
***yuda pro**v****
hari itu kami bersiap untuk pulang kampung halaman
sebenarnya aku malas tapi karena permintaan eyang sepuh aku tak bisa menolak
bagaimanapun juga beliau orang tua dari ayah
aku harus menghargai keinginannya untuk sowan karena jujur semenjak meninggal nya ibu aku tak pernah lagi ikut pulang kampung ayah, lebaran sekali pun
terlebih saat ayah sudah kembali menikah jangankan untuk pulang kampung pulang kerumah ku pun aku engan
kami berangkat selepas subuh rasanya canggung sekali dalam mobil bersama tante wati dan tika karena jujur aku masih saja kesal dengan mereka berdua
untung saja rista bocah bar bar itu lebih banyak bicara dan mawar yang lebih banyak menanggapi dibandingkan yang lain
menjelang dzuhur kami sempatkan mampir di salah satu mini market sekaligus menunggu adzan dzuhur untuk menunaikan shalat sekalian istirahat sejenak
dari kami hanya tika yang tak ikut shalat katanya berhalangan
kami meninggalkan tika di depan mini market tersebut dan berjalan menuju masjid di sebrang
aku keluar masjid terlebih dahulu saat ku langkahkan kaki ku kembali ke mini market ku lihat tika sedang berbicara dengan seorang lelaki tampaknya dia sangat bahagia
namun senyumnya seketika pudar saat seorang perempuan datang menghampiri mereka selanjutnya kedua orang tersebut bergegas menuju mobil mereka
saat aku mulai mendekat tika nampak buru-buru menyeka air matanya
biarlah aku tak mau bertanya bukan urusan ku juga
setelah semua menyelesaikan shalat kami melanjutkan perjalanan
tempat yang kami tuju pertama adalah rumah tika karena rumah nya yang paling dekat saat ini
gadis itu berhambur lari memasuki rumah saat aku menghentikan mobil ku di halaman rumahnya
dia sampai lupa barang bawaan nya belum di turunkan
setelah itu ayah dan yang lain menyusul masuk ke rumah
"eit tunggu bantu kakak bawa barang tu bocah" kata ku menarik tangan rista yang hendak berlari menyusul yang lain
meski cemberut gadis bar bar itu pun mengikuti ucapan ku
saat aku masuk betapa kagetnya aku saat ku lihat dia sedang memeluk eyang lastri berarti tika sepupu jauh ku dari ayah? bukan saudara tante wati?
astaga jadi aku salah paham selama ini? mau minta maaf sekarang ah terlalu gengsi untuk ku, sudahlah lain kali saja aku minta maaf nya untuk saat ini biarkan aku bersikap lebih baik lagi padanya
*****
beberapa hari berlalu kami di kampung sore itu Muti saudara sepupu ku bilang kalo tika mau jemput rista untuk buka bersama dengan teman-temannya
"ga ada buka bersama di luar apalagi sama orang yang ga dikenal"kata ku saat rista minta izin
" ga kenal gimana orang bareng kak tika juga"sanggahnya
"yang lainnya kan kamu ga kenal" aku masih kekeh dengan pendirian ku
"udah biarin rista buka bersama ama tika kenapa sih kak" kata mawar yang baru keluar dari kamarnya
"ini di kampung orang war, rista ga tau tempat ini kalo ilang gimana"
"ya udah kakak ikut aja sekalian ngawasin rista kalo gitu," usul mawar
"ga kak yuda ga asik diajak jalan yang ada kaya tahanan lagi diawasin polisi aja akunya" tolak rista
sejenak aku terdiam memikirkan usulan mawar
"ok kakak ikut kalian"
"ga mau" rista masih kekeh dengan pendirian nya
"ga mau apa ga sama sekali? " ucapku sambil menunjukkan wajah datar ku