
aku turun dari motor ku baru saja aku membalikkan badan mas Widi sudah berdiri tepat di belakang motor ku
"tik kita perlu bicara" ucap mas Widi sambil mencekal tangan ku
"maaf Pak saya sudah hampir terlambat, permisi" ucap ku sambil melepaskan cekalan tangannya
aku bergegas meninggalkan nya selain hampir terlambat aku juga berusaha menghindari nya sementara untuk menenangkan pikiran ku
"tika, " lista berlari kecil menghampiri ku
"kenapa"
"kamu dari mana? kata pak Widi saat dia kerumah mu kamu nginep di rumah ku dan tadi pak widi nanyain kamu" cecar lista
"di apartemen kak Yuda"
"OMG tika kamu nginep di apartemen kak Yuda sama dia? "ucap lista histeris
" sama art nya, kak Yuda udah balik ke Bali"jawab ku cuek sambil terus berjalan
"ada masalah? " tanya lista mulai khawatir melihat raut muka ku yang lesu
ku duduk kan diri di tempat ku selanjutnya ku ceritakan pada lista tentang kejadian kemarin sampai aku bisa di apartemen kak Yuda
"yaampun tik, gila ga pak Widi kaya bisa kaya gitu, apapun keputusan mu aku selalu dukung"ucapnya sambil memeluk ku harus
*******
aku dan lista berjalan menuju parkiran sambil bercanda dan sedikit tertawa ringan menceritakan hal-hal konyol yang lista lakukan tadi di kelas hingga mengakibatkan dosen tertua di Fakultas kami mengeluh sakit kepala menghadapi tingkah lista
hingga tawa kami terhenti saat di parkiran mendapati mas Widi yang duduk tepat diatas motor ku
"huft" ku hembuskan nafas frustasi ku melihat nya saya ini
"tik, kita perlu bicara please" ucap nya mengiba
"ok di cafe depan" jawab ku
******
"to the poin aja mas aku ga banyak waktu" ucap ku langsung saat kami sudah sampai di cafe depan kampus
"kita makan dulu tik, kamu ga kasihan aku belum makan siang" ucap nya
"ya sudah mas makan aku pulang" ucap ku sambil berdiri buru-buru mas Widi memegang tangan ku
"ok duduk tapi aku pesan minum dulu"
kembali aku duduk di tempat ku
setelah memesan minuman mas Widi akhirnya membuka obrolan kami
"aku minta maaf, aku khilaf" ucapnya terjeda aku tak berniat menjawab ucapnya sengaja ku biarkan dia menyelesaikan ucapan nya
"aku laki-laki dewasa dan aku sudah pernah melakukan hal itu sebelumnya, disaat aku tak mendapatkan nya dari mu kemudian tiba-tiba ada yang menawarkan hal itu aku terbuai tanpa memikirkan akibatnya"ku pejamkan mata menahan emosi yang harus ku tahan
"tapi jujur aku hanya melakukan itu, tak pernah lebih dari itu"
"jadi menurut mas aku yang salah karena tak memberikan hal itu pada mas? " tanya ku
"bukan begitu maksud mas"
"lalu? " tanya ku sambil menatpnya penuh intimidasi
"mas salah karena tak bisa menahannya, maaf"
"ok dimaafkan"
"kita ga jadi putuskan" tanya nya penuh harap
"aku sudah memaafkan tapi bukan berarti aku masih bisa kembali sama mas, maaf aku tak bisa mentolerir apa pun bentuk penghianat, dan aku harap mas tak menui ku lagi setelah ini jangan ganggu aku biarkan aku fokus dengan skripsi ku, permisi" ucap ku tegas dan bergegas pergi meninggalkan nya
aku tak mau berlama-lama di sana karena ku tak mau semakin menambah luka hati ku dengan mendengar banyaknya permintaan maaf dan penjelasan nya