EVITA

EVITA
Bab 52. Kabar Baik Yang Meresahkan



Mamah Arini pun meminta penjelasan Rangga atas foto yang di upload Evita beberapa hari lalu.


"Itu Lusy kan, mantan pacarmu dulu, kenapa dia bisa sampai bertemu dengan Evita".


"Rangga tidak sengaja melihat dia sewaktu Rangga kesingapur yang pertama ,awalnya Rangga ragu itu Lusy. Lalu kemarin ketika bersama Evita Rangga baru berani singgah ke tokonya karena alasan Evita takut bosan menunggu rangga kerja dari pada Evita diam saja dihotel, Rangga saran kan agar Evita jalan jalan atau pun main ketempat yang disukai Evita, dan Evita langsung menunjuk pada toko bunga itu". Jelas Rangga tanpa ada yang di sembunyikan.


"Namun awalnya Rangga takut bila dia mengetahui Evita istri Rangga, tapi setelah Rangga bertemu dengan Lusy ternyata Lusy tidak mengenali Rangga sama sekali". Lanjutnya.


"Mungkin Lusy pernah berbuat salah pada Rangga dan dia kini telah menerima hukumannya sendiri, dia telah hilang ingatan tidak mengenal siapapun kecuali orang yang menolongnya, mungkin bila Rangga dipertemukan lagi dengannya itu sudah takdir mah, kita tidak bisa menghindari nya, karena semua bukan keinginan kita".


Rangga mulai merasa bersalah pada mamahnya.


"Sekarang Rangga ingin fokus pada Evita saja mah , karena dia sedang tidak enak badan , mungkin karena kecapean juga, sepulangnya dari Singapur Evita langsung sibuk mengurus ini dan itu tak terkecuali mengurus rumah mba Ema. Rangga pamit dulu mah Rangga mau menjaga Evita malam ini".


Mamah Arini pun dibuat terdiam dengan ucapan Rangga. Tak dipungkiri dari gelagatnya Rangga masih menaruh hati pada Lusy, walaupun dulu dia telah dihianati oleh Lusy.


......................


Semalam Evita tidak bisa tidur karena muntah terus begitu juga dengan rangga menemani Evita semalaman , akhirnya pagi itu Evita pun mau dibawa kedokter.


Karena hari Minggu dokter langganan tidak praktek , dan terpaksa Rangga membawa Evita keklinik terdekat.


Setelah di cek laboratorium ternyata trombosit Evita turun ,dan badan nya pun mulai panas. Dokter dari klinik menyarankan bila besok masih seperti ini keadaannya sebaiknya Evita dirawat inap.


Setelah sampai rumah pun Evita tidak bisa makan dan obat pun tidak diminumnya, untuk meredakan panas Arini menyuruh pak Nono mencarikan air kelapa ijo untuk Evita.


Setelah dua jam akhirnya pak Nono pun mendapatkannya itu pun hanya satu buah ,karena sedang tidak musim.


Walaupun memaksakan makan namun setiap makanan yang berhasil masuk kedalam mulutnya beberapa menit kemudian pasti akan dikeluarkan kembali.


Sangat tersiksa Evita dibuatnya , hingga dia lemas karena kekurangan cairan karena muntah terus. Dan akhirnya Evita menyerah dengan kondisinya.


Hari Senin siang Evita pun dilarikan kerumah sakit. Akhirnya mau tidak mau harus dirawat karena sudah terlihat lemas dan tak ada tenaga lagi.


Dan rangga pun mengambil cuti sementara dari kantornya, demi menjaga Evita dirumah sakit.


Evita yang biasanya ceria penuh dengan semangat hidup kini terkulai lemas bergantung pada cairan dan selang infusan.


Rangga pun memilih untuk tetap terjaga di malam itu , karena panas Evita semakin naik ,Rangga pun panik ketika badan Evita bergetar.


Rangga pun langsung memanggil suster , agar Evita dapat ditangani dengan cepat, suster pun memasukan obat kedalam cairan infusan, dan selang satu jam suhu badan Evita pun perlahan mulai turun, dan Rangga pun hampir tenang karena Evita sudah tidak gelisah lagi.


