EVITA

EVITA
Bab 58. Andini dan Heru



Malam itu Andini masih agak canggung sekamar dengan suaminya, karena dia tidak pernah membayangkan sebelumnya akan secepat ini dinikahi oleh mas Heru.


"Mas maaf ya bila dini masih canggung, karena dini belum terbiasa satu kamar dengan orang lain, walaupun mas sudah menjadi suami dini sekarang". ucap Andini pada suaminya.


"Mas maklumi, mas juga merasakan hal yang sama, kita memang perlu proses dulu ya, namun kita kan sudah sah , jadi tidak perlu takut pada siapapun, bukan begitu".


Andini hanya mengangguk sambil tersipu malu, waktu pun sudah mulai larut, Andini dan Heru masih terjaga didalam kamar mereka.


Layaknya sepasang pengantin baru wajar saja bila mereka menunggu sampai larut untuk melakukan malam pertama nya.


Di luar pun sudah mulai sepi semuanya telah beristirahat karena kecapean.


......................


Keesokan paginya semuanya sudah berkumpul diteras rumah untuk mengantar kepulangan paman dan bibi ke Bandung.


Tak terkecuali Andini dan mas Heru mereka pun mengucapkan terima kasih pada paman dan bibi karena mereka sudah hadir diacara pernikahan Andini dan Heru.


"Pesan paman sama seperti yang paman berikan pada Evita, jaga hubungan komunikasi yang baik, selalu percaya pada pasangan dan ikhlas menerima kelebihan dan kekurangan pasanganmu. Kalau ada masalah bicarakan berdua dengan kepala dingin". Pesan paman pada Andini dan Heru.


Tak berapa lama mobil paman pun pergi meninggalkan halaman rumah.


Terlihat dihalaman rumah tenda pun telah dibongkar oleh tukangnya. Dan keadaan dirumah pun sudah rapih kembali, hanya tinggal menyisakan tumpukan sampah di sudut halaman rumah yang nantinya menunggu diangkut oleh petugas sampah.


Tara pun senang dirumah kini semakin ramai dan kini dia pun senang karena mempunyai satu orang yang dipanggil dengan sebutan om.


Namun Andini dan Heru mungkin hanya beberapa hari tinggal dirumah mamah Arini, sambil merapihkan perlengkapan Andini yang akan dibawa kerumah mas Heru.


Karena Andini akan ikut tinggal bersama Heru dirumahnya.


Karena sudah kesepakatan mereka dari awal setelah beres acara Andini akan ikut mas Heru,dan mereka akan tinggal dirumah mamah mas Heru, karena rumahnya lumayan besar sehingga mereka tidak perlu susah payah untuk mengontrak ataupun mengambil unit perumahan, toh yang tinggal disana hanya orang tua mas Heru.


Andini adalah menantu pertamanya karena mas Heru adalah anak tunggal jadi Andini pun adalah menantu tunggal dikeluarga mas Heru.


Hari itu Rangga pun bersiap untuk berangkat kekantor dan di temaninya menuju mobil oleh Evita, sedangkan Heru dan Andini masih menikmati cuti mereka beberapa hari sehingga mereka bisa menemani Tara dirumah, sekaligus waktu terakhir Andini menemani Tara bermain.


"Tara, besok aunty dini akan tinggal dirumahnya om Heru jadi nanti aunty tidak pulang kesini ,Tara jangan marah ya, tapi nanti aunty dan om pasti akan kesini mengunjungi Tara". Meyakinkan Tara agar tidak sedih.


"Aunty minta Tara jagain ibu dan adik bayi yang ada diperut ibu selama ayah bekerja, Tara jangan rewel nanti ya".


Tara tetap berada dipangkuan andini seakan tidak mau berpisah.


Mamah Arini pun keluar dari kamarnya sambil membawa kotak kecil berwarna biru pastel.


Mamah Arini sudah menganggap Evita dan Andini adalah bagian dari hidupnya.


Arini pun memberikan kenang-kenangan sebuah gelas berlapis emas 24karat pada Andini, seperti ketika Evita menikah dengan Rangga.


