
Keesokan pagi dengan tubuh masih tertutup oleh selimut Evita mencari keberadaan suaminya yang tidak ada disampingnya, tetapi di pojok ruangan terdengar suara gemericik air dan keran shower yang berbunyi, dan Evita rasa suaminya yang sedang mandi.
Dan Evita pun menutup matanya kembali, sambil mengingat semua kejadian semalam menikmati hangatnya dalam dekapan tubuh suaminya.
Tak berapa lama Evita membuka kembali matanya dan yang ada dihadapannya adalah mas Rangga yang sudah selesai mandi.
"Kamu jadi ikut mas lagi ga atau seharian ini mau dikamar saja, katanya kamu mau ketoko bunga menemui teman baru mu itu".
Evita hanya mengangguk , dan dengan cekatan Rangga pun yang menyiapkan untuk sarapan pagi ini, hanya dengan roti selai coklat dan selai strawberry juga teh manis panas.
Lalu Evita pun bangun dari tempat tidur , dengan masih mengenakan lingerie sungguh pemandangan yang sangat berbeda dipagi itu, dengan rambut sedikit berantakan layaknya orang bangun tidur Evita pun menemani suaminya untuk sarapan.
"Orang bilang difase dimana perempuan terlihat cantik natural ketika dia bangun tidur, dan ternyata yang orang bilang itu benar sekali, istriku ini begitu sexy dan sangat cantik apalagi mengenakan pakaian seperti ini". Rangga menggoda Evita yang hanya tersenyum malu malu.
"Tapi nanti kalo dirumah pakaian ini ga aku pakai ya, lebih nyaman dengan dasterku", gumam Evita.
"Iya sayangku, sudah sana cepet mandi aku tunggu". Sambil mencuri mencium pipi Evita.
Dan Evita pun melakukan hal yang sama pada suami nya. Rangga pun mulai senang dengan keagresifan istrinya itu ketika berada disingapur.
mereka pun turun kelobby menuju taxi yang sudah dipesan setengah jam sebelumnya.
Kemudian mereka pun pergi meninggalkan hotel. Tak lupa Evita pun membawakan beberapa potong roti untuk sarapan Lusy.
Rangga pun mengantar Evita ketoko bunga itu terlebih dahulu sebelum dia pergi ke gedung yang berada di seberangnya, memastikan Evita berada aman dengan Lusy ditempat itu.
Rangga dan Evita pun berpisah didepan toko Lusy, dan ketika Evita masuk toko bunga itu disambut hangat oleh Lusy.
"Kamu pasti belum sarapan kan, nih aku bawakan roti isi selai , lumayanlah untuk mengganjal perut", Evita mengeluarkan kotak makanan dari dalam tasnya.
"Waah aku merepotkanmu kali ini, kebetulan sekali tadi aku belum sempat sarapan, terimakasih ya" ,dan Lusy pun membuatkan teh hangat untuk mereka berdua.
Lusy pun penasaran ingin mengetahui tentang Evita.
"Kemarin aku yang bercerita tentang diriku sekarang giliran kamu yang bercerita tentang keluarga kecil kalian".
Evita hanya tersenyum setelah meneguk air teh hangat yang disuguhkan Lusy, sementara Lusy sedang menyantap roti yang dibawa Evita tadi.
"Aku juga sudah tidak punya kedua orang tua, dan aku hanya mempunyai seorang adik perempuan, setelah menikah aku diboyong tinggal dirumah mertua aku dan adik ku pun ikut bersamaku , mertua ku pun itu begitu sayang sekali pada aku dan adikku. aku telah dikaruniai seorang anak laki laki yang kini berusia empat tahun lebih, Tara namanya, sangat menggemaskan sekali anak itu".
"Wah begitu menarik sekali ceritamu itu".
"Oh iya ,kalau kamu Lusy apakah kamu sudah menikah?", tanya Evita
Lusy pun selalu bingung bila ditanya soal itu.
