
Jarak rumah sakit dengan cafe hanya menyebrang jalan saja, sehingga Evita tidak terlambat masuk kerja, dia pun bergegas untuk mengisi absen terlebih dahulu.
Evita pun bersiap melepaskan sweater nya dan menggantinya dengan apron, lalu dia pun memasukan tasnya kedalam loker.
Sementara Rangga setelah mengantar Evita ke loby rumah sakit, dia pun menuju ruang rawat mamahnya kembali dan bersiap untuk membawa sang mamah untuk pulang kerumah.
Perasaannya pun sudah tenang akhirnya bisa pulang kerumah juga sudah seminggu berada disini, karena bosannya setiap hari harus terbiasa menghirup udara dirumah sakit yang berbau obat.
Suster pun datang untuk membuka infusan yang terpasang ditangan ibu Arini. Baru kali ini Rangga melihat mamahnya sangat bersemangat dan terlihat bahagia sekali.
Sepertinya tawaran Rangga pada Evita untuk menjadikannya Istri tidak main main, walaupun mereka baru kenal, Rangga sudah mantap memilih Evita karena sudah direstui oleh sang mamah tercinta.
Sebetulnya Rangga itu bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta pada perempuan, dia sangat pemilih sekali, tak heran setelah kejadian dia diselingkuhi oleh pacarnya terdahulu Rangga sangat berhati hati untuk membuka hatinya pada seorang perempuan.
Atas desakan dari sang mamah akhirnya Rangga pun dapat membuka kembali hatinya untuk Evita.
Rangga hanya tinggal berdua dengan mamahnya dengan satu asisten rumah tangga bernama mba Mia.
Ibu arini divonis mempunyai penyakit jantung setelah kepergian suaminya beberapa tahun yang lalu. Namun dengan ketelatenan Rangga mengurus mamahnya seorang diri, sampai keluar masuk rumah sakit sehingga ibu Arini masih bisa bertahan saat ini, yang Rangga inginkan saat ini adalah melihat mamahnya bahagia dengan menikah dalam waktu dekat ini.
......................
Kegiatan dicafe tidak seperti biasanya kali ini ada yang menyewa selama 2 jam untuk acara arisan, seorang perempuan sosialita yang tempo hari datang untuk sekedar sarapan pagi.
Sehingga cafe ditutup untuk umum selama 2 jam.
Sementara Rangga dan mamahnya sudah sampai rumah, dan mamahnya sudah beristirahat kembali di kamarnya. Akhirnya Rangga mulai tenang mamahnya sudah berada dirumah dan Rangga yang sudah ijin tidak kekantor selama seminggu membuat pekerjaan nya banyak yang tertunda.
Sebenarnya Rangga bekerja di perusahaan nya sendiri tepatnya perusahaan milik keluarga, tapi Rangga selalu bersikap profesional terhadap pekerjaan nya.
Pertanyaan mamahnya yang membuat Rangga harus mencari cara bagaimana dia berbicara pada Evita, tentang niatnya yang ingin melamarnya, sedangkan mereka terhitung baru berkenalan beberapa pekan.
Akhirnya cafe pun dibuka untuk umum setelah tutup selama 2 jam karena dibooking, Evita pun seperti biasa melayani para tamu dan mengantarkan pesanan mereka.
Rangga pun berniat malam ini dia akan melamar Evita dihadapan adiknya.
"Ngga..nanti Evita kamu ajak main kerumah ya kalau dia libur saja, mamah ada perlu sama dia."
Rangga pun mengiyakan keinginan mamahnya tanpa bertanya sambil menggodanya," baik ibu Arini ? asalkan ibu Arini senang dan bahagia, anakmu ini akan mewujudkannya"
"Mah Rangga pergi dulu ya... mau menjemput calon mantu mamah pulang kerja" pamit Rangga pada mamahnya. Rangga pun langsung melajukan kendaraan nya dengan pasti dan penuh harapan.
Jam kerja Evita pun hampir selesai,dan dia pun bersiap untuk pulang, sementara Rangga pun sudah menunggunya diluar.
