
"will you merry me" ucap pak Widi sambil menyodorkan kotak merah bludru yang tersemat cincin di dalamnya
aku diam mematung tak merespon ucapannya aku masih syok
setengah jam yang lalu dia mengirim kan pesan berupa permintaan tolong aku yang saat itu baru keluar dari ruang ganti begitu kaget menerima pesan dari pak Widi
tak biasanya dia mengirim pesan seperti itu tanpa menunggu lama aku bergegas ke ruangan nya
dan saat aku masuk aku dibuat semakin takut karena keadaan ruangan itu begitu gelap
aku masuk dengan mengendap dan perlahan sambil meraba sekitar ku tak mau aku menabrak meja atau apa pun
ceklek
Tiba-tiba pintu tertutup aku seketika membalikkan badan dan saat itu juga lampu menyala
pak Widi berjalan mendekat dengan senyum merekah di bibirnya dan sebuket bunga mawar di tangannya
setelah itu dia menyodorkan bunga dan sebuah kotak
"tik, will you merry me" tanya nya sekali lagi membuyarkan lamunan ku
aku bingung harus menjawab apa, di satu sisi aku nyaman berada di dekat pak Widi dan di sisi lain aku masih takut menjalin sebuah hubungan
tapi bukan kah dulu mas radit tak memberikan kepastian untuk ku sementara pak Widi jelas saat ini dia sudah memberikan kepastian untuk ku tentang perasaan nya
tanpa di komando aku luluh dengan semua itu dan tanpa ku sadari aku mengangguk tanda setuju
"yess" ucap nya girang kemudian beranjak ingin memeluk ku
sesaat aku memundurkan langkah ku
"maaf belum muhrim" ucap ku sambil menunduk
"ah iya maaf aku terlalu senang, mana jarinya" pinta pak Widi dan aku pun mengulurkan tangan kiri ku
"tapi aku masih kuliah dan ingin menggapai karir ku dulu, apa ga papa kalo kita merried nya ga buru-buru" ucap ku setelah pak Widi selesai menyematkan cincin di jari manis ku
"em" jawab ku sambil mengangguk
"kita pulang langsung ke rumah mama,motor mu taruh di sini saja," ajak pak Widi
aku mengangguk dan mengikuti langkahnya, ah tidak bahkan kami berjalan beriringan seperti biasa menuju parkiran
********
"assalamu'alaikum ma" ucap pak Widi lantang saat kami memasuki rumah yang terbilang mewah mesti tak semewah rumah pakdhe
"waalaikumsalam nak" ucap mama pak Widi yang masih terlihat muda diusia senja nya
beliau berdiri menghampiri kami tapi tak sendiri ada seorang wanita yang kisaran diatas ku usianya
"mah aku bawain kado spesial buat mama sesuai janji ku"
"oh ya apa? " tanya mama pak Widi antusias
"calon mantu" jawab pak Widi sambil menarik tangan ku untuk lebih mendekat
"assalamu'alaikum sore tante" ucap ku sambil mengulurkan tangan mama pak Widi tampak berbinar saat menjabat tangan ku dan beliau langsung memeluk ku tapi lain dengan seorang wanita yang berdiri di belakang mama pak Widi dia nampak kesal dengan menatap ku tajam
"ah Terima kasih nak sudah mau menerima Widi yang sudah tua ini siapa nama mu sayang"
"tika tante"
" ma aku belum tua ma cuma udah mateng aja"
"sama aja, ayo sayang kita duduk oh iya kenalin ini lusy anak kemen mama"
"tika" ucap ku sambil mengulurkan tangan
"lusy" jawabnya ketus sambil menjabat tangan ku