"Aku tidak tahu Evita, kehidupan aku sebelum dibawa ke panti sosial seperti apa, apakah aku dulu sudah menikah , atau siapa suamiku aku tidak mengingatnya sama sekali, tapi menurut dokter aku pernah keguguran".
"Entahlah aku sekarang menjalani saja hidupku seperti air mengalir , entah dimana ujungnya aku tidak tahu". timpal Lusy dengan sendunya.
Evita pun sungguh terenyuh dengan pernyataan yang Lusy katakan barusan.
Dan disela obrolannya ada beberapa pelanggan yang membeli bunga dan Lusy pun melayaninya dengan baik.
Evita pun tidak terganggu dengan hal itu. Karena dia berada disitu pun sebagai tamu.
Hari itu toko pun mulai ramai dan Evita pun membantu Lusy untuk sekedar membungkus bunga bunga yang di pesan pelanggan, karena Evita tidak fasih untuk berbicara bahasa Inggris.
"Terimakasih Evita kamu sudah membantuku hari ini, dan sepertinya kamu begitu cekatan untuk melayani pembeli", tanya Lusy.
"Sebelum menikah aku bekerja di salah satu cafe,dan sekarang aku dipercaya mertuaku untuk meneruskan bisnis catering nya".
"Wah pantas saja , ternyata yang ada dihadapanku ini seorang wanita karir toh", sedikit kagum pada Evita.
"Ah biasa saja, kamu tidak usah melebih- lebihkan Lusy aku pun mulai dari bawah kok, tidak ada bedanya dengan profesimu ".
Hingga begitu asiknya mereka berbincang tanpa disadari telah jam makan siang. Evita pun mendapatkan chat dari Rangga kalau suaminya makan siang dengan rekannya disana , dan Rangga pun menawarkan bila Evita ingin bergabung dengannya Rangga akan menjemputnya.
Evita pun membalas chat suaminya.
" Sepertinya aku akan makan siang dengan Lusy, mas tidak usah jemput aku, dan lagi pastinya aku merasa tidak enak dan akan menjadi pusat perhatian nantinya".
"Ya sudah benar ya kamu nanti makan siang , jangan tidak biar mas merasa tenang kamu kirim foto mu nanti".
"Iya mas".
"Lusy kenapa kamu beres beres, bukannya toko tutup nanti sore"
" Kita cari makan siang dulu yuk, memangnya kamu tidak lapar, aku tahu tempat makanan Indonesia dekat sini, soal rasa lumayanlah karena pemiliknya orang Indonesia"
"Wah menarik juga, aku mau".
Kemudian Lusy pun mengunci pintu tokonya dan membalik tulisan yang berada di pintu menjadi CLOSED.
Dan mereka berdua pun layaknya teman yang sudah kenal lama, begitu akrab satu sama lainnya.
Sungguh dua wanita yang sangat kuat begitu tegar dengan berbagai cerita hidupnya masing-masing.
Akhirnya mereka pun sampai di rumah makan Indonesia, jaraknya tidak cukup jauh hanya berjalan kaki saja dari toko Lusy, namun masuk ke gang kecil.
Tempatnya tidak begitu luas dan tidak kecil juga. Namun Lusy sering ketempat itu bila kangen dengan masakan Indonesia.
Tempat itu terkenal dikalangan TKI Indonesia , orang Singapura pun banyak yang suka makan disana.
Evita pun tercengan dengan menu yang ada disana , sayur asam, sambal terasi, lalaban pun tersedia disana, namun kali ini Evita memilih menu soto dan nasi saja, sedangkan Lusy memilih nasi campur.
Evita pun mencicipi sesendok kuah soto ,dan ternyata bumbunya tidak beda dengan soto yang sering dia makan dijakarta, Evita pun tak lupa berselfi dengan menu makanan yang dia pesan ,lalu mengirimnya kepada suaminya dengan di bumbui caption ' Soto ayam + nasi @warung indonesia singapura '.