
kenapa? " tanya rista saat kami keluar dan melihat rista dengan muka cemberut nya
"tau kak yuda riber pake acara mau ikut segala" jelas rista
"aku jagain rista ga ada penolakan, kalo ga mau berarti ga ada acara jalan-jalan" jelas ku
"oh ok" kata tika sambil berlalu menuju mobil temannya
"kamu sama rista satu mobil sama aku" kata ku menghentikan langkah mereka
tika menoleh sementara rista tetap mematung
"aku jagain rista jadi rista sama aku dan kamu penunjuk jalan" jelas ku
gadis itu nampak menghembuskan nafas kasarnya"ok bentar aku bilang teman-teman ku dulu, rista masuk duluan gih"punyanya
setelah tika berbicara dengan temannya akhirnya dia masuk mobil
"aku bukan sopir" kata ku
mereka tetap tak bergeming dengan ucapan ku akhirnya ku lakukan mobil mengikuti arahan tika
******
"kita makan disini? " tanya ku heran saat mendapati teman-teman tika berhenti di sebuah warung lesehan
iya kenapa? " tanya rista heran
"ga ada cafe apa gitu? "
"ada di sekitar sekolah ku dulu tapi lumayan jauh juga keburu waktu maghrib tiba, emang kenapa? "tanya nya balik
"masa iya makan di pinggir jalan"
dia memutar bola matanya tanpa menjawab ucapan ku
"udah kak ga usah perduliin kak yuda kita turun aja kalo dia ga mau makan di sini biarin pulang sana, dasar ribet" ucap rista sewot sambil menarik tika untuk segera keluar dari mobil
akhirnya kuputuskan mengikuti mereka meski agak risih makan di pinggir jalan seperti ini
karena jujur ini baru pertama kalinya aku makan di pinggir jalan
saat mereka menawarkan menu pada ku aku minta untuk disamakan saja karena aku belum tahu rasa makanan disini
ku lihat mereka menikmati makanannya akhirnya aku pun ikut menikmati
dan ternyata makanan disini cukup enak pantas mereka memilih makan di sisni
di tengah acara makan kami yang awalnya hening tiba-tiba tika dan teman-temannya sibuk membiarkan orang yang sedang duduk tak jauh dari meja kami
dan saat aku ikut melihat orang yang mereka bicarakan ternyata mereka yang tika temui saat di depan mini market tempo hari
dari obrolan mereka yang aku tangkap seperti nya cowok yang tika temui itu pacar tika dan cewek di sebelah nya istri dari pacar tika
miris sekali nasih gadis ini di tinggal nikah tanpa ada kata putus
ah kenapa aku jadi teringat tentang nasib ku sendiri yang hampir sama dengannya
"ah kalo jodoh memang ga akan kemana" sebuah suara tiba-tiba muncul di belakang kami
dan tanpa basa basi seorang cowok tiba-tiba duduk di sebelah tika dengan senyum saat menatap tika
"bapak ngapain di sini? " tanya tika sedikit sewot
"mau ngedate lagi sama kamu" jawabnya enteng
"bapak jangan ngawur yah" balas tika sewot
"ga ngawur tapi buka bersama bisa di bilang ngedate juga kan? " katanya tak mau kalah
"terserah apa kata bapak, PERMISI" setelah menyelesaikan ucapannya tiak beranjak dari duduknya dan keluar begitu saja tanpa menghiraukan yang lain
sementara teman-temannya sibuk menerka-nerka sebelum akhirnya salah satu dari mereka beranjak menuju kasir dan yang lain menyusul tika
"biar aku yang bayar semua" kata ku saat salah satu teman tika mengeluarkan dompet dari saku celana nya
"ga usah kak aku aja" jawabannya
aku tak menyahut segera ku berikan lima lembar uang warna merah pada kasir
"ini kelebihan mas" kata sang kasir
"lebihannya ambil saja" ucap ku sambil berlalu