
pagi ini setelah menunaikan shalat subuh berjamaah kami sudah bersiap untuk melakukan perjalanan menuju kampung halaman ku
sepanjang perjalanan karena masih pagi jadi suasana masih terasa sepi
tapi susana di luar berbanding terbalik dengan dengan suana di dalam mobil
karena rista tak hentinya berceloteh ria mencairkan suasana dalam mobil
entah seperti apa situasi biasanya ketika keluarga ini berkumpul bersama seperti ini
yang aku tangkap ada rasa kaku di sini untung rista dapat mencairkan susana
hingga menjelang dzuhur kami telah sampai di kampung halaman ku
tempat pertama yang kami tujuan adalah minimarket untuk sekedar membeli oleh-oleh untuk keluarga di kampung
kami sepakat untuk sekalian menunaikan shalat dzuhur di masjid terdekat karena adzan sudah berkumandang
karena aku sedang berhalangan jadi ku putuskan untuk duduk di depan minimarket sementara yang lain menunaikan shalat
hingga pandangan ku tertuju pada sosok yang tak asing untuk ku
sosok yang ku tunggu ke datangannya selama dua tahun terakhir ini
"mas radit" sapa ku berbinar saat dia keluar dari minimarket
"tika" katanya nampak terkejut saat menoleh ke arah ku
aku beranjak dari duduk ku menghampiri nya
"mas radit kapan pulang? " tanya ku
"em... udah seminggu tik, apa kabar? " ucapnya sambil celungukan seperti menyembunyikan sesuatu dari ku
"em..... aku... "
"mas....bantuin dunk bawain belanjaan nya" belum selesai mas radit berucap tiba-tiba muncul sosok perempuan cantik dengan dress selututnya dan tunggu dengan perut sedikit membuncit berucap dengan sedikit manjanya
aku masih menerka nerka siapa sosok perempuan tersebut kalo saudara nya aku seperti belum pernah melihat nya
ku tatap mas radit yang bertambah gugup ketika sosok tadi muncul diantara percakapan kami
"ah iya sini belanjaan nya" ucap mas radit sambil mengambil barang belanjaan dari tangan perempuan tersebut
"ah Hai kamu temen mas radit ya kenalin aku winda istri nya mas radit" ucap perempuan tadi seolah memberikan hantaman besar di dada ku
dia menyodorkan tangannya sambil tersenyum manis kepada ku
"ah iya aku teman mas radit, tika" balas ku sambil ku paksakan senyum ku dan ku tahan agar mata ku yang sudah berembun ini tak mengeluarkan cairan bening nya
"senang kenalan sama kamu, oh ya minggu depan datang ya di acara resepsi sekaligus tujuh bulanan kami,,, di rumah mas radit" kata winda
"ah iya nanti aku usahakan kalo belum balik surabaya ya" kata ku beralasan
"oh ok kalo gitu kami duluan ya sampai jumpa" kata winda sambil berlalu meninggalkan ku
ku tatap kepergian mas radit dan winda dengan penuh tanda tanya
berharap mas radit akan menjelaskan tentang apa yang barusan terjadi
tapi nyatanya tidak sama sekali jangankan menjelaskan menoleh pada ku pun tidak
sesak rasnya dada ku ingin ku tumpahkan air mata ku saat itu juga tapi langsung ku kuatkan diri untuk tidak mengeluarkan air mata ku saat melihat rombongan pakdhe sudah kembali dari masjid
ku hapus setetes air mata yang sudah menganak di mata ku agar tak menimbulkan kecurangan saat yang lain sudah datang