EVITA

EVITA
Bab 68. Tinggal sementara dibandung



Evita tetap terdiam tak bergeming. Terdiam dengan tatapan nya yang kosong.


Sudah dua hari tak secuil pun makanan masuk ke mulutnya, hanya minuman itu pun dibujuk oleh Andini beberapa kali.


Andini membujuknya dengan menyodorkan makanan kesukaannya, namun Evita tetap terdiam.


Paman dan bibi pun bereaksi, karena tak tega melihat kondisi keponakannya yang seperti itu.


Paman dan bibi pun berbicara pada Rangga bahwa sebaiknya sementara waktu Evita dan Tara ikut ke Bandung dengannya, bibi pun sudah sanggup untuk merawat Tara dan Evita.


"Mungkin dengan suasana yang berbeda dia bisa menenangkan pikirannya, sampai Evita siap menerima ini semua". Ucap sang paman.


"Kamu pun bisa menengoknya kapan pun kamu mau Rangga".


Bagaikan manusia patung , yang bisa bernafas namun tak bisa bicara.


Arini pun tidak bisa berbuat apa pun untuk membuat Evita pulih seperti semula. Arini pun setuju dan semuanya diserahkan pada Rangga suaminya.


Rangga pun setuju dengan rencana paman.


Lalu Andini dan bibi nya, mengemas baju dan beberapa perlengkapan Tara dan Evita.


"Rangga ini hanya sementara saja sampai psikis Evita pulih, paman bukan mau memisahkan kamu dan tak ada niatan dari paman untuk membuat kamu jauh dari anak dan istri kamu".


"Paman khawatir bila Evita disini tidak akan membuat semuanya lebih baik mungkin akan semakin parah nantinya, kamu mengerti kan maksud paman".


Rangga hanya terdiam dan mendengarkan perkataan paman.


"Ibu Arini pun jangan merasa saya akan memisahkan Rangga dan Evita, ini semua demi kebaikan bersama, ibu Arini mengijinkan kan untuk Evita dan Tara sementara waktu tinggal bersama kami dibanding". Ucap ya lagi pada Arini.


Arini pun meminta maaf atas kekhilafan Rangga yang telah membuat hati Evita terluka. Arini pun mengijinkan Evita pergi ke Bandung.


"Pak, bu, jangan lupa sering-sering berkabar ya sama saya ,tentang kondisi Evita".


......................


Keesokan harinya , setelah selesai sarapan paman dan bibinya juga Evita dan Tara, bersiap untuk pergi ke Bandung.


Semua koper dan beberapa keranjang mainan Tara pun telah masuk kedalam mobil.


Dan mereka pun pergi meninggalkan rumah Rangga.


Yang tersisa hanya Arini dan Rangga dirumah itu, Andini tak tega melihat mamah Arini sendirian , akhirnya Andini meminta mas Heru untuk tinggal sementara waktu di rumah mamah.


Heru pun menyetujuinya namun mungkin tak setiap hari mereka menginap disana , mungkin bolak balik biar adil mereka menginap bergantian di rumah mas Heru.


Heru pun berbincang dengan Rangga diteras.


Dan Heru pun sedikit memberikan pencerahan pada Rangga tentang bagaimana mengendalikan amarah dan emosi.


Walaupun emosi datang dengan tiba-tiba tanpa terpikirkan oleh kita.


Dengan beberapa masukan yang diberikan heru pada Rangga , sedikitnya dapat membantu untuk Rangga memulai dari awal lagi memperbaiki hubungannya dengan Evita. Tanpa Rangga merasa bersalah dalam keputusannya kemarin.


Diruang keluarga Andini yang sedang bermanja pada Arini , Andini yang tak sungkan pada Arini merebahkan kepalanya dipangkuan Arini. mereka pun berbincang tentang pernikahan yang sedang dijalani Andini dan Heru.


......................


Akhirnya paman dan bibi pun sudah sampai di rumah mereka yang berada dibandung.


Bibi mengendong Tara yang tertidur terlebih dahulu menuju kamar yang sebelumnya sudah disediakan untuk Evita.


