
"ehm... " sebuah suara mengagetkan ku ketika baru beberapa langkah aku memasuki rumah
ku putar badan mencari sumber suara tersebut,
tangan ku langsung lemas seketika saat mendapatkan tatapan horor dari kak yuda
yang berdiri di depan jendela
aku menunduk kan wajah tanpa berani menoleh dan menyapa nya
dia diam mengamati ku sambil terus berjalan ke arah ku tanpa ekspresi jantung ku makin tak karuan aku takut dia akan mengucapkan kata-kata indah nya ketika marah
tapi seketika aku bisa bernafas lega saat dia hanya melewati ku tanpa sepatah kata pun
aku melanjutkan langkah ku ke kamar untuk segera mandi dan menunaikan shalat sebelum waktu magrib berakhir
ceklek
setelah ku akhiri shalat ku rista tiba-tiba masuk kamar tanpa basa-basi
ku lihat dia nampak murung karena bibirnya sudah di kerucut kan
"kenapa? " tanya ku sambil melipat mukena ku
"sebel kak yuda bakal lama disini" jawabnya sewot
"lho bagus donk jadi pakdhe bisa lebih cepat sehatnya, karena setau aku selama ini pakdhe selalu merindukan kak yuda meski ga terucap tapi di lihat dari cara pakdhe yang selalu menanyakan kak yuda sudah pasti pakdhe merindukan anak nya apa lagi anak laki-laki satu-satunya" ku coba menjelaskan agar rista tak keberatan
"tapi kak yuda tuh nyebelin tau, apa-apa ga boleh, diatur"
"itu tandanya dia sayang dan perhatian sama kamu meski ga diucapkan tapi di tunjukkan dengan perbuatan"
"tapi beda kalo sama kak mawar" masih juga ni bocah ngeyel
"lah kamu aja sama kak mawar beda jauh mungkin buat kak yuda cara menujukan menujukan rasa sayang nya juga beda"
"apa karena aku ga se ibu ya dengan kak yuda" tebak nya
"ah kak tika kok jadi mellow" ucapnya sambil memeluk ku"maaf kalo aku malah jadi bikin kak tika sedih"lanjut nya
"eh siapa juga yang sedih aku mah B aja" jawab ku
"trus tadi apa coba"
"acting"ucap ku sambil beranjak dari kasur
"ah kak tika rese" teriaknya sambil melempar bantal ke arah ku
"tika belajar" sebuah suara bariton menghentikan tawa kami
"tuh kan mulai" ucap tika cemberut
"ya udah sana belajar, kakak juga mau selesaikan tugas kakak"
"kakak ngusir aku? " dengan wajah cemberut nya rista bangun dari posisi duduknya
"nah tuh tau, hus hus hus" canda ku sambil mengibaskan tangan menyuruh nya keluar
"aku do'ain jodoh kak tika itu kak yuda sama-sama ngeselin" ucap nya sambil menjulurkan lidah dan berlari keluar
lah ni bocah kenapa jadi bahas masalah jodoh ya kali aku sama kak yuda si manusia kutub itu
bisa-biaa aku ikutan beku jadinya hahahha aku malah asik terbawa kata-kata rista barusan sampai sebuah pesan di handphone menyadarkan ku
📱pak Widi
besok mas jemput no komplain titik
lah bisanya dia main ambil keputusan sendiri bisa panjang ceritanya kalo sampai orang rumah tau aku di jemput dosen ku
aku masih merasa sungkan di rumah ini meski pakdhe dan budhe selalu bilang ini juga rumah ku dan aku tak perlu sungkan bersikap biasa saja seperti di rumah sendiri
tapi mengingat ada si manusia kutub saat ini makin membuat aku tak nyaman serasa selalu diawasi olehnya