From Nurse To Chef

From Nurse To Chef
part 77



aku sudah memantapkan pilihan untuk menerima surat panggilan kerja di salah satu RS swasta ternama di bali


hari ini aku berangkat ke Bali dengan kak yuda


budhe, rista mewanti-wanti agar aku selalu memberi kabar kepada mereka


rasanya berat meninggalkan keluarga ini tapi demi masa depan dan karir yang menanti aku harus pergi


*****


setelah sampai di bali kak yuda langsung mengajak ku ke rumahnya


rumah dengan nuansa bali kental yang tak besar tapi terkesan asri


sampai di sana kami di sambut dengan ramah oleh bu Ratih art di kediaman kak yuda


"bi ini tika, dia akan tinggal di sini bersama kita, tolong bibi antar dia ke kamar yang sudah di siapkan" ucap kak yuda


"baik mas, mari mba saya antar ke kamar" ajak bu Ratih pada ku


"mba tika calon istri mas yuda ya? " tanya bu Ratih saat kami sampai di kamar


"hah calon istri? " aku masih terpaku dengan pertanyaan bu Ratih karena bukan bu Ratih saja yang menanyakan itu pada ku bu ya ti art di apartemen kak yuda juga pernah bertanya seperti itu pada ku


"iya calon istri, soalnya almarhum ibu pernah bilang pada mas yuda agar jangan asal membawa wanita kerumah selain calon istri" jelas bu Ratih


"ah saya sepupu jauh kak yuda bu, kebetulan saya dapat kerjaan di sini, dan pakdhe meminta saya untuk tinggal di sini" jelas ku


"begitu kah? " tanya bu Ratih tak percaya aku hanya menganggukkan kepala


"ya sudah kalo begitu mba tika istirahat dulu, kalo butuh apa apa panggil bibi saja ya" ucap bu Ratih sambil berlalu meninggal kan ku sendiri di kamar


aku beranjak ke kamar mandi untuk bersih-bersih setelah itu ku buka koper dan menyusun baju di lemari yang tersedia


kamar ini terkesan simpel mungkin karena sebelumnya kamar ini tak di gunakan jadi hanya ada ranjang, sofa, almari dan satu meja kecil di samping tempat tidur


setelah membereskan barang-barang aku merebahkan diri untuk beristirahat sejenak melepas lelah


meski perjalanan dengan pesawat terbilang cepat tapi tak mengurangi rasa lelah ku


******


"bibi masak apa" sapa ku pada bu Ratih saat melihat nya sedang berkutat di dapur


"eh mba tika sudah bangun"


"sudah, ada yang bisa tika bantu" tanya ku


"mba tika duduk aja pasti masih capek biar bibi yang memasak"


"ga papa bi, aku sudah terbiasa membantu budhe di dapur sepulang kuliah saat di surabaya" jelas ku


"ya sudah mba tika potog-potong sayurnya aja jadi ga terlalu capek" pinta bu Ratih


aku tersenyum dan melakukan apa yang bu Ratih pinta


di sela aktivitas memasak kami banyak berceita tentang kehidupan kak yuda di sini


aku semakin banyak tau tentang kak yuda dari bu Ratih


tak seperti di surabaya keluarga disana tak terlalu banyak membahas sosok kak yuda pada ku


mungkin kecanggungan yang terjadi selama ini jadi mereka lebih banyak diam tentang kam yuda


dan dari bu Ratih aku baru tau kalo selama ini kak yuda tak pernah membawa seorang wanita kerumah meski hanya sekedar rekan kerjanya


kak yuda benar-benar menjaga amant almarhum budhe agar hanya muhrim yang boleh masuk kerumah nya sebelum dia menikah


tapi yang masih jadi tanda tanya dalam hati ku kenapa kak yuda mau membawa aku tinggal di rumah ini sementara meski sepupu kami terhitung bukan muhrim