EVITA

EVITA
Bab 66. Keikhlasan evita



Setelah sampai di rumah sakit Rangga pun mencari kursi roda untuk Evita, karena istrinya belum bisa berjalan jauh.


Mereka pun menuju ruang NICU yang berada di lantai tiga.


Sesampainya disana dari kejauhan pun sudah terdengar suara monitor berbunyi dan terlihat beberapa suster pun bolak balik ke ruang NICU.


Karena sejak dari kemarin tidak ada bayi lain yang berada diruang NICU selain bayi Evita.


Arini, Evita dan Rangga hanya bisa melihat dari jendela kaca yang membatasi ruangan tersebut.


Terlihat di dalam ruangan itu dokter dan beberapa suster tengah mencoba untuk mengembalikan detak jantung bayi itu.


Evita pun terus menangis melihat bayinya sedang ditangani oleh dokter. Sementara Arini pun terus menenangkan Evita.


Padahal dihati Arini pun merasakan ketakutan dan kecemasan yang begitu besar.


Sedangkan Rangga terus berdoa agar diberikan keajaiban supaya putrinya bisa diselamatkan.


Setelah satu jam dokter dan suster berusaha, akhirnya dekat jantung bayi pun kembali dan terlihat di alat monitor pun suaranya terdengar lembut tidak nyaring seperti sebelumnya.


Dokter pun keluar dari ruangan NICU dan berkata pada Evita dan Rangga


"Alhamdulillah, detak jantung bayi telah kembali lagi , karena tadi bayi itu mengalami kesulitan bernafas, Alhamdulillah nya bayi itu sudah bernafas kembali dan kami akan berusaha semampu kami disini, mohon bantu doa dari bapak dan ibu agar kondisinya bisa stabil kembali. Saya permisi dulu". Ucap dokter melita.


Evita ingin sekali menggendong bayi nya itu, sejak ia lahir hingga sekarang bayi itu belum merasakan hangatnya pelukan dari sang ibu.


Evita hanya bisa memandanginya saja dari dinding kaca.


Dari semalam payudara Evita sudah mengeluarkan cairan berwarna putih namun apa boleh buat hanya dipompa dengan alat kemudian ASI-nya itu dibuang setelahnya, karena Evita belum bisa menyusui bayinya.


Asi Evita begitu melimpah , sama ketika ia sudah melahirkan Tara. Namun kali ini asi nya terpaksa terbuang percuma.


Arini hanya bisa menyaksikan kesakitan yang dirasakan oleh menantunya itu, tanpa bisa berbuat apapun.


'Luka tapi tak berdarah' mungkin itu kiasan yang menggambarkan keadaan Evita dan Rangga sekarang.


Evita, Rangga dan Arini pun menunggu diluar ruang NICU.


Karena sudah sore Arini memutuskan untuk pulang, karena dia khawatir dengan Tara tak ada yang menjaganya dirumah. Rangga pun menelfon pak Nono agar menjemput mamahnya dirumah sakit.


Sedangkan evita dan Rangga masih tetap disana untuk menunggu perkembangan selanjutnya.


......................


Arini pun telah sampai rumah dan dilihatnya ada mobil Heru terparkir disana.


"Assalamualaikum, mba", Arini pun masuk rumah dan memanggil mba Mia.


Arini memberikan bungkusan yang berisikan makanan untuk makan malam.


Dan keluarlah Andini dari kamarnya.


"Mamah sudah pulang, bagaimana mah kondisi bayi kak Evita".


"Alhamdulillah, tadi sudah baik-baik saja, namun takut terjadi sesuatu, Rangga dan Evita mungkin malam ini menginap disana".


"Kamu kapan kesini", arini mencecar.


"Tadinya kami Hanya ingin mampir, tapi setelah tadi kata mba mia semuanya pergi kerumah sakit, jadi dini dan mas heru ga tega ninggalin Tara sendiri, makanya kami tetap stay disini". Jawab Andini.


"Ada dikamar mah sedang tidur dengan mas Heru". Jawab Andini.


......................


"Mas sebenarnya anak kita kenapa, kamu menyembunyikan sesuatu padaku". Tanya Evita dengan mencecar.


