
Aku langsung keluar dari ruangan itu, ya Tuhan.. Aku belum siap bertemu dengan mereka, sudah hampir 3 bulan tak bertemu tapi aku masih saja sangat takut untuk bertemu,
Hannah menghampiriku yang tiba tiba saja keluar saat melihat para pria itu.
" elo kenapa? Kayak ngeliat hantu aja " tanya hannah saat melihat wajahku yang mungkin sekarang sudah sangat pucat,
" kakak... Kok keluar sih.. Dia disana " kata jessy yang kini juga sudah berada di hadapanku.
Aku juga bingung mau jawab apa, dan tiba tiba perutku rasanya tak nyaman dan sepertinya aku sudah mau muntah,
" kayaknya gue gak bisa bantu deh hannah, gak tau kenapa gue jadi mual kayak gini " kataku, dan sepertinya karena sangat kaget membuat perutku jadi tak nyaman, aku benar benar sudah merasa mual.
" kok tiba tiba sih Al..? " tanya hannah, aku tak menjawab karena aku sudah tak kuat ingin mengeluarkan isi perutku.
" toilet dimana? " tanyaku sambil memegang perut dan mulutku, lalu jessy mengantarku dan juga di ikuti hannah.
Sampai di toilet aku sudah mengeluarkan semua isi perutku, keringat dingin membasahi dahiku, aku langsung mencuci wajahku.
Kulihat wajahku yang sudah pucat kayak mayat di cermin toilet, sepertinya kaget memang membuat ku sangat mual, aku berjalan keluar dengan lemas dan kulihat hannah menungguku sambil menyandarkan badannya di tembok.
" elo mau pulang atau gimana nih? Si jessy ngarep banget tuh " kata hannah saat melihatku yang sudah keluar, belum sempat aku menjawab perutku sudah tak nyaman lagi dan aku kembali mengeluarkan isi perutku yang kini hanya tinggal rasa pahit yang kurasa. Rasanya tubuhku sudah sangat lemas.
Aku pun meminta jessy untuk mengantarku pulang saja, dan beruntungnya aku tak melanjutkan misi jessy karena rasa mual ini.
Aku juga belum bertanya siapa yang jessy suka, mungkinkah itu tristan? Ah tentu saja tristan akan menjadi pria yang sangat di inginkan semua wanita, secara dia sangat ganteng dan mirip artis korea.
Aku langsung tidur setelah sampai di tempat tinggalku, sedangkan hannah masih disana melanjutkan misi, ya Tuhan.. Aku gak boleh bertemu mereka, sebisa mungkin aku harus menghindari ajakan mereka kesana lagi, aku belum siap bertemu tristan dan juga arka, tidak.. Mungkin kalau bertemu arka aku bisa Tapi kalau tristan..? Aah.. Aku sangat takut untuk bertemu dengannya.. Ya aku takut.. Takut untuk bertemu dan menjadi jatuh cinta padanya.
-
-
-
Aku membuka mataku setelah merasakan sesuatu di kepalaku, dan ternyata hannah sedang mengompresku, kulihat hannah duduk di sofa sambil memainkan hapenya dan hanya lampu tidur yang menyala.
" hannah " panggilku, hannah pun langsung berdiri dan menghampiriku,
" apalagi yang sakit? Ya ampun Al... Elo bikin gue khawatir. Demam elo tinggi banget, udah elo gak usah kerja dulu besok, tadi aku juga udah suruh dokter kesini.. Dan kata dokter kamu sedang hamil.. "
Hannah langsung menutup mulutnya sepertinya dia sudah keceplosan, eh tunghu dulu.... Apa.. ??? Aku hamil?
Tubuhku semakin lemas rasanya saat aku tau kalau aku hamil, dan aku sudah tau hal ini pasti akan terjadi...
Aku seperti orang yang tak bernyawa. Aku hidup tapi jiwaku mati..
Lalu apa yang akan terjadi sekarang? Apakah aku akan terus membiarkan janin ini tumbuh di rahimku? Atau aku membuangnya? Tidak.. Itu tidak mungkin... Aku tak boleh menjadi pembunuh...
Tapi.. Aku sedang hamil sekarang... Aku tak tau apa yang harus aku lakukan....
Dan kini hanya tangisan yang menemaniku, hannah memeluk tubuhku mencoba menenangkan aku.