EVITA

EVITA
Bab 46. Mba Ema



Evita terbilang tidak mempunyai banyak teman , mungkin hanya bisa dihitung dengan jari teman yang bisa menerima Evita apa adanya.


Beberapa teman dekat Evita telah pindah keluar kota , dan teman yang telah lama ingin Evita temui adalah mba Ema, bukan hanya sekedar teman ,namun sudah menjadi sahabat dan kakak bagi Evita.


Usia Evita dan Ema terpaut hanya lima tahun namun Evita selalu merasa nyaman bila didekat Ema.


Dan evita pun langsung mengajak pak Nono mencari alamat mba Ema, lokasinya tidak jauh dengan rumah Evita dulu namun dia masuk ke gang sempit sehingga pak Nono menunggu di jalan besar.


Sesampainya dilokasi yang Rafi berikan padanya, Evita harus menanyakan lagi letak rumah mba Ema.


Evita pun bertanya ke orang disana dan menunjukkan sebuah rumah yang hampir kusam warna cat dindingnya.


"Evita pun mengetuk pintu rumah itu".


Dan tak lama ada seorang perempuan keluar dari dalam rumah itu, keduanya pun bertatapan dan mba Ema menyebutkan satu nama "Evita".


Dan keduanya pun berpelukan hanyut dalam rasa haru ,bahagia bercampur aduk menjadi satu.


"Benarkah ini kamu Evita, aku sangat rindu denganmu".


"Bagaimana kabar mba , sehat sehat kan", tanya Evita, sambil memperhatikan badan mba Ema yang semakin kurus.


Evita pun dipersilahkan masuk kedalam rumah mba Ema.


"Bagaimana kamu bisa sampai kesini,padahal dulu kamu belum pernah aku ajak sekalipun kesini".


"Tadi aku sengaja ke cafe hanya untuk bertemu mba Ema , tapi disana aku diberitahu bahwa mba Ema sudah tidak bekerja lagi disana dan Rafi lah yang memberikan alamat ini padaku ".


"Iya aku dipecat , gara gara manager sialan itu, aku dituduh mengambil uang di kasir, padahal kamu tau dialah yang melakukannya, dan dia menjudge aku seperti maling".


"Dan kamu tahu Evita, dia pun beberapa kali melecehkan ku namun aku diam tak pernah mau buka suara atas kelakuannya".


Sambil menangis mba Ema menceritakan nya pada Evita.


Evita pun mencoba menenangkan mba ema yang terlihat emosi.


"Eeh aku sempat lupa menyuguhi adikku ini minum, sebentar ya Evita". Sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.


Evita pun melihat keseluruh ruangan dengan seksama, rumah tua yang tak pernah di renovasi, terlihat diatap rumah yang terlihat usang dan kotor,banyak jaring laba-laba dimana-mana.


mba Ema pun kembali dari dapur setelah mengambil minum untuk Evita.


"Maaf hanya air putih saja ya", jelas mba Ema.


"Tak apa air putih pun sehat kok mba, aku minum ya?", Evita pun meneguk gelas berisi air putih.


" Mba tinggal disini seorang diri, suami mba?", tanya Evita dengan penasaran.


"Ini adalah rumah peninggalan orang tua mba, suami mba pergi karena mba tidak bisa memberikan dia keturunan, mba sekarang tinggal seorang diri disini , karena kedua orang tua mba adalah anak tunggal jadi mba tidak punya sodara".


"Setelah dari cafeba bekerja dimana, buat kebutuhan sehari hari, maaf ya aku menanyakan hal pribadi".


"Mba kuli cucu setrika dari tetangga sekitar sini, kamu bisa lihat kan disekitar sini hanya rumah mba yang terlihat tua dan kumuh, dibandingkan dengan yang lain". Jelasnya.


Sungguh cerita yang sangat menyentuh hati Evita.


