
aku membuang nafas berat ku,,untuk apa dia ngajakin ketemu bukannya semua sudah berakhir
aku tidak ingin mendengar apapun darinya meski semua terasa seperti mimpi
hingga beberapa hari belakangan ini dia lebih sering menghubungi ku meminta ku untuk bertemu
jujur aku jengah dengan semua pesan yang dia kirimkan
hingga ku putuskan untuk menemuinya , mungkin setelah pertemuan kami dia akan berhenti menganggu ku dengan pesan pesan nya
📱 me :
ok kita ketemu di cafe pelangi sore nanti jam 3
ku kirim kan pesan pada mas radit untuk bertemu sore ini semoga keputusan ku tepat dan dia tak lagi menghubungi ku
******
cafe pelangi
ku edarkan pandangan ku mencari sosok yang akhir-akhir ini menganggu ku
saat mata ku tertuju di sudut ruang cafe dia melambangkan tangan pada ku
lantas ku hampir dia yang mungkin sudah lama duduk disini
"maaf aku baru pulang" kata ku basa -basi
"ok aku selalu senang menunggu mu" gombal nya
"to the poin aja mas radit mau ngomong apa? " tanya ku tanpa basa basi
"kamu ga pesen makan atau minum dulu? " tanyanya
"maaf aku lagi puasa" bohong ku menghindari basa basi
"aku minta maaf untuk semua yang telah terjadi, aku ga bisa menepati janji ku sama kamu karena aku ga bisa nolak Winda, kalo aku nolak Winda sama saja aku menghancurkan karir yang selama ini aku bangun" belanya
jadi karena karir dia tega ngelakuin itu ke aku
"tapi kenapa mas ga bilang terus terang sama aku dari awal kenapa harus ditutupin maksud ya apa? "
aku mengernyitkan dahi"berarti selama ini mba Winda sudah tau tentang aku"
"iya aku selalu bilang kalo kamu gadis yang aku cintai dan sedang ku perjuangkan meminta restu orang tua ku, tapi karena dia yang berkuasa atas perusahaan dia mengancam ku akan menghancurkan karir ku kalo aku tak mau mengikuti kemauannya".
" termasuk melakukan hubungan terlarang? "tanya ku
sontak mas radit menegang saat ku ucap kata itu
" maaf kalo itu aku khilaf"
aku hanya terseyum sinis kearahnya mendengar pengakuan darinya
"maaf untuk semuanya tik" ucapnya sambil mengenggam tangan ku seketika aku langsung menepis genggaman tangannya
"sudah kan bicaranya aku pamit" kata ku hendak beranjak dari duduk ku tapi mas radit dengan cepat memegang tangan ku meminta aku duduk kembali
"benar laki-laki waktu itu calon tunangan mu? " tanyanya mengintrogasi
"bukan urusan mas radi karena kita bukan siapa-siapa" jawab ku ketus
kenapa juga dia harus mengingat kan tentang kak yuda sementara aku berusaha melupakan kejadian yang menyerahkan itu
"tapi setidaknya dia bukan hanya pelarian sesaat mu tik"
aku tersenyum miris mendengar ucapannya
"peduli apa mas radit tentang itu"
"jelas aku peduli tik kamu orang yang mas cintai"
"stop dengan pembahasan kita semua sudah berakhir mas udah nikah sama mba Winda dan aku bukan siapa-siapa mas jangan campuri urusan ku mau aku pacaran, tunangan atau pun nikah dengan siap aja itu hak aku mas ga berhak mengatur ataupun mencampuri urusan ku, " ucap ku penuh emosi
"aku rasa sampai disini pertemuan kita jangan ganggu aku lagi permisis" aku berlalu pergi setelah menumpahkan kekesalan ku pada nya
sakit yang dia berikan saja belum sembuh masih saja dia memperdulikan ku
sama saja diam mempermainkan perasaan ku sok peduli sok care padahal setelahnya di hempaskan