From Nurse To Chef

From Nurse To Chef
part 27



"kita makan di sini? " tanya kak yuda saat kami sampai di warung lesehan favorit ku


"iya kenapa? " tanya ku heran


"ga ada cafe apa gitu? "


"ada di sekitar sekolah ku dulu tapi lumayan jauh juga keburu waktu maghrib tiba, emang kenapa? "


"masa iya makan di pinggir jalan"


aku mulai memutar bola mata ku jengah masih ribet juga ni orang


"udah kak ga usah perduliin kak yuda kita turun aja kalo dia ga mau makan di sini biarin pulang sana, dasar ribet" ucap rista sewot sambil menarik ku untuk segera keluar dari mobil


"kenapa lama sih tik" tanya dea saat aku dan rista ikut bergabung dengan yang lain


"biasa kak manusia kutub bikin ribet" jawab rista


"hust! " ku tempelkan jari telunjuk di bibir ku sambil melirik kak yuda yang akhirnya mengalah ikut gabung dengan kami


"oh ya mau pada pesan apa? " tanya rizal beranjak dari duduknya untuk memesan makanan


"menu favorit kita biasa gimana teman-teman" ari meminta pendapat kami


"siip" jawab ku dan dea bersamaan


"rista sama kak yuda mau apa? " tanya rizal menawarkan untuk sekalian memesan kan menu


"aku samain aja kak, kalo kak yuda tau tuh" jawab rista sambil menunjuk kak yuda dengan dagu


"samain aja" jawab kak yuda singkat


"oh ok" balas rizal sambil berlalu memesan makanan kami


rizal kembali ke meja kami bertepatan dengan adzan magrib berkumandang


dan sebelum makanan kami datang kami membatalkan puasa dengan makan beberapa cemilan yang sebelumnya kami beli terlebih dahulu


"monggo mba mas makanannya silahkan di nikmati"(ini mba mas makanannya silahkan di nikmati) ucap pelayanan yang mengantarkan makanan kami


"matur suwun mas"(Terima kasih mas) jawab kami kompak


akhirnya kami menikmati menu favorit kami yang sudah lama kami rindukan


" ah menganggu suasana saja"batin ku


hingga aku tak nampak berselera menikmati makan ku


"wah mas ternyata di sini benar enek ya makanannya, pantas jadi tempat favorit mas" ucap sang perempuan


"iya sayang" balas sangat cowok dengan mesranya


ari yang mendengar percakapan mereka sontak membalik kan badan dan mengumpat


"**** ngapain juga mereka mesti disini"


sontak yang lain menoleh kearah pandangan ari dan seketika mereka menoleh kearah ku


"udah biarin aja lanjut makannya" kata ku santai meski dalam hati ku rasanya bagai di tusuk sembilu


rizal yang duduk di sebelah ku menepuk bahuku sambil berucap"aku yakin kamu kuat"


aku hanya mengangguk kan kepala sambil tersenyum dan ku lanjutkan acara makan ku


"ah kalo jodoh memang ga akan kemana" sebuah suara tiba-tiba muncul di belakang ku


"seperti tak asing dengan suara itu" batin ku


dan benar saat aku mendongakkan kepalaku ternyata pak Widi sudah duduk di sebelah ku sambil tersenyum manis kearah ku


"ya Allah,,, kenapa dia mesti muncul juga di sini, serasa dunia ini sempit sekali" ucap ku dalam hati


"bapak ngapain di sini? " tanya ku sewot


"mau ngedate lagi sama kamu" jawabnya enteng


"bapak jangan ngawur yah" kata ku sewot


"ga ngawur tapi buka bersama bisa di bilang ngedate juga kan? " katanya tak mau kalah


"terserah apa kata bapak, PERMISI" kata ku sambil berlalu meninggalkan pak Widi dan juga sahabat-sahabat ku


belum hilang rasa jengkel ku karena bertemu dengan mas radit di acara buka bersama kami eh pak Widi yang entah datang dari mana tambah merusak mood ku