"Mba sepertinya Evita harus pulang karena sudah sore, eeh iya karena tadi niatnya ke cafe, Evita jadi ga bawa apa apa untuk mba ema"


"Besok- besok aku boleh mampir kesini lagi kan mba". Tanya Evita.


Evita pun pamit dan memeluk mba Ema dengan begitu hangat.


Dan mba Ema pun memperhatikan Evita ketika menjauh dari rumahnya, sambil membatin dalam hatinya.


'Beruntung sekali anak itu ,dari yang bukan siapa siapa,hingga bertemu dengan pria yang menjadi suaminya sekarang dan diangkat 360° dari kesusahan dan hidupnya terjamin sekarang.'


~Bila kau menemukan orang yang tepat untuk mu jadikan suami maka didalam kehidupan rumah tangga mu kamu akan dijadikan sebagai ratu, namun jika kamu memilih orang yang salah maka kamu akan menderita seumur hidupmu~


Namun karena dasarnya Evita adalah anak baik ,dia tidak pernah mengukur sesuatu dengan uang , dia pun dulu pernah mengalami hal yang serupa.


Evita pun sedang diperjalanan menuju rumah, tiba-tiba mas Rangga telfon.


"Iya mas aku dalam perjalanan menuju pulang setengah jam lagi nyampe , agak macet soalnya disini".


Evita harus meluangkan waktu lagi untuk kembali kerumah mba Ema, sekedar untuk memberikan sedikit rejeki nya untuk keperluannya sehari-hari, semoga mas rangga mendukung niat baiknya.


Karena Evita teringat dimasa dia sedang sulit mba Ema lah yang sering membantunya.


Sekarang giliran Evita ingin berbuat baik untuk mba Ema.


Akhirnya Evita sampai dirumah , dan begitu dingin sambutan Tara padanya.


"Kok ibu datang dicuekin sama Tara, ibu kan jadi sedih".


"Habisnya ibu lama perginya, katanya tadi bilangnya sebentar" , sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Iya deeh ibu minta maaf, nanti ibu ajak Tara deeh kalau mau pergi lama", jawabnya.


"Benar ya, ibu harus ajak Tara nanti", dengan mulai tersenyum sambil memeluk ibunya.


"Mah di catering kan ada yang mau cuti melahirkan , boleh ga sementara posisi itu di isi oleh teman Evita".


"Bila kinerja orangnya itu baik dan bisa diandalkan boleh saja".


"Yes, oke sudah ACC mamah ya, tinggal Evita mengajukan sama pak Rama".


Senangnya Evita sudah mendapatkan ijin dari mamah Arini.


Besok ya Evita bercerita tentang mba Ema pada mas Rangga ,dan sekaligus minta ijin untuk membantu sedikit untuk mba Ema, selain itu Evita akan mempekerjakan nya di catering sementara.


Evita pun pagi hari berencana akan mengajak Tara, dan sebelumnya akan mampir dulu membeli sembako untuk mba Ema.


Tak lupa Evita pun menyisipkan uang diamplop sebagai pegangan dia.


Tara pun yang jarang ke tempat jajanan dia pun kalap memborong jajanan yang sebelumnya belum pernah dia coba.


Dan kebetulan mba Ema baru sampai rumah karena dia sudah cuci gosok dirumah tetangganya ,pintu rumahnya pun masih terbuka , dan ketika Evita tiba dia pun kaget dengan barang bawaan Evita yang diberikan untuknya.


Tak habis habisnya mba Ema mengucapkan terimakasih pada Evita, sedangkan Tara begitu penurut dan anteng menikmati satu satu jajanan yang dia beli tadi ditemani pak Nono diteras.


"Mba , mau ga kerja sementara di catering mertua aku, menggantikan sementara karyawan yang sedang cuti melahirkan".


" Benarkah itu, kamu menawarkan pekerjaan pada mba?" ,sambil berlinang air mata.


Evita pun mengangguk, dan tak hentinya Evita melihat senyum itu kembali tergambar di bibir mba Ema.