
Aku kaget saat membuka mataku, entah sejak kapan tristan sudah tidur disampingku.? bahkan posisi ini membuatku merasa sangat gerah, dia memelukku hingga aku tak bisa bernafas.
Sekuat tenaga aku mendorong tubuh berat ini, dan tentu saja tenaga ku tak cukup kuat.
Lalu berikutnya kurasakan tristan semakin memperat pelukannya padaku.
Aku juga bisa merasakan hembusan nafasnya yang sudah menggelitik leherku,
" tunggu.. Biarkan aku memelukmu sebentar saja " bisiknya yang masih terus memelukku, aku merasa luluh begitu saja karenanya, aku pun menikmati hembusan nafasnya yang sangat tenang, tapi aku tak bisa mengatur detak jantungku yang sudah tidak karuan, aku merasa sangat tak nyaman dalam posisi ini, huaah... Sepertinya aku merasa sangat senang karena pelukannya.
Dan kini aku baru ingat kalau aku harus bekerja.
" apa sudah selesai? Aku harus bekerja " kataku yang mencoba untuk melepaskan pelukan tristan.
" kenapa kau masih bekerja.? " tanya tristan,
Itu pertanyaan aneh, bagaimana aku bisa bertahan hidup kalau aku tidak bekerja? Aku bahkan dengan susah payah bisa mendapatkan pekerjaan senyaman ini.
" berhenti bekerja " kata tristan yang masih belum melepas pelukannya
" hei.. Bisa kau lepaskan tanganmu dulu, aku gerah " kataku sambil berontak mencoba melepaskan pelukannya, tristan pun melepaskan pelukannya.
Dengan cepat aku bangun agar bisa menjauh darinya.
" tunggu, kapan elo pindah ke kasur gue? " tanyaku yang kini sudah sadar, lancang banget kan si tristan ini.
Tristan hanya tersenyum lalu berkata.
" itu terserah aku kapan mau tidur dimana, sekarang.. Kau milikku " kata tristan dan langsung mengecup bibirku, aku terdiam sejenak karena merasa sangat kaget, tristan mendadak nyium gue. Dan itu membuatku sangat kaget.
" kok diem sih... Bukannya semalem udah diem diem cium..? " katanya lagi.
Dan aku yakin sekarang mukak aku udah kayak kepiting rebus, dia tau kalo aku udah cium dia semalem.. Huaaaaah.. Mau di taruh dimana mukak gue..? Rasanya aku pengen menghilang dari hadapannya sekarang juga.
" kenapa? Malu..? Hahaha gak usah malu, aku tau banget kalo kamu kangen sama aku " katanya..
Aku tak tau harus berkata apalagi... Ini sangat memalukan.
Tanpa berkata apapun aku langsung lari ke kamar mandi, sumpah malu banget.. Kenapa sih tristan pakek acara pura pura tidur semalem? Lagian ngapain cobak gue cium dia..? Huaah.. Memalukan memalukan... Aku terus saja menyesali kekonyolanku ini, berkali kali aku menatap wajahku yang udah kayak kepiting rebus..
Enggak gak boleh, Al.. Kau harus bersikap seakan tak terjadi apapun, ingat.. Kau tidak akan menerima dia lagi... Cukup sudah.. Jangan layani dia...
Aku pun melanjutkan makanku, dan tumben banget aku tak merasa mual sama sekali pagi ini, biasanya setiap pagi aku selalu langganan hoek hoek di kamar mandi, mungkin karena di kejutkan kejadian tadi pagi jadi moodku sangat baik..
Aah.. Apa..? Mood ku baik? Haha apa apa an ini, aku bahkan merasa sangat senang saat melihat tristan tepat di hadapanku.
Tapi aku benar benar harus menjauh dulu darinya.. Aku masih takut bertemu kedua orang tuaku.
-
-
-
Sampai di resto aku langsung memakai seragamku, dan aku juga mulai memasak bersama sesama chef di resto, dan mulailah rasa mual ini menguasai diriku.
Belum selesai aku sudah merasa mual saat mencium aroma masakan, padahal sebelumnya aku sangat suka memasak menu ini.
Aku berlari ke toliet dan meminta temanku untuk melanjutkan, aah rasa mual ini sangat tidak nyaman itu mengganggu pekerjaanku.
Setelah selesai melaksanakan tugasku seperti biasa aku keluar dan menghirup udara segar di belekang, dan kali ini rafa disana lagi, sudah seminggu lebih aku tak bekerja gara gara rasa mual ini, tapi rafa masih saja menungguku.
" hai.. " sapaku setelah melihat rafa.
" hai.. Aku pikir kamu gak bekerja disini lagi, " kata rafa yang sudah mendekati pagar,
" masih mual? " tanya nya, dan aku mengangguk.
" kalau kau masih belum menemukan ayah untuk anakmu, aku siap menjadi ayahnya " kata rafa, dan kusambut dengan tawaku aku tau dia sedang becanda.
" bisa aja lo raf, haha.. Belum kepikiran sih mau cari ayah untuk dia "
" aku siap kok, sumpah " katanya, aku hanya bisa menggelengkan kepalaku merasa semua ini sangat lucu.
" jangan becanda terus, oh iya... Traktir bakso lagi " kataku mencoba mengalihkan pembicaraan.
" gak bosen makan bakso terus? " tanya rafa, aku langsung menggelengkan kepalaku.
Dan aku berfikir lagi.. Entah kenapa aku jadi doyan banget makan bakso