
Perlahan-lahan Evita pun mulai memaksakan untuk makan, walaupun tidak ada selera, namun dia ingat akan Tara , dia semangat untuk sembuh demi Tara, karena sudah hampir sepekan dia berada dirumah sakit ,sehingga sangat rindu sekali dengan jagoan kecilnya itu. Dokter belum mengijinkan untuk Tara dibawa ke rumah sakit, mengingat kondisi Evita masih lemah.
" Mas aku kangen sama Tara , tolong bicara pada dokter untuk diijinkan Tara menjenguk ku" pinta Evita
"Dokter kemarin bilang Tara boleh diajak kesini tapi dengan syarat makananmu harus habis dulu sayang"
Evita murung lagi setelah Rangga berbicara
"Kita video call saja bagaimana, mau?"
Evita pun dengan antusiasnya tersenyum kembali sambil menganggukkan kepalanya.
Turut..turut..video call pun langsung tersambung ke ponsel Andini, lalu terlihatlah wajah sang jagoan kecilnya itu.
" Hallo ibu , ibu cepat pulang , Tara mau bobo sama ibu" celoteh anak 4 tahun itu sehingga makin kangen saja Evita pada Tara.
" Iya nak nanti ibu pulang ,Tara yang baik ya sama oma dan aunty dini dirumah" sambil memperhatikan Tara yang masih batuk.
Ponsel pun diambil alih oleh Rangga
" Sudah dulu ya nak , ibu mau istirahat dulu, nanti video call nya disambung nanti ya" tegas Rangga
" iya ayah dadah.." jawab Tara sambil melambaikan tangannya ke arah ibu dan ayahnya.
Rangga pun mendapatkan kabar dari kepolisian bahwa pelaku kebakaran sudah terlacak dan sekarang sedang dicari keberadaan nya.
......................
Evita pun makin hari makin membaik kondisinya, sudah tidak terlihat pucat dan lemas , sehingga alat kateter yang terpasang pun sudah mulai di lepas oleh suster.
"Ibu Evita jika ibu ingin buang air ,sekarang sudah bisa kekamar mandi ya Bu", jelas sang suster.
Setelah menemani Evita makan siang dan minum obat,Rangga diharuskan datang ke kantor polisi untuk melihat tersangka yang sudah tertangkap.
"Sayang mas mau ke kantor polisi dulu sebentar, kamu tidak apa kan ditinggal sendirian disini, nanti mas minta tolong suster bila kamu perlu bantuan"
" Iya mas tidak apa apa mas pergi saja dulu, sekarang aku ngantuk paling Evita tidur sambil menunggu mas"
" Ya sudah,mas pergi ya " pamit Rangga
Rangga pun tak lupa menitip kan Evita pada suster karena dia ada keperluan dulu.
Kemudian Rangga pun pergi dari rumah sakit itu menuju kantor polisi.
" Selamat siang pak Rangga, tersangka sudah kami temukan dan kami sudah mengintrogasinya, apakah pak Rangga kenal dengan pria ini," polisi pun memperlihatkan sebuah foto berpakaian khas tahanan.
"Saya tidak mengenal pria itu pak" sanggah rangga.
"Benar sekali , bapak pasti tidak akan mengenal pria itu,karena dia adalah orang suruhan" jelas pak polisi
"Tapi apakah bapak mengenal wanita yang bernama Maharani, sementara yang kami dapatkan dari pria itu, orang yang memerintahkan dia sepertinya ada motif sakit hati dan ingin balas dendam terhadap keluarga bapak" tandasnya
" Iya saya mengenalnya ,dia teman saya dulu ketika di Semarang dan ibunya teman baik mamah saya, dan dia pun pernah tinggal dirumah saya ,dan bekerja di kantor saya , namun dua bulan kebelakang dia mengundurkan diri dari kantor saya"
Rangga terbelalak setelah mendengar pelaku sebenarnya.
Rangga pun sangat marah sekali, darahnya sudah sampai Ubun ubun ingin segera memaki Maharani.
"Lalu sekarang pelaku bagaimana, apakah sudah tertangkap?"
