
Setelah pelajaran konyol itu, aku menjadi sangat canggung saat bertemu dengan tristan,
sedangkan tristan.. Dia bersikap seperti biasanya padaku, seakan benar benar tak pernah terjadi apapun.
Aku selalu mencoba untuk menghindarinya, tapi dia selalu saja mendekatiku..
Ah.. Aku masih malu..
Dengan mudahnya aku memberikan ciuman pertamaku..
Dan itu kepada bocah tengik ini..
Tentu saja tristan merasa kalau semua ini hanyalah ciuman biasa saja, tapi bagiku.. Itu sangat berharga, aku masih sangat kikuk saat bertemu dengannya.
Tapi. Lihat dia.. Dia sangat tenang seakan tak pernah terjadi apapun..
" kak Al.. Mama mau bicara sama kakak.. "
Arka memberikan ponselnya padaku..
Kenapa mama gak telpon aku pribadi saja?
" ada apa ma..? "
" Besok kamu harus pulang.. Ada hal penting yang harus mama bicarakan.. " kata mama,
Seperti biasa.. Kalau kanjeng mama sudah bicara.. Siapapun tak akan pernah bisa menolak..
" yah.. Dadakan lagi.. "
" kenapa..? Apa kamu sudah sangat betah tinggal disana? Bukannya kamu selalu bilang kalau lebih baik dirumah saja..? " kata mama.
Dan yah. Benar.. Aku selalu ingin pulang saat pertama aku disini.. Karena aku tak suka keramaian dan sikap arka yang suka merintah..
Tapi setelah aku bersama mereka semua, hidupku lebih tenang dan nyaman, aku bisa menjadi diriku sendiri, dan aku tak perlu menutupi semua sifat asliku.
Aku sudah sangat bahagia hidup bersama para pria bocah ini..
Dan entah kenapa.. Aku sudah merasa sangat sedih kalau harus meninggalkan orang orang ini..
Tapi.. Aku tak bisa menolak perintah mama.
" ya udah mah.. Aku pulang besok. " jawabku, lalu mama mematikan telponnya..
Hanya 2bulan.. Aku sudah merasa sangat nyaman bersama mereka, apalagi saat bersama tristan.. Siwonku.. Guru konyolku..
Haha.. Entahlah.. Aku jadi merasa sedih kalau harus pulang secepat itu..
-------
Arka mengantarku pulang kerumah, ya.. Aku sudah dirumah..
Sudah 2 bulan aku meninggalkan kamar yang penuh dengan suka cita ku, dulu aku sangat betah di kamar ini tapi entah kenapa sekarang aku jadi tak suka sepi, atau mungkin karena aku sudah biasa hidup ramai bersama mereka?
Saat aku pulang kerumah ini, mama belum bicara apapun, tapi mama malah meminta aku untuk hadir di makan malam nanti, katanya sangat penting hingga aku harus datang.. Dan tentu saja arka juga harus hadir nanti malam..
Aku sudah mencium bau busuk dari gelagat mama, aku sudah curiga kalau mama akan mempertemukan aku dengan laki laki yang akan di jodohkan denganku, mama selalu saja bersikap seenaknya saja tanpa memikirkan perasaanku, aku benci semua ini. Aku benci mama yang tak pernah mengerti aku, selama ini aku selalu berusaha menjadi anak baik, penurut, dan tak menolak apapun yang mama inginkan..
Aku sudah muak dengan semua ini.
Dan satu lagi.. Jadilah wanita anggun.
Hhh aku benci mama.
Dan sampailah di tempat penuh duka ini, arka berjalan di sampingku sepertinya dia sudah siap membuly ku.
" akhirnya.. Kakak dijodohin " katanya, tentu saja dia sangat suka mengejekku,
apa yang bisa dia lakukan kalau tak mengejekku kan.?
" lo udah tau semua ini kan.? "
" enggak kak.. gue gak tau apapun.. Cuman gue gak sengaja denger mama ngobrol sama papa tadi "
Aku tersenyum sinis padanya, yah. Aku seperti anak tiri saja. Aku benci karena mereka hanya mementingkan hidup arka saja,
aku hanya bisa berjalan mengikuti langkah mama yang sudah mendekati sebuah meja yang sudah di tempati beberapa orang disana, aku melebarkan mataku saat melihat seseorang disana.
" hai.. "
Deg.
Jantungku seperti berhenti berdetak saat melihat seorang pria yang sudah duduk dengan senyuman aneh,
Dia tristan.
Aku sangat kaget dengan keadaan ini, apakah aku akan di jodohkan dengan tristan?
Tunggu.. Keadaan apa ini..?
" kamu kenal dia.? "
tanya seorang wanita paruh baya namun masih sangat cantik, apakah dia ibu tristan.?
" iya mam.. Kenal banget.. Dia kakak sahabatku.. " jawabnya sambil berjabat tangan dengan arka.
Apa ini sebenarnya.
" kebetulan sekali, mari silahkan duduk dulu sambil menunggu putra sulungku.. "
Ya Tuhan..
Takdir apa ini?
Mama dan mama sedang mengobrol dengan orang tua tristan, sedangkan aku yang sedari tadi sudaj merasakan kecanggungan yang amat sangat menjadi pendiam,
Apalagi yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa diam saja kan?
Huaaah..
Bolehkah aku bahagia dengan semua ini? Jujur saja kalau aku harus di jodohkan dengan siwon ini.. aku masih sangat ragu.. Tapi kalau si kertha.?
Huaaaahh..
Aku mauuu..