanya sudah hampir keluar.
Tristan hanya tersenyum melihat ekspresi wanita menggemaskan ini, dia masih sama seperti saat pertama kali bertemu, Al masih menjadi wanita paling galak.
" benarkah? Tapi wajahmu sangat meyakinkan, Kau benar benar sedang berpikir hal mesum " kata tristan yang semakin membuat Al salah tingkah di buatnya, dan kini wajah Al sudah semakin memerah di buatnya.
Tristan duduk tepat di sebelah Al, namun refleks Al menjauh memberikan sebuah jarak di antara mereka.
" kenapa? Apa kau sudah tak ingin dekat denganku lagi? " tanya tristan,
Tentu saja Al masih merasa sangat kesal dengan kejadian tadi, Entah kenapa Al menjadi semakin sangat kesal saat mengingat kejadian tadi.
" aku minta maaf... Tadi aku benar benar enggak tau kalau musiknya akan berhenti " sesal tristan, namun masih tak membuat Al bisa memaafkannya begitu saja, Al merasa sangat malu saat semua orang melihat kearahnya
" kau sengaja melakukannya " kata Al yang semakin menjauh dari tristan.
" tidak.. Aku benar benar tidak melakukan apapun? "
" tapi kau bisa mendengar dengan jelas kan apa yang sudah aku katakan sebelumnya? Tapi kenapa kamu malah mempernainkan aku seprerti itu? "
Entah sejak kapan Al sudah menangis
Tristan meraih tubuh mungil milik Al dan langsung membawa kedalam pelukannya, rasa nyaman dan hangat itu mampu membuat Al sedikit merasa lebih tenang meskipun sebenarnya masih ada rasa kessal.
Sudah berapa lama ia tak berpelukan dengan pria ini? Bahkan sepertinya dia sudah lupa perasaan hangat seperti ini pernah ada.
" Maafkan aku yang terus saja menghindar tanpa alasan " kata tristan dan semakin memper erat pelukannya.
*Hai waktu....
Bisakah kau berhenti sejenak? Biarkan aku terus merasakan kehangatan tubuh pria ini, kau tau...
Aku sangat merindukannya, betapa aku sangat ingin selalu dekat dengannya.
Hai waktu...
Jadilah teman baik untukku, jangan kau biarkan kau berlalu begitu saja tanpa memberikan kebahagiaan seperti ini untukku..
Tau kah kau..?
Betapa aku sangat ingin terjadi momen seperti ini di setiap hariku..
Aku sangat rindu.. Kau harus tau itu*.