"Kami sedang mencari jejaknya pak, nanti bilamana sudah kami dapatkan dan berhasil menangkapnya ,kami akan menginfokan kembali pada bapak"
"Baik kalau begitu, saya harus kembali kerumah sakit lagi pak, terima kasih bapak sudah dengan cepat menangkap pelakunya" Rangga mengakhiri pertemuannya dengan polisi tersebut.
Setelah berada di mobil Rangga masih merasakan amarah yang begitu besar.
Orang yang dia tolong malah membuat kekecewaan padanya.
Rangga pun telah tiba di depan kamar Evita , dan Rangga menarik nafas dulu agar terlihat rileks kembali, dia tidak ingin Evita tau bahwa dia sedang menyimpan kemarahan.
Rangga masuk keruangan Evita dilihatnya Evita masih tidur,
Setelah Rangga duduk tiba tiba suara Evita memanggilnya.
"Mas sudah datang.."
"Kirain mas kamu tidur , sudah bangun kok dari tadi hanya bosan saja jadi coba memejamkan mata lagi malah tidak bisa tidur", jawab Evita.
"Perbaikan catering bagaimana mas, sudah selesai kah" tanya Evita.
"Sudah 85 % beres, tinggal finishing, pengecatan dan beres beres saja."
Dan mas Rangga pun memperlihatkan beberapa gambar hasil renovasinya.
"Wajah cepat juga ya, the best deh team kerjanya suamiku ini"
Dan Rangga pun memberikan puding dan beberapa cake kesukaan Evita ditoko langganan nya.
"Tadi mas lewat dan mampir sebentar ke toko kue , lalu belikan ini untuk istri mas tercinta" rangga sambil membuka bungkusan.
"Wajah mas tau saja Evita sedang ingin yang manis manis, terimakasih ya sayang" manja Evita.
Dengan lahapnya Evita menghabiskan kue yang dibawa Rangga ,
"Nah gitu dong mau nyemil, berarti sekarang sudah enakan makannya"
Evita pun mengangguk sambil menikmati sisa kue ditangannya.
Tak lama Suster pun datang memeriksa Evita.
Mulai denyut nadi , Detak jantung, dan infusan.
" Bagaimana ibu Evita jahitan bekas operasinya masih terasa sakit tidak" suster bertanya sambil memeriksanya
"Masih agak ngilu tapi sudah ga senut senut," jawab Evita.
"Alhamdulillah,Sudah mulai bagus Bu jahitannya" suster pun selesai memeriksa Evita.
"Semuanya sudah membaik, saya permisi dulu Bu ,pak".
"Mas terimakasih ya, kamu selalu menemani aku disini, sampai kamu cuti kerja"
"Sudah sewajarnya suami menemani istrinya , bagiku keluarga yang no satu, soal pekerjaan itu nomor kesekian, lebih berharga kamu sayang dari pada aku harus kekantor , toh aku juga disini sambil kerja kok tuh lihat dimeja"
Rangga memperlihatkan laptopnya dan beberapa berkas yang berantakan dimeja.
"Dicatering bagaimana mas,"
"Semuanya lancar ,orderan pun lancar, ya walaupun omset Minggu ini terbilang menurun tapi hanya sedikit kok, kamu tidak perlu khawatir kan ada pak Rama yang mengurus semuanya."
Dirumah Andini berpikir keras tentang motif pembakaran ballroom catering, dan kata mas Rangga dia orang yang kita kenal , kira kira siapa?
Sementara mamah Arini pun belum mengetahuinya, hanya Andini yang diberitahu oleh Rangga , perihal info yang diberikan oleh pihak kepolisian.
Andini sedang menemani Tara yang sedang menonton acara favoritnya di televisi.
Sedangkan mamah Arini baru selesai mandi.
"Cucu Oma ternyata sudah wangi ya, sedang nonton tv ya" Oma menyapa Tara yang sedang asyik
Andini kita besok menjenguk kakak mu Evita yuk ke rumah sakit ,kata Rangga Evita sudah boleh dijenguk , dan kita jangan beritahu mereka bahwa kita akan kesana ,biar jadi surprise.
Andini pun mengangguk dengan antusiasnya.