
"****,, kenapa aku bisa lupa" umpat ari setelah yuda mengejar tika
"bisa anda jelaskan tuan ari"ucap bayu penuh intimidasi
" tika sahabat saya,,, dia sengaja mengambil bea siswa yang orang tua saya berikan beberpa tahun lalu untuk kuliah agar mewujudkan cita-cita nya menjadi chef, tapi demi membahagiakan orang tuanya tika rela mengambil jurusan keperawatan dan menetap di bali hingga sebuah kejadian dia memutuskan untuk mengambil bea siswa dari orang tua saya tanpa sepengetahuan siap pun bahkan rizal sahabat kami yang di bandung pun tak tahu menahu tentang ini, tika meminta kami untuk merahasiakan semua ini"
"pantas kami mencari nya di seluruh rumah sakit bahkan sampai ke pelosok pun kami tak menemukan nya"
"yah dan maaf apa tuan yuda ada sangkut pautnya dari kejadian empat tahun yang lalu? " tanya dea yang sedari tadi memperhatikan interaksi yuda dan tika seperti bukan hanya saudara saja
"ya yuda lah yang menyebabkan tika pergi dari bali dan menghindari setiap orang yang ia kenal selain kalian"
"oh ****,,, andai tika cerita semuanya ga bakal gw undang tuan yuda kesini apa lagi sampai mengenalkan nya di hadapan para tamu" keluh ari
"dan bodohnya lagi kita juga ga sadar kalo mereka saudara yang,, padahal kita pernah ketemu dia setelah kelulusan SMA waktu itu" jelas dea
"iya yang,, kita susul mereka" ajak ari pada dea namun di cegah oleh bayu
"biarkan mereka selesaikan urusan mereka,, karena selama empat tahun ini yuda benar-benar menunjukkan keseriusan nya mencari tika dan dia sangat menyesal"
********
sementara di taman hotel itu hanya ada keheningan yang tercipta
yuda yang mengajak tika untuk berbicara bukannya memulai malah menatap tika lekat
ada perubahan di wajah nya, ya tika terlihat lebih dewasa dan lebih cantik meski tak ada polesan makup di wajahnya
yuda terpesona dengan wajah itu hingga melupakan niatnya mengajak tika ketempat ini
Deg
rasanya seperti di tusuk belati tepat di hati yuda saat mendengar panggilan tika terhadapnya
Tuan? sebegitu bencinya dia hingga mengubah panggilan nya dulu? serasa mereka baru mengenal, serasa ada tembok kokoh yang membentengi mereka
"tuan? kenapa kamu rubah panggilan mu menjadi tuan? " ucap yuda menahan marah tapi tetap saja kata-kata nya menyiratkan kemarahan di hatinya
"kenapa? anda keberatan?"
yuda mengusap wajahnya kasar mencoba untuk tidak terpancing emosi karena niatnya bukan untuk berdebat tapi meminta maaf dan melanjutkan kesepakatan mereka
"aku minta maaf atas kata-kata dan perbuatan ku waktu itu, harusnya aku tak melakukan nya saat aku sudah membuat kesepakatan dengan mu"
sakit rasa itu yang tika rasakan bahkan rasanya lebih sakit dari kejadian empat tahun lalu
rasanya seperti menyayat kembali luka yang sudah mengering
"saya sudah melupakan nya tuan dan saya pun sudah menjalani hidup saya dengan lebih baik saya sudah bahagia dengan hidup saya saat ini jadi saya harap tuan pun juga"
"tidak,, aku bahkan merasa hidupku lebih buruk saat kehilngan ibu, saat ayah menikah lagi dan saat Callista meninggalkan pernikahan kami yang tinggal menghitung hari,,, empat tahun ini adalah hari terpuruk ku selama ini"
tika memalingkan muka tak mau melihat wajah terpuruk yuda saat ini jujur ia mulai luluh tapi ia sadar tak boleh luluh ia tak mau sakit untuk kesekian kalinya
"aku mohon maafkan aku tika dan kita mulai lagi semua seperti beberapa bulan sebelum kejadian empat tahun itu" pinta yuda yang saat ini bersimpuh dihadapan tika dan jangan lupakan tangannya yang sedari tadi mengeggam tangan tika