"Dokter mengatakan bahwa paru paru putri kita ada gangguan, dan jantung nya tidak berkembang dengan baik dan masalah disaluran pernapasannya, jadi harus tetap mengandalkan alat alat medis untuk dia bertahan hidup, sampai organ dalam ditubuh dapat berfungsi normal , dan kemungkinan harus tetap berada di dalam inkubator hingga waktu yang cukup lama".


Evita tertegun setelah mendengar penjelasan dari suaminya.


"Jadi putri kita tidak akan selamat ,begitu kan intinya mas?".


"Aku pasrah dan ikhlas bila terjadi sesuatu pada bayi kita, aku tidak mau berharap banyak mas, bila itu sudah takdirnya biarlah dia menghadap yang menciptakan dia".


Evita tiba-tiba berkata seperti dia sudah mengetahui apa yang akan terjadi.


"Kok kamu bicara seperti itu sayang, kita tidak boleh menyerah putri kita harus bisa bertahan hidup, kamu kan tau sendiri kamu tidak akan bisa hamil dan melahirkan bayi lagi, karena rahim mu sudah tidak ada, apakah kamu lupa itu". Dengan amarah Rangga tidak menyadari bahwa telah berbicara yang sangat menyakiti hati Evita .


"Kamu menyalahkan aku mas, kamu sendiri kan yang menyetujui pengangkatan rahimku itu, aku rela mempertahankan kehamilanku walaupun dokter memintaku beberapa kali agar aku menggugurkan kandunganku namun aku menolaknya, karena aku tau bagaimana resikonya akan seperti ini". Pembelaan Evita dengan lantang.


"Aku rela membahayakan diriku sendiri demi keinginan mamah untuk mendapatkan cucu yang kedua , tapi kamu bisa berkata seperti itu seolah aku yang salah".


"Dan saat pengangkatan rahimku kamu pun tidak memberitahukannya padaku".


"Maafkan aku , aku telah salah berbicara, aku reflek sayang". Rangga menyesal telah berhasil membuat Evita marah.


Lalu tak lama suster dari ruang NICU pun berlari memanggil dokter. Dokter pun datang dengan beberapa suster yang mengikuti nya masuk keruang NICU.


Evita dan Rangga pun panik melihatnya. Dan terdengar bunyi alat medis itu pun kembali berbunyi tak beraturan.


Evita yang masih kesal dengan Rangga. Dia pun masih dalam tangisannya. Karena selama mereka menikah baru kali ini mereka bertengkar dan berselisih paham.


Dan setengah jam pun sudah berlalu, dokter dan suster pun masih berada didalam dan belum ada satupun yang keluar ruangan.


Namun sudah tak terdengar lagi bunyi alat medis yang nyaring tadi.


Dokter pun keluar dan mejelaskan bahwa bayi nya mengalami kesulitan bernafas kembali seperti tadi. Dokter pun berkata bila hal ini akan membuat sang bayi tidak cukup bisa bertahan hidup lebih lama.


Tentunya pihak keluarga harus menerima hal terburuk yang akan terjadi pada bayi mereka.


Evita yang masih berada di kursi roda berdiri dan berjalan kearah jendela kaca , dan dia pun meratapi keadaan bayinya.


Rangga pun menyesal dengan apa yang dikatakannya tadi. Dia pun merasa baru kali ini dia berkata yang membuat istrinya sedih.


"Nak pergilah dengan tenang hingga tidak ada rasa sakit yang tertinggal, ibu disini ikhlas dan merelakan mu pergi , ibu tidak tega melihat mu berjuang sendirian dengan alat-alat itu". Evita berkata kedua kalinya.


Dan tak lama terdengar bunyi nyaring lagi dari dalam dan dokter pun segera masuk dan melakukan pertolongan pada bayi Evita.


Disana ada tiga dokter yang menangani bayi itu. Namun semuanya berkata dengan bahasa isyarat bahwa bayi tidak dapat tertolong.


Dokter Melita pun melihat kearah jendela dan hanya menatap kearah Evita lalu menggelengkan kepalanya.


Sontak setelah dokter Hana memberikan isyarat itu pada Evita , Evita pun langsung pingsan tak sadarkan diri.


Rangga pun lalu memanggil suster dan langsung membawa Evita keruang UGD.