
"yuda di tunggu bapak di taman belakang nak" kata tante wati saat aku masuk ke dapur untuk mengambil minum
aku tak menyahut ucapannya namun aku segera menyusul ayah di taman belakang setelah menghabiskan segelas air
"ayah mau bicara apa? " tanya ku karena sudah menjadi kebiasaan ayah saat akan berbicara hal penting pasti mengajak ku duduk di taman belakang
biar lebih nyaman kata ayah
ayah yang tadi sedang memberi makan ikan-ikannya seketika menoleh dan beranjak mengajak ku duduk di gazebo
"semenjak putus dengan clarissa kamu belum ada pasangan lagi kah? " tanya ayah tenang
ah ayah kenapa malah bahas masalah clarissa lagi
jujur aku berusaha melupakan nya tapi sampai saat ini aku masih sangat mencintai nya karena dia wanita pertama yang hadir di hati ku
"kenapa bahas dia ayah" bukannya menjawab aku malah balik bertanya pada ayah
"bukan dia tapi kamu" kata ayah membenarkan ucapnya
"belum ada yang cocok" jawab ku beralasan
"kalo gitu dengan tika saja" ucap ayah enteng
aku kaget dengan ucapan ayah
"eyang sepuh dan eyang lastri kemarin meminta ayah untuk menjodohkan kamu dan tika agar kamu secepatnya ada yang menemani di bali, dan eyang sepuh juga berharap sebelum beliau di panggil yang Maha Kuasa bisa menyaksikan kamu menikah"
seketika aku langsung tersulut emosi mendengar penuturan ayah
bukan aku tak menghargai permintaan mereka tapi kenapa harus dengan perjodohan segala dan ini dengan tika gadis yang masih bau kencur itu astaga bagaimana jalan pemikiran mereka
"aku ga bisa" kata ku berusaha meredam emosi ku
"mau ga mau kamu harus menikah dengan tika, kami orang tua sudah sepakat dan kalian tidak bisa membantah, kami cuma tak mau kamu mendapatkan pendamping yang salah lagi meninggalkan mu saat menjelang pernikahan kalian"
bukanya semakin mereda emosi ku tami semakin bertambah berkali-kali lipat saat ayah mengingat kan luka yang lama ku kubur terlebih saat ini clarissa masih menempati sepenuh hati ku
saat akan ku buka kamar bertepatan dengan tika yang keluar dari kamarnya
ku tatap gadis itu dengan sorot mata ku penuh kebencian padanya
aku sendiri tak tau kenapa aku jadi emosi melisa wajah gadi itu
ku banting pintu kamar keras dan aku bersiap untuk kembali ke Bali
kuturuni anak tangga ku lihat gadis itu duduk dengan rista sedang menikmati sarapannya
ku layangkan tatapan penuh kebencian ku lagi padanya sebelum aku benar-benar pergi dari rumah ini
*yuda prov end*
seminggu setelah pertemuan ku dengan mas radit hari itu dia benar-benar sudah tak menghubungi ku lagi aku bisa bernafas lega tanpa gangguan darinya
tok tok tok
"kak tika tolong" ucap rista panik dari sebrang pintu
aku yang mendengar teriakan rista segera berlari keluar
"kenapa rista" tanya ku mendapati rista tampak pucat dan panik
"ayah kak tolong" ucapnya sambil menarik aku turun ke ruang keluarga
"astaghfirullah pakdhe kenapa budhe"tanya ku panik
" tika tolong pakdhe mu penyakit nya kambuh" ucap budhe panik
seketika aku langsung melakukan pertolongan pertama pada pakdhe sebisa ku namun sebelum nya aku meminta rista untuk menghubungi ambulance
setelah mendapat pertolongan pertama dariku tak begitu lama ambulance pun datang dan pakdhe segera di larikan ke rumah sakit
budhe menemani pakdhe yang di bawa ambulance sementara aku dan rista menyusul dengan sepeda motor ku