Lalu paman memapah Evita untuk masuk kedalam rumah , dan mendudukkan Evita diruang keluarga.


Walaupun tak menjawab dan tak merespon , namun bibir Evita pun mulai bereaksi dengan respon tersenyum.


Paman yang melihatnya pun mulai senang ternyata terapi pertama paman berhasil.


Karena dulu paman pernah belajar ilmu psikolog ketika dulu semasa paman kuliah. Maka dari itu paman sedikitnya paham dengan beberapa ilmu tentang psikologis.


Paman pun berkata pada istrinya, bahwa Evita harus di bawa ke psikolog untuk mendapatkan pengobatan yang tepat.


Selain terapi yang paman terapkan dirumah, Evita tetap butuh bantuan medis untuk membantu pemulihan fisik dan juga batin nya.


Mudah-mudahan Evita ada perubahan nya selama disini.


Paman dan bibinya pun merasa senang sekali dengan adanya Tara dan Evita dirumahnya.


Karena paman dan bibi sudah puluhan tahun menikah namun mereka tidak dipercayakan oleh Allah untuk mempunyai keturunan.


Namun paman dan bibinya ,menerima dengan ikhlas dan merelakan bahwa mereka tidak diberikan keturunan karena ada rencana Allah yang lebih baik untuk mereka.


Dan mempercayai bahwa Allah ingin mereka lebih banyak membantu saudara dan orang-orang yang membutuhkan pertolongan mereka.


Tara pun bangun dari tidurnya dan dia keluar kamar dan mencari keberadaan ibunya.


"Kakek kita sekarang berada dimana?". Tara menanyakan tempat asing yang baru pertama kalinya dia singgahi.


"Sekarang Tara berada dirumah kakek dibandung, Tara mau kan tinggal disini untuk sementara sambil ibu sembuh".


Tara pun hanya mengangguk , dan tak di sadari perut tara mengeluarkan sebuah bunyi, karena dia merasa lapar.


"Kakek perut Tara berbunyi, kata ibu kalo perut tara berbunyi itu tandanya Tara harus makan". celoteh Tara.


Dengan sangat polosnya bocah berusia 5 tahun itu menceritakan hal yang di ajarkan oleh ibunya.


Evita pun tersenyum kembali, mendengar celotehan Tara.


"Oh Tara lapar , kebetulan sekali nenek sudah memasak makanan untuk kita semua , kita makan dulu yuuk".


Bibi pun mengajak Evita ke meja makan , walaupun Evita masih perlu dibantu untuk makan.


Sedangkan Tara dengan sangat lahap menyantap nasi dengan sayur bayam dan perkedel buatan neneknya.


Evita pun membuka mulutnya ketika bibi menyodorkan sendok yang berisikan makanan pada Evita.


Paman pun senang melihat evita dengan perlahan mau makan.


Tidak banyak hanya beberapa sendok saja.


Setidaknya ada energi untuk evita bertahan.


Paman dan bibinya adalah satu-satunya keluarga dekat yang Evita punya. Mereka begitu menyayangi Evita dan Andini setelah orang tua mereka wafat.


Paman Evita adalah seorang pengusaha perkebunan dibandung.


Setelah paman pensiun dari dunia perkantoran , uang pesangon nya paman belikan sepetak tanah perkebunan.


Awalnya paman hanya ingin menginvestasikan uangnya agar tidak habis percuma, namun atas bantuan dari temannya akhirnya paman memberanikan untuk membuka lahan perkebunan di salah satu tempat di daerah pinggiran bandung.


Dan akhirnya tanah perkebunan yang tadinya hanya sepetak kini sudah bertambah dan menurut paman cukup untuk biaya hidup mereka berdua.


Dan hasil perkebunan paman sekarang sudah di pasarkan ke daerah Jakarta oleh para tengkulak.


Paman selalu menjaga kwalitas dari sayurannya, agar orang yang membeli sayuran dari kebun paman selalu merasa puas dengan kwalitas sayuran yang bagus.