He Is Cha Siwon.!

He Is Cha Siwon.!
Pernyataan Rafa



Hannah sudah pulang bersamaku dan aku memilih untuk masuk ke kamarnya saat aku


sudah sampai dirumah susun ini, hannah hanya melirikku dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Aku masih sibuk memikirkan yang akan terjadi beberapa menit lagi, hannah akan tidur bersama kertha, dan aku masih tidak habis pikir, ini sangat salah.... Kerta sudah menikah mana mungkin dia tidur dengan wanita lain saat dirinya sudah sah menikah, ya ampun.. Kenapa jadi aku yang banyak mikir..


" hannah.. Elo benar benar akan ketemu kertha..? " tanyaku sedikit ragu,


" haha tentu saja.. Aku sangat menyukai pria itu " jawab hannah yang masih di dalam kamar mandi. Dan aku sedikit kecewa karena hannah menjawab iya malah hannah menyukai kertha, aaah.. Siapa yang tak suka kertha..


" tapi kertha udah nikah lho " kataku lagi, sedangkan hannah malah tertawa.


" itu pekerjaan gue, gue gak peduli pelanggan gue menikah atau tidak, yang penting gue seneng dan dapet duit... Itu sudah cukup " jawab hannah dan lalu keluar dari kamar mandi.


Hannah sangat cantik dan juga seksi, tubuhnya memang membuat semua orang akan terpesona, aku yakin dia bisa mendapatkan pria baik kalau dia menjadi orang yang baik juga kan..?


" elo cemburu ya? " tanya hannah sambil meraih daguku, dan aku lagsung melotot mendengar pertanyaan hannah itu, mana mungkin aku cemburu, aku hanya khawatir sama kertha itu saja.


" gue gak cemburu, iih buat apa gue cemburu. Beruntung gue gak jadi nikah sama kertha, " jawabku.. Hahaha tentu saja aku sangat besyukur.. Kalo aku jadi nikah sama kertha kan gue di selingkuhin jadinya. hannah pun tertawa lagi.


Hannah berdandan sangat cantik, dan tentu saja kertha akan semakin terpesona saat melihat hannah nanti.


" ya udah.. Gue mau berangkat," kata hannah yang langsung pergi begitu saja.


Astaga.. Mereka akan benar benar tidur bersama sekarang, ya ampun... Aku jadi ngebayangin mereka melakukan hal begitu. Gila hannah.. Hannah memang benar benar gilaa...


Aku menutup kamar hannah dan kembali ke kamarku, saat itu juga aku melihat Rafa tetanggaku yang sering menungguku saat jam istirahat kerja.


" Hai... Al " sapanya saat melihatku, aku pun tersenyum melihatnya, cowok ini memang sangat menarik.


" hmmm.. Dia ada kencan sama pacarnya, biasalah.. Udah mau nikah " jawabku sekenanya. Aneh kan jawabanku? Tentu saja tak masuk akal kalau aku bilang hannah bekerja di malam hari, bahkan hannah selalu berdandan seksi setiap malam, beruntung sih dia gak ada yang curiga, karena aku selalu berhasil menutupi.


" ooh.. Pasti lagi seneng seneng tuh " sambil menyedot rokoknya.


" elo merokok lagi? " tanyaku, sepertinya beberapa hari yang lalu dia berjanji akan berhenti merokok.


" hmm... Begitulah.. Gue gak bisa berhenti merokok " jawabnya santai.


Dan aku hanya mengangguk saja, terserah dia sih kalau masih tetap merokok, lagian itu bukan urusanku.


" aku masuk dulu " kataku yang sudah membuka pintu kamarku, tapi tiba tiba Rafa sudah menarik tanganku.


" Al... Aku mau serius.. Ayo kita pacaran dan menikah " katanya dan aku sudah melongo dengan pernyataan rafa.


" Al.. Aku suka kamu sejak pertama kali aku bertemu, aku selalu memperhatikanmu setiap hari dan aku juga selalu mengikutimu saat kamu jalan sendiri, aku menyukaimu Al. " katanya lagi, dan aku bingung dengan pernyataannya yang tiba tiba. Aku juga gak tau harus jawab apa, aku gak punya perasaan apapun padanya, aku hanya sekedar nyaman saat berteman dengannya itu saja.


" maaf rafa... Gue.. Gue.. Cuman anggap elo sekedar teman, " jawabku ragu.. Dan aku sudah melihat dengan jelas wajah kecewa rafa. Namun kemudian dia tersenyum padaku.


Aku merasa heran dengannya kali ini. Dia malah tersenyum saat aku sudah menolaknya.


" gak papa Al... Makasih sudah mau menjawab dengan jujur, " katanya, dan aku tau pasti dia sangat kecewa.


" rafa.. Bukan maksud gue... " belum selesai aku bicara rafa sudah menggelengkan kepalanya dan meraih tanganku.


" jangan lanjutin, aku gak mau kamu kasihan sama aku, kita masih bisa tetap menjadi teman kan? " katanya lagi, aku pun tersenyum mendengar ucapanya.. Kita masih berteman kok.. Bahkan selamanya... Maafkan aku Rafa, kamu memang pria yang sangat baik tapi aku tak bisa menerima perasaanmu.