Arini pun duduk disamping Andini.


"Mamah sungguh senang sekali anak perempuan mamah sudah dipersunting oleh pangeran impiannya, mamah hanya bisa memberikan ini buat dini, semoga dini suka ya ".


"Terima kasih ya mah, Andini akan selalu sayang sama mamah, seperti mamah sudah sayang sama dini". Mereka pun berpelukan dan langsung dibanjiri air mata.


"Mamah jangan lupa minum obatnya, dini ga mau denger mamah kenapa-napa". Sambil mengingatkan Arini.


Arini pun mengangguk, sambil menyeka air mata nya dengan tissue.


Sementara Tara berbisik pada Evita,


"Bu kenapa Oma dan aunty nangis, Oma ga mau ya ditinggal aunty".


Evita hanya tersenyum mendengar ucapan tara.


Sementara diluar terdengar suara mobil ,ternyata pak Nono sudah pulang dari pasar mengantar mba Mia berbelanja, karena hari ini mamah Arini ingin masak makanan kesukaan Andini sebelum besok dia pulang kerumah mertuanya.


Mamah Arini pun langsung menuju dapur dan mempersiapkan makanan untuk makan siang.


Sementara Evita menemani Tara menonton tv acara kesayangannya, sambil Evita memeriksa pekerjaannya yang dikirim oleh pak Rama.


semenjak keluar dari rumah sakit Evita belum pernah lagi datang ke rumah catering. evita hanya dikirim file pekerjaan lewat email oleh pak Rama.


Sebetulnya tidak masalah juga bila Evita tidak datang ke rumah catering, namun Evita harus bekerja secara profesional dengan tanggung jawabnya sebagai pimpinan di rumah catering.


Mungkin Evita akan mengontrol kegiatan dirumah catering setelah kondisi badannya sudah membaik dan sudah ada ijin dari dokter kandungan untuk Evita beraktivitas seperti biasa lagi.


......................


POV Rangga


Dikantor Rangga begitu mengkhawatirkan mamahnya, dan dia berpikir apakah Evita mengetahui siapa Lusy sebenarnya, tapi dalam hati Rangga masih ragu ,toh selama ini Evita tidak pernah menyinggung soal apapun ataupun menanyakan tentang masa lalu Rangga.


Tetapi bila Evita sudah mengetahuinya dan dia cemburu, mengapa Evita tidak sedikit pun membicarakannya ,seakan Lusy hanyalah teman biasa dan tidak berpengaruh padanya.


Rangga takut sesuatu hal akan terjadi nantinya. Rangga pun bingung apa sebenarnya yang diinginkan Evita.


Tapi fokus Rangga sekarang hanya pada kandungan Evita, yang sangat riskan bila Evita terlalu banyak pikiran. Rangga begitu menjaga Evita dikehamilan Evita yang kedua ini.


Dan besok sudah tidak Andini lagi dirumah sehingga Rangga harus menyiapkan lagi seorang suster untuk membantu Evita mengurus Tara dan mamahnya.


Namun Rangga belum membicarakan tentang akan menambah lagi satu suster yang akan dipekerjakan dirumahnya.


Rangga pun mulai mencari jasa baby sitter yang bagus di internet.


Tak lama sekertaris Rangga pun masuk keruangan Rangga sambil memberikan beberapa berkas laporan yang harus Rangga periksa, mungkin akan menghabiskan waktu sampai jam makan siang tiba.


Dan mengingatkan Rangga setelah makan siang ada klien yang harus Rangga temui disalah satu restoran, karena mereka ingin menindaklanjuti tentang kerjasamanya dengan perusahan Rangga.


Semakin hari banyak rekanan yang ingin memakai jasa di perusahaan Rangga, lambat laun perusahaan yang Rangga pegang sekarang telah mengalami peningkatan yang begitu pesat.


Rangga tetap pada keyakinannya bahwa semua ini tak lepas doa dari keluarganya, mamah dan istrinya Evita yang selalu mendukung disetiap langkahnya.