From Nurse To Chef

From Nurse To Chef
part 54



"yah ban motor ku kempes" keluh lista saat melihat kondisi ban motor nya yang kempes


"bareng aja yuk" tawar ku


"terus motor aku gimana nasibnya? " keluh lista


"iya juga ya" sejenak aku berfikir mencari solusi untuk lista tak tega juga aku melihat dia kesusahan seperti saat ini


"eh bukannya tak jauh dari sisi ada tukang tambal ban list, gimana kalo kita dorong gantian" usul ku


"yakin mau dorong gantian"


"yakin, aku juga ga tega kamu dorong sendirian"


"yaudah deh yuk" akhirnya kami pun memutuskan untuk mendorong motor lista secara bergantian


namun apes menimpa kami tambal ban yang terletak tak jauh dari RS ternyata tutup


terpaksa kami harus mendorong motor lista mencari tamabal ban lainnya


tin tin tin


suara klakson mobil menghentikan kami dan sepertinya aku tak asing dengan mobil ini


sang pengemudi menepikan mobilnya tepat di depan sepeda motor kami


ternyata kak Yunda keluar dari pintu belakang mobil itu


"kenapa? " tanya kak yuda setelah berdiri di depan kami


"OMG tika ini cowok ganteng banget nyamperin kita" teriak histeris


aku memutar bola mata ku jengah


"motor temen ku bannya kempes" jawab ku


kak yuda nampak melihat motor yang aku dorong karena giliran ku mendorong motor lista


"kamu pulang bareng aku, temen mu biar bawa motor kamu, nanti sopir ku yang urus motor temen mu, besok bisa gantian di kampus" ucap kak yuda setelah itu berjalan mendekati mobil nya dan berbicara dengan sang supir


"kamu kenal dia tik" tanya lista


"kak yuda" jawab ku singkat


"kebiasaan" sahut ku sambil berlalu meninggalkan lista


"ini pak kunci motor nya nanti anter aja ke rumah" ucap ku sambil menyodorkan kunci motor lista


"lista duluan jangan bengong nanti kesambet" goda ku sambil membuka pintu mobil


"kenapa ga telpon bengkel" tanya kak yuda di sela perjalanan kami


"ya kali kak anak kaya kita ban kempes aja telpon bengkel, yang ada ga bisa makan sebulan"


nampak kak yuda mengeryitkan dahi


"lista anak kos jadi harus berhemat" jelas ku


"kamu dapat jatah jajan berapa dari ayah" Tiba-tiba kak yuda menanyakan hal pribadi ku


"ya lumayan sih" jawab ku tak mau berterus terang


"kalo lumayan kenapa ga buat bantu temen kamu telpon bengkel"


"ya kali kak uang saku aku buat bayarin bengkel lista, "keluh ku"


"lh kenapa"


"uang saku aku buat jajan sama kebutuhan kuliah aku kak, kalo ada sisa ya di tabung buat keperluan yang tepat"


"ada lima juta sebulan" tanya kak yuda


''lima juta? bisa sambil shoping sama nongkrong di cafe duit segitu mah"


"ayah ga ngasih kamu uang saku"


"pernah pakdhe mau kasih uang saku ke aku dari aku masih di kampung, tapi ayah menolak cukup pakdhe membiayai ku masuk kuliah sampai lulus dan mengizinkan ku tinggal di rumahnya itu sudah lebih dari cukup, untuk uang saku ayah bersikeras untuk tetap memberikan, ayah ga mau lepas tangan begitu saja dengan anak nya"jelas ku


"ini" ucap kak yuda menyodorkan sebuah kartu dari dalam dompet nya saat kami sampi di garasi rumah


"buat jajan kamu, kamu bilang kamu minta aku bersikap selayaknya saudara seperti aku bersikap pada mawar dan rista, jadi Terima dan gunakan untuk jajan, aku juga memberikan nya pada mereka berdua" terang kak yuda


dengan sedikit ragu aku menerima kartu itu dan memasukkan nya kedalam dompet


"Terima kasih, " ucap ku sambil berlalu keluar mobil