EVITA

EVITA
Bab 9. Rencana pernikahan



Dan akhirnya acara makan siang pun telah selesai, dan ibu Arini mengajak Evita duduk diteras rumah dengan beberapa hiasan bunga anggrek kesayangan ibu Arini,


"Cantik cantik sekali bunganya ya Tante, pasti Tante rajin mengurusnya".


" Ya beginilah untuk sekedar mencari kesibukan saja, karena Tante tidak ada kegiatan dirumah, sementara Tante sering ditinggal oleh Rangga bekerja.


"Rumah ini cukup besar, dan didalamnya hanya saya, Rangga dan mba mia, Tante berharap jika kamu sudah menikah dengan Rangga kamu mau ya pindah kesini sekalian ajak adikmu juga. Biar ramai rumah ini".


Evita pun berpikir syukurlah Tante Arini masih memikirkan aku dan Andini, dan bila dari sini pun jarak kesekolah Andini tidak terlalu jauh.


Hari sudah semakin sore Evita pun mencemaskan adiknya dirumah , karena terburu-buru nya Evita tidak sempat masak tadi pagi, Evita pun bilang pada Rangga bahwa dia mau pulang sekarang.


Sementara di dapur mba Mia disuruh Arini sudah menyiapkan dalam rantang makanan untuk Evita bawa pulang, karena tadi mba Mia masak begitu banyak, dan sebagian untuk Evita.


"Tante Evita pamit dulu ya, karna sudah sore, Evita berterima kasih Tante sudah menyambut Evita dengan baik disini."


"Jangan kapok ya sayang, kalau ada waktu libur lagi kamu main kesini lagi ya,"


Evita pun mengangguk sambil tersenyum bahagia.


"Eeh iya niih bawa pulang buat makan malam kamu sama adik kamu, kebetulan tadi mba Mia masak banyak," ibu Arini sambil menyodorkan rantang tadi yang sudah disiapkan mba Mia.


"Waduh Tante Evita jadi ga enak ini, sekali lagi makasih ya Tante!" Evita pun mengambil rantang tersebut.


Mereka berdua pun pamitan pada ibu Arini, dan tak lupa mengucap salam "Assalamualaikum"


Rangga pun menyalakan motor lalu membawa pergi Evita dari rumahnya, disepanjang jalan Evita sangat begitu melow mengenang masa lalunya yang pahit karena "Gagal menikah" padahal orang tua Galin sama baiknya dengan ibu Arini namun takdir tidak dapat mempersatukan mereka.


Sontak Evita pun kaget dalam lamunannya karena dikejutkan oleh rangga. " Evita...Evita.. kamu melamun ya"


"Kok berhenti, kamu lagi ngapain ngagetin aku seperti itu"


"Lah yang ngelamun ga sadar, ini sudah sampai rumah kamu, ayo turun"


" Eeh sudah sampai ya heheheee" Evita kurang fokus karena banyak melamun tadi


Dalam rumah pun Andini mendengar suara motor Rangga yang terparkir, lalu Andini pun keluar untuk memastikannya.


Andini pun senang begitu Rangga menyodorkan sebuah rantang yang berisi lauk untuk makan.


"Waah apa ini kak, buat makan malam kah, masakan rumahan" senangnya Arini setelah mengintip bagian atas rantang tersebut.


"kak Rangga langsung pulang ya Din?, kasihan kakakmu lelah sepertinya sampai sampai tadi dia melamun selama diperjalanan."


"Iya ga apa apa, makasih ya kak" ucap Andini pada Rangga.


sementara Evita hanya diam saja melihat keakraban adiknya dan Rangga yang sedang ngobrol.


Rangga pun memarkirkan motornya lalu pamitan pada Evita,


"Aku pulang dulu ya, jangan keseringan bengong, ayam tetanggaku kemarin mati karena kebanyakan bengong" sindir Rangga terkekeh pada Evita sambil bercanda


"Hati hati dijalan, jangan ngebut."


Karena tak sabar Andini pun langsung membuka isi rantang tersebut,


"Waah benar masakan rumahan, enak-enak sekali kak, Andini makan ya, eeh kita makan bersama, kakak mandinya nanti saja ya"


Evita pun mengikuti keinginan sang adik, dan ikut makan bersamanya.