"Memangnya kita janjian ya, kamu mau jemput ? kasihan lho mamah kamu ditinggal tinggal " ucap Evita pada rangga.
"Mamahku mah sudah aman, justru dia yang suruh aku jemput kamu,"
"Dan kamu kapan liburnya, mamah nyuruh kamu main kerumah?" ucap Rangga menyampaikan pesan mamah Arini
"Besok aku libur? seperti kebetulan sekali ya.."
jawaban Evita
"Besok sekitar jam 10an aku jemput kamu ya.." ajak Rangga
Rangga yang sepertinya bisa membaca pikiran Evita langsung menyindirnya
"Untuk besok kamu tampil apa adanya saja, mau pake apapun kamu terlihat cantik kok dimata aku".
Evita pun menunduk malu, setelah mendengar perkataan Rangga entah itu pujian atau sindiran Evita tidak peduli, yang terpenting ada yang menerima keadaan Evita saat ini pun dia sudah sangat bersyukur.
motor pun sudah terparkir didepan rumah evita, dan andini pun keluar dari rumah, sambil menyapa Rangga
"Hai kak Rangga?... ", bawa apalagi tuuh.."
Andini melirik ke bungkusan yang dibawa Rangga.
Rangga pun memberikan bungkusan itu pada Andini.
Sedangkan Evita langsung kedapur membuat minuman buat Rangga dan dirinya.
lalu dia pun menyajikannya pada Rangga.
" Kamu ngobrol dulu ditemani Andini ya.., aku mau mandi dulu gerah nih?" Andini pun meminta adiknya menemani Rangga
sepertinya ini waktu yang tepat untuk Rangga meminta ijin pada Andini untuk melamar Evita.
sementara Evita sedang dikamar mandi membersihkan dirinya.
" Dek kak Rangga mau tanya boleh ga?.."
Andini pun mengangguk sambil makan- gorengan yang dibawa Rangga tadi.
"Kakak kamu, belum punya pacar kan? seandainya kak Rangga mau melamar kak Evita untuk jadi istri kak Rangga kamu keberatan tidak?"
Andini pun kaget mendengar pengakuan Rangga yang to the poin. sambil bercerita tentang kakaknya
" Dulu kak Evita itu sudah mau menikah kak bahkan acaranya pun sudah dipersiapkan 99%, namun pernikahannya gagal karena dikhianati temannya sendiri, temannya ada hubungan dengan calon suami kak Evita, dari situ kak Evita kecewa dan menutup diri untuk laki laki, namun begitu kak Rangga pertama kalinya mengantar kakak tempo hari, Andini senang sekali, tawa kak Evita sudah kembali lagi sekarang."
"Andini setuju kalau kakak mau jadi kakak ipar Andini, tapi ingat ya kak jangan kecewakan kak Evita, jangan bikin kak evita nangis lagi"
"Tapi apakah keluarga kakak mau menerima kami, kami orang yang tidak punya kak, dan kami yatim piatu saudara kami jauh diluar kota sana"
Rangga pun lega dan mengucap "Alhamdulillah"
" Tenang de, kakak akan bahagiakan kak Evita dan keluarga kakak tidak memandang orang dari harta tapi dari hatinya. Kakak kamu adalah kakak yang hebat, dan kakak pun sebenarnya sama punya masa lalu dan pernah dikecewakan."
"Besok rencananya kak Rangga akan bawa kak Evita kerumah kakak"
Setelah Evita keluar dari kamar, obrolan Rangga dengan Andini pun telah berakhir, namun Evita ingin tahu apa yang sebenarnya mereka bicarakan
" Asiik benar rupanya kalian, ngobrolin apaan siih..ngomongin aku ya...?" Evita bertanya dengan sedikit penasaran.
"Kita ga ngobrolin apa apa kok, kepo amat siih kakakku ini," jawab Andini sambil bercanda
Rangga mulai sedikit gugup, didepan Andini Rangga pun mulai memberanikan dirinya, mulanya mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dengan hiasan bunga cantik diatasnya, kemudian membuka kotak itu yang berisikan sebuah cincin didalamnya dihadapan Evita.