
di sisni tika saat ini di ruang tunggu keberangkatan pesawat dia menatap surat pindah tugas nya di Rumah Sakit pusat di jakarta
dia sudah membulatkan tekat meski harus kehilangan apa yang sudah ia gapai selama ini
"*bagaimana kalo saya tidak atau berubah pikiran untuk tidak memenuhi surat perintah ini"
"itu otomatis suster tika secara tidak langsung mengundurkan diri dari Rumah Sakit ini, tapi suster tika masih bisa meneruskan karir anda di Rumah Sakit lain karena dalam surat pindah tugas tersebut kami lampirkan surat pengalaman kerja anda selama di sini*"
masih terngiyang percakapan pagi tadi dengan pimpinan Rumah Sakit mengenai pemindah tugasan untuk dirinya
tika memasukkan dokumen-dokumen teesebut kedalam tas nya setidaknya dia sudah mengantongi surat pengalaman kerja selama ini jadi jika suatu saat ia masih berniat menjadi perawat lagi ia tak akan sulit mendapatkan pekerjaan
setelah memasukkan dokumennya tika membuka ponselnya membuka sim card melepasnya dan membuang ke tempat sampah kemudian menggantinya dengan yang baru
tika bertekat menutup akses komunikasi dengan yuda dan berniat untuk mengejar mimpinya tanpa harus menoleh kebelakang
dan saat panggilan untuk keberangkatan pesawat yang ia tumpangi terdengar tika bergegas menuju pesawatnya melangkah dengan yakin bahwa ia wanita yang kuat dan mandiri
tika mendapat tempat duduk di dekat jendela setelah menempatkan diri ia langsung memasang handset ke telinganya mendengarkan alunan musik sambil memejamkan matanya
hingga tak terasa kurang lebih 1 jam mengudara tepukan halus di pundaknya membangunkan tidurnya
"bangun nak kita sudah sampai" ucap wanita paruh baya yang kebetulan duduk di samping tika
"terima kasih bu" ucap tika sambil tersenyum
tika melangkah keluar bandara sambil menyeret koper di tangannya
hingga dia mendapati sosok yang begitu ia rindukan karena sudah beberapa tahun ini tak ia jumpai melambaikan tangan padanya
tika tersenyum merentangkan tangan berlari kecil memeluk sahabat yang ia rindukan
"gila kamu yah datang-datang ga kasih kabar" ucap ari sambil menoyor kepala tika
"surprise... " ucap tika sambil tertawa
"hahahhaha" tika makin terkekeh
"awas aja kalo kedatangan kamu ga bisa gantiin kegagalan meeting aku siang ini"
"tenang bos,,, aku bakal ganti rugi kok santai aja yuk" ucap tika sambil menggandeng lengan sahabat nya untuk segera pergi dari bandara
selama perjalanan tika dan ari bersenda gurau seperti saat mereka masih SMA
mobil yang di kendarai ari melaju menuju hotel milik nya untuk menui sang papa karena disana jugalah kantor sang papa berada
"assalamu'alaikum pa" ucap tika saat ari membukakan pintu untuknya
"waalaikumsalam anak gadis papa" jawab papa ari
tika menghampiri papa ari menjabat tangan dan mencium tangan papa ari dan menerima pelukan dari sang papa seperti anak dan ayah yang telah lama tak bertemu
papa ari dan istrinya sudah menganggap tika dan sahabat-sahabatnya seperti anak sendiri bahkan dulu dari mereka SMP sampai SMA papa dan mama ari selalu memberikan hadiah liburan kemanapun yang mereka mau
"apa gerangan yang mendorong anak gadis papa ini bepindah haluan hem? ''
" aku sudah mendapatkan apa yang orang tua ku inginkan sekolah keperawatan dan menjadi perawat sekarang bisakah aku menwujudkan impian ku pa"
"tentu saja, tapi apa orang tua mu sudah mengetahui nya? "dan hanya di jawab dengan gelengan kepala oleh tika
" hem,,, kenapa nak"
"bisa kan pa, kalo tika ga perlu kasih alasa nya" ucap tika sambil menundukkan kepala dan meremas kedua tangannya
"huft,,,, baiklah sekarang kita pulang mama sudah menyiapkan makan siang untuk kita, ari telfon dea ajak makan siang di tumah"
"ok pah" ucap ari semangat