
Keesokan harinya Evita pun pergi ke rumah catering membawa Tara, setibanya disana Evita pun disapa oleh semua karyawan, dan mba Ema pun berada disana tanpa melihat kesana kemari karena dia sedang fokus kerja.
"Sepertinya di sana ramai sekali ada apa ya", mba Ema pun bertanya pada salah satu rekannya didekatnya.
"Biasa ada ibu boz datang kontrol".
Mba Ema penasaran apakah mertuanya Evita yang datang ya, dia pun ingin berterimakasih pada ibu boz tersebut karena sudah di berikan kesempatan bekerja di tempat nya.
Ketika menoleh ternyata Evita yang datang sambil tersenyum padanya.
"Yang semangat ya kerjanya"
Evita memberikan semangat pada semua karyawan.
"Ternyata Ibu boz itu Evita yang mereka maksud", mba Ema semakin salah tingkah dibuatnya.
Evita pun mencari keberadaan mba Ema, yang tidak ia jumpai.
Tiba-tiba mba Ema pun muncul dari belakang membawa wadah yang berisi sendok dan garpu, dan Evita pun menyapanya.
"Mba Ema, selamat ya sudah mau menerima tawaran dari Evita , yang semangat ya kerjanya, nanti kita ketemu pas makan siang ya mba,ada yang mau Evita bicarakan". Lalu Evita pun berlalu keruangan pribadinya.
Ema begitu kagum melihat Evita yang rendah hati dan baik pada semua karyawannya.
Sementara Tara asik main dengan mainannya diruangan Evita sambil menonton film kartun favorit nya, sedangkan Evita mengecek laporan penjualan.
Waktu sudah menunjukan jam makan siang semua karyawan bergantian untuk istirahat makan, dan Evita menyuruh OB untuk memanggil mba Ema untuk keruangannya, dan sekaligus Evita memesan makanan untuk dua porsi pada OB tersebut.
Wanita yang Evita anggap sebagai kakak itu sudah berada di ruangannya, dan Ema pun begitu canggung dengan Evita, ketika dia mengetahui bahwa Evita adalah atasannya.
"Sebelum kita ngobrol kita makan dulu mba, yuuk silahkan jangan sungkan".
Mba Ema menuruti saja apa yang diperintahkan evita, mereka pun bisa makan siang bersama.
" Ternyata kamu begitu merendah Evita, mba kagum sama kamu"
"Evita disini hanya membantu mertua Evita saja, oh iya ada yang ingin Evita bicarakan, begini mba,
aku lihat kmrn rumah mba sangat tidak layak untuk ditinggali, dan Evita pun sudah berbicara pada mas Rangga , mamah mertua dan juga Andini untuk merenovasi rumah mba Ema. Dan selama proses renovasi mba bisa manfaatkan fasilitas mes disini sampai rumah mba beres direnovasi".
"Apakah tidak berlebihan kamu menolong saya , nanti apa kata orang , nanti orang berpikir aku memanfaatkan kebaikan mu untuk kepentinganku sendiri, mba tidak mau hal itu terjadi,mba sudah kamu kasih pekerjaan saja mba sudah sangat bersyukur".
"Mba jangan pikirkan perkataan orang, kan mba tidak meminta tapi Evita yang ingin memberikan sesuatu pada mba. Evita sudah anggap mba seperti saudara Evita, mbaau kan menerima bantuan kecil ini?". sedikit membujuk Ema.
Dan akhirnya Ema pun mengangguk
"Mba ikut apa kata mu saja Evita, bila niatmu baik semoga kamu dan keluarga kamu selalu diberikan kemudahan dalam segala hal".
"Jadi mulai besok mba tinggal disini dulu sementara ya, Evita sudah minta pak Rama untuk menyiapkan kamar untuk mba disini, semoga mba betah ya tinggal sementara disini".
"Terimakasih Evita , kamu begitu baik ,nasib dan takdir mu sangat mujur sekali, jam istirahat mba sudah mau habis , mba pamit untuk kembali bekerja lagi ya".
Evita pun mempersilahkan mba Ema keluar dari ruangannya.
