
setelah menempuh perjalanan sekitar limabelas menit akhirnya kami sampai di rumah ku
"assalamu'alaikum ibu ayah eyang" ucap ku sambil berhambur masuk kedalam rumah
tak ku hiraukan yang lain yang masih menurunkan barang bawaan ku
"waalaikumsalam nak" ucap ayah, ibu, dan eyang bersamaan
aku langsung berhambur ke pelukan ibu saat beliau berdiri di depan pintu
"tika kangen ibu" ucap ku di sela pelukan kami
"ibu juga nak" ucap Ibu sambil menyeka buliran bening di mata nya
aku langsung beralih memeluk ayah
"ayah kangen"
"ayah juga kangen nak" balas ayah sambil bertubi-tubi menghujani ciuman di kening dan pipi ku
"eyang.... " aku beralih memeluk eyang saat pelukan dari ayah sudah terlepas
"cucu ku yang paling cantik akhirnya kamu pulang juga"
"tentu pulang nek mas lebaran mau di kota orang" ucap ku"oh iya eyang ada pakdhe dan budhe juga yang lain di luar"kata ku sambil menuntun eyang keluar
"seno anak ku... " pekik eyang saat pakdhe menghampiri beliu
pakdhe langsung sungkem pada eyang diikuti budhe wati, kak yuda, kak mawar dan juga rista
"simbok sehat? " tanya pakdhe sambil menuntun eyang untuk duduk di kursi
"alhamdulillah sehat,,, kamu makin tua makin gagah aja" canda eyang
"simbok bisa aja kalo bercanda,, yang gagah itu" ucap pakdhe sambil menunjuk kak yuda yang duduk di seberang pakdhe
"kalo itu sudah pasti apa sudah ada calon? " tanya eyang
"anak jaman sekarang kebanyakan milih"
selanjutnya kami terlibat obrolan ringan untuk melepas rindu hingga menjelang Asar pakdhe dan keluarga pamit undur diri untuk pulang ke rumah eyang sepuh
aku pun melanjutkan acara istirahat ku di kamar yang sudah lama ku rindukan
memang kamar ini tak seluas dan semewah kamar ku di rumah pakdhe tapi ini adalah kamar ternyaman bagi ku
tok tok tok
"tika kamu tidur nak" tanya ibu di balik pintu
"engga bu masuk aja" jawab ku
ibu menghampiri ku yang sedang rebahan di kasur
"kamu udah ketemu radit? " tanya ibu tiba-tiba
"ibu tau dari mana? " tanya ku balik
"dari raut wajah mu menunjukkan ada sesuatu yang kamu sembunyikan,, " benar kata ibu sejak tiba tadi aku lebih banyak diam tak seperti aku yang biasanya
"radit sudah kembali seminggu yang lalu dengan istrinya, dan minggu depan mereka akan mengadakan resepsi di rumah radit, itu undangan dari mereka" tunjuk ibu pada sebuah undangan di meja belajar ku
aku masih diam tak bergeming menatap undangan itu
"itu salah satu alasan ibu meminta kamu untuk kuliah keperawatan di surabaya, selain keinginan ibu melihat kamu menjadi perawat juga karena hinaan dari keluarga radit" aku tersentak mendengar ucapan ibu
Akhirnya ibu menceritakan semuanya yang beliu sembunyikan selama ini
saat dimana ibu dari mas radit terang-terangan menunjukkan ketidak sukaan nya pada ku di depan ibu
saat ibu mas radit mengatakan aku yang hanya anak petani tak bisa sepadan dengan mereka yang keluarga terpandang
dari situ ibu bertekat agar aku bisa meraih gelar sarjana dan meski hanya seorang perawat tapi di mata masyarakat sekitar kami itu sebuah profesi yang mulia dan menjanjikan dan tentunya akan menjunjung nama keluarga