Tak hentinya Andini berbicara terus sambil menyantap makanan di piringnya,


"Sepertinya mamahnya ka Rangga baik banget ya kak, kakak saja betah main disana sampai pulang malam".


Setelah mereka kenyang, Andini pun merapihkan meja makan,dan lauk yang tersisa dimasukannya ke dalam kulkas agar bisa dihangatkan besok pagi.


sementara Evita pergi ke kamar mandi.


Malam itu cuaca sangat bagus, Evita dan Andini pun berbincang di teras rumah dan Evita sambil sibuk memainkan gawainya menelfon saudara yang bisa dihubungi memberitahukan bahwa Evita ada yang melamar. Namun ada beberapa saudara yang sudah berganti nomor dan ada pula yang belum membalas chat dari Evita.


Ting.... gawai Evita pun berbunyi ternyata ada pesan yang masuk, ternyata dari pamannya adik dari mendiang bapaknya dan balasan chat.


( waalaikum salam, disini keadaan nya baik- baik saja. Alhamdulillah kamu ada yang mau melamar, insyaallah paman akan datang dan menjadi wali nikah kamu nak, dan paman nanti kasih kabar ke yang lain, semoga kamu dan adikmu sehat selalu disana ,salam buat Andini dari paman dan bibimu)


Alhamdulillah dalam hati Evita bersyukur pamannya masih mau menjadi wali nikah nya. Atas kegagalan tempo hari beliau sempat kecewa pada Galin yang tidak menampakan batang hidungnya pada hari pernikahan.


Evita sangat berharap mudah mudahan kali ini acara lamaran bisa berjalan lancar, Evita dan mamahnya Rangga pun sudah membicarakannya kemarin, acara akan dilaksanakan sesederhana mungkin yang penting keluarga inti saja yang hadir nanti.


Acara lamaran akan dilaksanakan dirumah Evita yang sekarang di Jakarta walaupun tidak terlalu besar cukup bila hanya menampung puluhan orang saja, Evita tidak mau lagi bila acara diselenggarakan dirumah mendiang neneknya dulu di Bandung waktu ia bersama Galin. Evita seakan menyimpan trauma dihatinya.


......................


Dan dia pun berencana akan meminta ijin cuti kepada cafe tempat ia bekerja tentang acara ini.


Dicafe Evita pun menuju ruangan supervisor nya dan dia pun berbicara bahwa Evita akan minta ijin cuti 3 selama hari dipertengahan bulan depan, Alhamdulillah supervisor Evita pun meng-ACC nya.


tak lupa Evita pun mengundang beberapa teman dicafe untuk hadir diacara lamarannya.


Sementara Rangga sibuk pergi kekantor serta membantu sang mamah mempersiapkan untuk lamarannya nanti, dikarenakan Evita tidak meminta apapun, ibu Arini berinisiatif membawakan beberapa bingkisan seserahan nanti.


Sungguh tidak salah pilih Evita kali ini mempunyai calon mertua yang sangat baik dan perhatian padanya, sampai Evita pun diberitahukan akan dikirimkan sebuah gaun untuk acara lamarannya nanti berikut dengan tukang riasnya.


Para saudara Evita dari 2 Minggu sebelum acara, sudah ada yang datang membantu merapihkan rumahnya ada yang mengecat, dibersihkan halamannya, serta mengatur untuk kebutuhan acara tersebut.


Hanya saudara dari mendiang bapaknya saja yang masih peduli sedangkan keluarga dari mendiang ibunya hanya sedikit dan itupun berada diluar kota yaitu semarang karena mendiang ibu Evita adalah anak tunggal sehingga tidak mempunyai saudara kandung yang tersisa hanyalah sepupu.


Sementara Evita berkomunikasi dengan Rangga hanya lewat ponselnya saja. Evita mengerti dan paham Rangga pun sedang sibuk.


Hari hari Evita pun seperti biasa dilaluinya bekerja dicafe walaupun hari H lamaran sudah begitu dekat namun Evita tidak melalaikan tugasnya dicafe.