Sementara itu terlihat Tara yang tertidur disofa, dengan sangat pulas.
Melihat Tara tidur ,Evita pun keluar dari ruangannya menuju meja parasmanan dan mengambil beberapa potong dimsum kesukaannya, dan segelas air teh tawar panas.
Evita pun menikmati kudapan itu dengan nikmatnya.
Sementara suaminya video call dengannya
"Hallo mas , kamu sudah makan siang?"
"Tara mana sayang ,kok ga kelihatan".
"Terus bagaimana rencana untuk renovasi itu, apa kamu sudah bicara sama mba Ema".
"Sudah mas mba Ema mengijinkannya dia setuju dan mau menerima bantuan dari kita".
"Yasudah nanti mas hubungi team pekerja disini untuk renovasi rumah mba Ema".
"Ya sudah kamu jangan terlalu sore pulang nya,kasihan Tara". Lalu video call pun terputus.
Setelah Tara bangun Evita pun memberikan makan dulu Tara, setelah itu mereka pun bergegas untuk pulang ke rumah.
Dan secara bersamaan Andini pun pulang tak lama setelah mobil Evita masuk garasi.
"Lho kok kak evita baru pulang", Andini pun langsung memapah Tara masuk kedalam
"Iya tadi Tara tidur disana , jadi kakak menunggu Tara bangun dulu".
"Assalamualaikum" .
Terlihat mamah Arini sedang menonton tv sendiri di ruang tengah sendirian.
"Maaf mah Evita pulang nya kesorean , habis tadi Tara tidur disana".
Evita pun langsung menuju kamarnya untuk mandi dan ganti baju sementara Tara , Evita minta Andini untuk memandikannya.
"Cucu Oma senang ikut ibu ke kantor". Sambil menggendong Tara dalam pangkuannya.
"Tara ga mau ikut ibu lagi, disana banyak orang Tara tidak suka", dengan polosnya Tara berbicara.
Oma hanya tersenyum mendengar penuturan Tara.
"Ya sudah besok-besok kalau ibu ke kantor Tara tidak usah ikut, Tara dirumah saja dengan Oma".
Tara pun mengangguk apa yang diucapkan Omanya.
"Sekarang Tara mandi dulu yuuk sama aunty".
Tara pun manut dengan ajakan Andini.
Tak lama Rangga pun pulang dari kantor, dan langsung menuju kamar karena dia mendengar Evita sedang muntah muntah.
"Sayang apa kamu tidak apa-apa, apa yang kamu rasakan , apa perlu kita kedokter?", tanya Rangga sambil mencemaskan istrinya.
"Nggak usah mas mungkin tadi kebanyakan makan dimsum , jadi agak enek sekarang".
"Lebih baik sekarang mas mandi dulu sana ,sebentar lagi Maghrib lho".
Setelah semuanya selesai melaksanakan shalat magrib dan beres makan malam. seperti biasa Rangga menemani Tara bermain.
Evita pun membuat status WhatsApp beberapa foto ketika ia dan Lusy berada di depan patung Merlion.
Dengan bersamaan mamah pun melihat SW yang dibuat Evita , sontak terasa syok seakan dada terhimpit batu besar.
Seorang wanita yang berfoto bersama evita itu wanita yang Arini kenal dia adalah mantan pacar Rangga yang membuat Rangga hancur pada waktu itu.
"Lusyana, benarkah ini dia, mengapa Rangga dan Evita tak menceritakan hal ini sepulang dari Singapur kemarin, dan sepertinya Evita begitu akrab dengannya". Arini pun semakin penasaran.
"Sebaiknya aku tanyakan besok pada Evita ketika Rangga sudah pergi ke kantor".
Arini pun langsung mengambil obat jantungnya, dan segera meminumnya , ia tidak mau sampai Evita dan Rangga mengetahui bahwa jantung mamahnya kumat.
Banyak pertanyaan dipikiran Arini, yang ingin ia ketahui , mengapa Rangga membiarkan Evita dekat dengan Lusy?
Apakah Evita tau bahwa Lusy adalah mantan pacar Rangga dahulu?