
Hari-hari setelah nya aku jarang ke kampus karena sudah tidak ada kegiatan belajar aku hanya sesekali datang untuk melengkapi administrasi untuk kelengkapan wisuda
sehari-hari hanya berkutat di dapur dengan budhe seperti pagi ini aku dan budhe sibuk membuat aneka kue untuk cemilan kami
"tik, bisa beliin bahan-bahan ini di supermarket dekat sekolah rista" pinta budhe sambil menyerah catatan bahan-bahan yang harus ku beli
"siap budhe tika berangkat ya" pamit ku
"Hati-hati"
*******
aku sibuk mendorong troli ku sambil memilih bahan-bahan yang sudah di bawakan budhe
"wah tante kita ketemu mantan calon menantu" saat aku fokus dengan tujuan ku tiba-tiba lusy dan tante ayu menghentikan langkah ku
"siang tante" sapa ku
tante ayu bukan nya membalas sapaan ku tapi malah menelisik aku dari ujung kaki hingga ujung kepala ku
sedikit risih dengan tatapan nya
"gadis kaya kamu mutusin Widi? kurang apa anak ku? " tanya tante ayu sinis
apa katanya gadis kaya aku? sebegitu rendahnya kah aku sampai tante ayu berucap seperti itu pada ku
"maaf tante kalo keputusan saya mengecewakan tante tapi saya rasa lebih baik tante tanyakan sendiri pada anak tante alasan sesungguhnya" jawab ku sambil melirik lusy
"maksud mu anak ku yang salah di sini? " kata nya sewot
"saya tidak bilang seperti itu tapi sebelum tante menyalahkan orang lain tanyakan dulu baik-baik dengan anak tante apa alasan yang sesungguhnya"
"gadis kaya dia paling juga mas Widi di jadikan pelampiasan kalo ga ada om om yang boking tante"lusy mulai menyulutkan emosi tante ayu
aku mengepalkan tangan sekuat tenaga tak terpancing dengan ucapan nya berusaha setenang mungkin meski emosi sudah menguasai ku
" jadi kamu suka jalan sama om om, ckck sayang jilbab yang menempel di kepala mu"hina tante ayu
"dapat uang dari mana dia tante kalo bukan dari om om yang ngebo.... "
"lusy cukup... " suara yang cukup tegas menghentikan ucapan lusy
mas Widi berjalan menghampiri kami
"tika kamu ga papa? " tanya mas Widi
aku tak menjawab hanya menatapnya nanar
"jangan suka melempar batu kemudian menyembunyikan tangan, yang pada akhirnya tindakan mu bisa merugikan orang lain, setidaknya katakan kalo kamu salah meski tak jujur apa kesalahn mu agar orang tua mu tak menghakimi orang lain tanpa tau yang sebenarnya" ucap ku setelah itu berlalu meninggal mereka
"dasar udah miskin sombong" aku masih mendengar umpatan lusy pada ku tak ku perdulikan ucapan karena mengingat masih di tempat umum
gila ini benar-benar gila lusy ternyata lebih parah dari yang ku bayangkan
selain hanya merayu mas Widi dia juga menyebarkan fitnah pada tante ayu
sebegitu takutnya kah dia bersaing dengan ku sehingga dia memainkan trik kotornya
ternyata orang kaya dan berpendidikan tinggi tak menjamin attitude mereka baik
aku keluar dari supermarket dengan menenteng dua kantong belanjaan ku
masih juga nasib ku belum beruntung karena mendapati mereka di parkiran aku bertemu dengan mereka
"tika tunggu" tahan mas Widi
"apa lagi, masih kurang hinaannya" tanya ku
"maaf atas ucapan mama tadi"aku hanya tersenyum sinis mendengar ucapannya
gi
" bagaimana kalo dia tau kelakuan anak kebanggaannya apa masih berani dia berucap seperti itu''ucap ku langsung bergegas masuk mobil tak mau pak tono menunggu ku terlalu lama meladeni orang-orang tak penting seperti mereka