
Mungkin ini yang namanya cinta, rasanya aku ingin tersenyum di setiap hari, rasanya pipiku selalu hangat saat aku mengingat beberapa adegan romantis yang terputar kembali di otakku, entah kenapa rasanya setiap detik moment antara aku dan dia menjadi sangat berharga dalam ingatanku, aku bisa mengingat dengan jelas beberapa adegan kecil saat aku bersama tristan..
saat dia menggenggam tanganku, saat dia refleks memindahkan rambutku yang menghalangi mataku, saat dia tiba tiba mengecup bibirku tanpa ijin dariku..
aah... apa ini, kenapa aku menjadi semakin mesum sekarang, seperti ada sesuatu yang berdetak tiba tiba di jantungku, dan rasanya aliran darahku menjadi panas..
haruskah... haruskah aku menjadi wanita mesum? kenapa malah hal yang seperti ini yang kuingat..?
Hari ini tristan akan menemuiku, dan hari ini juga ia akan membawaku bertemu dengan mamanya, tentu saja aku sangat takut dan panas dingin, malah aku sudah merasa tak karuan sejak pagi hari tadi, sedangkan mama masih saja terus menggodaiku karena aku sudah jadi dewasa sekarang, kenapa mama tidak marah saat aku sudah berhubungan intim di luar nikah? kenapa mama malah sangat senang dan terus saja memaksa tristan datang kerumah ini, padahal tristan masih kuliah dan sebentar lagi tristan juga akan melaksanakan skripsinya, harusnya mama tidak membuat tristan semakin terbebani dengan kehidupan asmaranya.
aku takut tristan akan menjadi tidak fokus karena tuntutan mama, tapi mama belum meminta tristan untuk melamarku sih, lagian.aku masih menikmati masa pacaranku bersama tristan.
" ding dong.."
Aku terlonjak kaget saat mendengar suara bel pintu berbunyi, aku semakin panas dingin karena aku yakin orang diluar sana adalah tristan. aku sangat gugup... aku takut Mama tristan tak menerima aku karena kejadian sebelumnya, aku masih sangat ingat bagaimana aku merusak kepercayaan mama tristan, aku sudah merusak perasaan mama tristan yang sudah sangat menyayangiku dengan tulus, bahkan beliau sudah berharap banyak pada hubunganku dengan kertha waktu itu, Ya Tuhan... aku semakin takut.
Dan benar saja, Pacarku sudah berjalan dengan gagahnya memasuki rumahku, sesaat aku merasakan kalau aku sedang di kunjungi seorang artis korea, aah bagaimana bisa pacarku ini sangat mirip denga choi siwoon, betapa beruntungnya aku ini..
" Jangan di liatin terus , nanti mukakku bolong loh.." kata tristan sambil tersenyum, dan kau tau betapa gantengnya pacarku ini saat ia sudah tersenyum, aku yakin kau akan lumer seketika saat melihatnya..
" hei.. masih bengong aja.. kamu gak mau menyambut pacarmu ini..?" katanya lagi, dan tangannya sudah melambai tepat di hadapanku, dan saat itu aku sadar dari lamunanku. aku pun sudah lupa kalau aku akan bertemu calon mertuaku lagi.
" maaf.. aku gak fokus " kataku sambil nyengir kuda.
" tidak.. aku tidak gugup sama sekali aku sudah siap bertemu tante lagi sekarang " kataku sambil melepaskan tangannya yang meremas daguku tadi. jujur saja, aku sedikit berharap dia menciumku. aah.. gilaa otakku.
" haha.. baiklah sayang, apa kita akan berangkat sekarang? ngomong ngomong, tante kemana? " tanya tristan yang sudah celingak celinguk mencari mama.
" Mama sudah kekantor, tadi aku juga sudah bilang kalau kita akan pergi ketemu tante sekarang." jawabku, sepertinya tristan melupakan sesuatu tentang mama yang selalu sibuk bekerja.
" Benarkah.?"
Aku sedikit ngeri melihat ekspresi tristan saat mendengarkan perkataanku, entah kenapa dia terlihat sangat senang saat aku bilang mama sudah pergi.
" sayang.. bolehkah aku menciummu sedikit saja.."
Deg
Ya Tuhan.. pria ini.. bahkan kau meminta ijin saat ingin menciumku? bukankah kau selalu nyosor begitu saja kalau hanya bersamaku?
" enggak.. ayo berangkat sekarang " tolakku dan menarik tangannya, tentu saja aku sangat malu, dia bahkan meminta ijin saat ingin menciumku, dan tentu saja tristan menahan tarikanku dan malah dia yang manarik tanganku dengan kuat hingga aku dengan mudahnya menabrak dada bidangnya.
jujur saja, sebenarnya aku masih saja merasa malu saat aku harus bertatapan dengannya. dia tersenyum lagi, dia benar benar sangat jahat, kenapa dia menjadi sehebat ini hanya dengan tersenyum saja, aku kalah sekarang dan kau menang tristan.
Dan sedetik berikutnya tristan sudah meraup habis bibir mungilku ini, betapa mudahnya kau mendapatkan apa yang kau inginkan, dasar pria tampan..! Kau selalu menang dalam segala hal.