
hari ini aku pulang lebih awal karena masih banyak dosen yang belum bisa masuk hari ini
aku masih terpikirkan tentang sikap kak yuda kemari aku butuh menenangkan diri sejenak
semakin cepat aku pulang semakin aku merasa terbebani tentang sikap kak yuda kuputuskan untuk melahukan motor ku ke taman
mungkin dengan sedikit jalan-jalan di taman akan sedikit mengurangi beban ku
setelah memarkirkan motor kulangkahkan kaki mengelilingi taman saat menemukan bangku kosong segera ku dudukan diri di sana
angin sore ini begitu menghipnotis ku hingga aku bisa melupakan beban yang ku rasa saat ini
"ice cream seperti nya bisa menenangkan hati yang kurang baik" sebuah suara dan sebungkus ice cream membuyarkan lamunan ku
ku tengok sumber suara di belakang ku ternyata pak Widi sudah berdiri di belakang bangku ku dengan senyuman khas nya
"aku lihat dari tadi ngelamun terus" ucapnya saat sudah duduk di sebelah ku dengan masih menyodorkan sebungkus ice cream
"Terima kasih" kata ku saat menerima ice cream dari pak Widi
"kenapa masih dengan masalah ditinggal nikah? " aku sontak kaget mendengar penuturan pak widi dari mana dia tau aku di tingal nikah
"kemarin pas di acara nikahan kamu hadir dengan cowok banyak kasak kusuk tentang mu"
aku hanya manggut-manggut mendengar penjelasan nya
"bapak kenal dengan mereka? " tanya ku
"bukan cuma kenal, kita senasib" jawabnya disertai senyum kecut di wajahnya
"hah? " aku masih belum jelas denga ucapannya
"Winda mantan pacar ku lebih tepat nya kami belum putus sampai aku mendapatkan undangan pernikahan mereka" aku reflek membekap mulut ku ternyata nasibnya lebih miris dari ku
"kami masih berhubungan baik selama ini hingga suatu hari dia mengirimkan undangan pernikahan bisa di bayangkan bagaimana perasaan ku"katanya sambil menerawang kala itu
"mau berbagi cerita? " tanya nya
" tahun itu waktu yang dia berikan untuk aku menyiapkan hati melihat dia di pelaminan" ucap ku sendu
"dan bodohnya saya selama dua tahun pula saya berusaha menjaga hati tapi ternyata hati yang saya jaga disiapkan untuk sebuah luka" lanjut ku sambil menyeka buliran bening yang lolos dari sudut mata ku
"kaya anak kecil aja makan ice cream belepotan" ucapnya sambil menyeka sisa icecream di bibir ku dengan sapu tangannya
"eh,,, " ucap ku reflek menepis tangan pak Widi karena kaget dengan tindakannya
"mau temani saya makan? " tawar pak Widi
"boleh pak, dari siang belum makan heheh" jawab ku sambil tertawa
"cafe depan aja gimana? "
"ok"
akhirnya kami beranjak dari duduk menuju cafe sebrang taman dengan berjalan kaki
"mau pesan apa? " tanya pak Widi saat membuka buku menu
"emm.... cumi asam pedas aja pak sama minum nya jus alpukat"
"ok mba aku samain aja kata pak Widi kepada pelayan cafe"
"baik kak mohon ditunggu pesanannya" ucap pelayan cafe sambil berlalu
"yang kemarin di acara kondangan beneran calon tunangan kamu? " tanya pak Widi memulai obrolan kami
"oh kak yuda? dia sepupu jauh saya" jawab ku
"kemarin bukannya kamu dan dia kompak bilang calon tunangan? "
"iya sekedar main peran pak," jawab ku jujur
"hahhahahha" pak Widi malah tertawa terpingkal pingkal
"ada yang lucu pak? " sebal aku mendengar tawa pak Widi
"kenapa harus main peran segala" katanya mulai menghentikan tawanya
"biar ga kelihatan tragis asal bapak tau ibu mas radit pernah menghina saya karena ga selevel dengan keluarga mereka, pas ada kak yuda ya udah main peran aja kebetulan dia lebih ganteng dan tajir meski suka nyebelin" kata ku lirih di ujung kalimat ku