
dalam perjalanan pulang aku lebih banyak berdiam diri
rasa kesal ku belum juga hilang meski sudah menunaikan shalat
"ketemu pacar kenapa malah cemberut" ucap kak Yuda
"dia bukan pacar aku ya" jawab ku sewot
"sekarang benci ntar suka lho" lanjutnya lagi
"amit-amit" kata ku memalingkan wajah ke jendela
"udah ah kenapa kak tika ama kak Yunda selalu berantem sih, ntar kalian jodoh lho" ucap Rista yang diam sejak tadi
"big no"
"ga sudi"
ucap ku dan kak yuda bersamaan
"tuh kan kompak berarti jodoh" ucap Rista lagi
aku memilih diam tanpa menjawab ucapan Rista
karena bocah satu ini lebih pandai dari kak yuda saat memainkan kata-kata
"kak bilang ayah sama ibu ya aku nginep di rumah kak tika" kata Rista saat aku hendak turun
"ga bisa pulang" jawab kak yuda
"kakak aja yang pulang aku mau nginep sini, kalo kakak maksa aku teriak biar eyang lastri tau kakak tak mengijinkan aku nginep di sini" bantah Rista
kak yuda nampak diam sejenak akhirnya menjalankan mobilnya
********
pagi ini setelah menunaikan shalat subuh aku kembali merebahkan tubuh ku di kasur bersama Rista
hingga suara ribut-ribut membangunkan kami dari mimpi indah
"apa sih ribut-ribut pagi-pagi" kata ku saat melihat rizal, dea dan ari sudah stay di kamar ku
aku tak menjawab ucapan dea langsung bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka rista pun mengikuti langkah ku
setelah selesai dari ritual di kamar mandi aku bergabung dengan yang lain
dari raut muka mereka nampaknya aku mencium bau-bau akan di sidang
"siapa cowok semalam? " tanya rizal memulai introgasi
"dosen pengganti" jawab ku simpel
"ga mungkin dari gelagatnya ga sekedar dosen dan mahasiswa" ari yang tak percaya dengan ucapan ku
"ck... terserah kalian percaya g" kata ku malas membahas pak widi
"dia sempat bilang bisa di bilang kalo kalian ngedate lagi kn? berarti kalian udah sering ngedate kan? " dea tak mau kalah ikut andil menginterogasi ku
"pertama aku cuma makan siang dia traktir aku karena udah bantuin ngoreksi tugas makalah, kedua kami ga sengaja ketemu pas aku lagi makan sama teman aku udah itu aja" kata ku menjelaskan
"tapi kayaknya dia suka deh sama kamu? "kata rizal
aku hanya memutar bola mata ku malas menanggapi ucapan sahabat-sahabat ku
ga di sini ga di surabaya bahasan mereka ga jauh-jauh dari urusan cinta
" tapi kayaknya jodohnya kak tika tu kak yuda deh"celetuk Rista yang sejak tadi diam mendengarkan perdebatan kami
aku langsung menepok jidat ku mendengar ucapan Rista sementara yang lain menatap penuh tanya pada Rista
"iya soalnya kak Rista sama kak yuda tuh kalo kumpul pasti berdebat melulu, belum lagi kalo ngomong suka barengan apa lagi kalo ga jodoh? " katanya Rista menjelaskan dengan asumsinya sendiri
"tapi kalo aku lihat cocok ama pak dosen sih tika nya soalnya dia humble gitu orang nya kalo kakak kamu tuh beh kayak manusia kutub, dindingin, kaku" ucap dea tanpa filter
"ehm ehm... " sebuah suara deheman menghentikan perdebatan kami dan berapa terkejutnya kami saat orang yang berdehem tadi adalah kak yuda yang sudah sejak kapan berdiri di depan pintu kamar yang memang tak tertutup
suasana seketika menjadi mencekam saat melihat sorot mata kak yuda yang begitu tajam menatap kami
"Rista pulang" titahnya pada Rista sambil berlalau
akhirnya kami bernafas lega setelah kepergian kak yuda sempat terbesit dipikiran kami akan menerima amukan dari kak yuda tapi ternyata kami aman