Rangga pun tertidur disofa sambil beberapa waktu bangun untuk mengecek keadaan istrinya. Rangga pun yang kelelahan akhirnya tertidur pulas sampai pagi.


Keesokan paginya suhu tubuh Evita sudah mulai turun , dan Evita pun mencari keberadaan suaminya.


Dan dilihatnya mas Rangga begitu pulas tidur, karena dari kemarin dia begadang hanya bisa menikmati tidur sebentar.


Suster pun datang mengecek lagi suhu tubuh Evita , tekanan darah dan semuanya telah stabil kembali, badan nya pun sudah mulai enak , mungkin karena panas badannya sudah turun.


"Kenapa aku ini, tiba-tiba drop dan lemas, namun hari ini rasa diperutku ini semakin terasa sakit, mual dan rasa ingin muntah pun tiba-tiba muncul kembali".


Dan tak lama suster pun datang mengecek keadaan Evita.


"Iya ibu , ada yang bisa saya bantu".


"Perut saya sakit lagi dibagian bawah sini",sambil menunjukan area yang sakit pada suster.


"Baik akan saya catat ke dalam catatan keluhan ibu, nanti bila dokter visit ibu utarakan kembali keluhan ibu, biar segera ditindak lanjuti", ucap seorang suster.


Rangga pun terbangun dan dilihatnya Evita sedang mengerang kesakitan.


"Kamu kenapa sayang , apa yang dirasakan sekarang". Rangga pun panik.


Tak lama seorang dokter perempuan pun datang.


"Selamat pagi ibu, apa yang dirasakan sekarang". Tanya dokter.


"Perut saya sakit dokter", sambil meringis kesakitan.


Dokter pun memeriksa nya dan bilang pada suster segera lakukan USG.


Dan dokter pun menjelas kan pada Rangga dan Evita akan dilakukan USG untuk melihat keadaan diperutnya.


Setelah Evita sarapan dengan menu yang disediakan oleh rumah sakit , seketika itu juga makanan itu pun keluar kembali.


Seakan hanya numpang lewat saja semua makanan yang masuk kemulut evita.


Dan akhirnya suster pun membawa Evita keruangan dokter dengan kursi roda dan USG pun dilakuka.


"Ibu Evita kapan terakhir anda haid, perutnya terasa begitu kencang sekali , apakah pernah melakukan tes kehamilan sebelumnya".


Evita pun menjawab bahwa dirinya telah terlambat datang bulan seminggu dibulan ini dan belum melakukan tes kehamilan.


Sebuah alat di tempelkanya pada perut Evita dan dokterpun mulai menggerakkan nya kekanan dan kiri , keatas dan kebawah.


Setelah USG selesai dokter pun memberikan penjelasan tentang hasil nya.


"Setelah saya lakukan USG barusan, selamat ya ibu Evita dan bapak, karena ibu evita telah positif hamil, namun ada kendala juga yang harus saya sampaikan yang mana kehamilan ini dengan mioma, sebenarnya tidak masalah bila miomnya tidak berkembang , janin dirahim akan baik-baik saja, namun bila miom terus membesar janin akan kalah dengan miom tersebut.


dengan kata lain kami harus melakukan observasi selama trimester pertama ini". Jelas dokter.


Disisi lain Rangga merasa bahagia karena Evita tengah hamil anak yang kedua, namun raut wajah Evita seakan menyimpan kegundahan dan seakan tidak percaya apa yang dokter katakan.


Kemudian suster pun membawa kembali Evita keruangan rawatnya.


"Sayang apakah kamu baik-baik saja, Tara akan punya adik lagi, semoga anak kita nanti perempuan ya, sesuai yang kamu inginkan". Rangga begitu antusias sekali.


Sementara Evita masih gugup dan bingung apa yang harus dia lakukan untuk kehamilannya yang sekarang. Namun didepan suaminya yang sedang merasakan kebahagiaan Evita tidak sama sekali memperlihatkan kegundahannya.