
Setelah mendengar berita sang mamah sedang dirawat, Rangga dan Evita pun langsung bersiap untuk pergi ke Semarang.
Namun Evita bingung dengan Tara bila dia juga harus ikut, karena hari Senin ada perlombaan mewarnai di sekolahnya.
Setelah Rangga dan Evita mandi, Evita pun membantu Rangga untuk bersiap-siap mengemasi kopernya, beberapa helai pakaian ganti untuk Rangga.
Sepakat bahwa Evita akan menyusul Rangga ke Semarang setelah acara Tara selesai.
Evita pun memanggil pak Nono untuk membawakan koper ke bagasi mobil. Serta minta pak Nono untuk mengantarkan rangga ke Bandara.
Kemudian Evita menemani Rangga untuk sarapan dulu, dan dimeja makan sudah terlihat Andini, yang kebingungan melihat tingkah kedua kakak yang begitu cemas.
"Kok bawa koper? memang kalian mau kemana?" tanya Andini dengan penasaran.
"Tadi suster yang merawat mamah mengabarkan bahwa semalam mamah dibawa kerumah sakit, mamah kambuh lagi jantungnya." tutur Evita.
"Sekarang mas Rangga berangkat sendiri kesana, kakak menyusul saja nanti setelah acara lomba mewarnai di sekolahnya Tara selesai." jelasnya.
Sarapan pun Rangga hanya sedikit, yang penting perutnya sudah terisi dengan nasi.
Rangga merasa cemas sebelum dia mengetahui keadaan mamahnya secara langsung.
Akhirnya Rangga pun berpamitan pada Evita dan Andini, sementara Tara masih tertidur.
"Mas pergi dulu ya, doakan supaya mamah baik-baik saja keadaan nya disana." ucap Rangga dengan penuh harap.
"Kamu hati-hati dijalan ya mas, kabari kalau sudah sampai, salam untuk mamah dari Evita dan Andini" tandasnya.
Rangga pun masuk kedalam mobil dan pergi diantar oleh pak Nono.
Evita hanya mengkhawatirkan keadaan mamah Arini, dan mendoakannya semoga tidak terjadi sesuatu yang membuat Rangga sedih.
Tara pun bangun, dan mencari keberadaan sang ayah yang tidak dia lihat disudut rumah manapun.
"Ibu, ayah kemana?" ucap sang anak.
"Ayah pergi ke Semarang tadi pagi, menengok Oma disana" jelas sang ibu.
"Tara ingin menengok Oma juga ibu,"
"Tara ingin bertemu Oma, benarkah?" tanya Evita.
Tara pun mengangguk dengan puh percaya diri.
"Besok setelah Tara ikut lomba disekolah kita ke Semarang, Tara mau?" tutur Evita menyetujui.
"Mau ibu ... , kalau begitu nanti Tara ikut lomba mewarnai nya harus yang bagus ya ibu, biar Oma pun senang" tutur Tara.
Evita dan Andini pun tersenyum dengan penuh antusias mendengarkan cerita Tara yang bersemangat.
Dan sekitar pukul 12.00 Rangga pun memberi kabar bahwa 'ia sudah sampai di bandara Semarang menuju rumah sakit.
Evita pun sudah mulai tenang, suaminya sudah sampai di Semarang. Tinggal menunggu kabar selanjutnya tentang kondisi mamah Arini.
Namun sepintas Evita masih merasa takut, bila mas Rangga akan bertemu lagi dengan perempuan yang tempo hari ada didalam foto.
Tapi Evita membuyarkan lamunannya tentang hal itu, yang ia pikirkan sekarang hanyalah mamah Arini.
......................
Rangga pun telah sampai di pelataran rumah sakit, dan setibanya didepan ruangan mamah Arini dia pun melihat Sarah berada disana.
Rangga pun tak peduli dengannya, yang utama sekarang hanya mengetahui kondisi mamahnya yang sekarang masih di ruang ICU.
Susi adalah nama seorang suster dipanti. Dia pun menoleh dan melihat Rangga, lalu 'ia pun segera bangun dari duduknya.
"Pak Rangga ...." suster pun menyapa Rangga.
Seketika Sarah yang sedang duduk memainkan ponselnya, langsung tersenyum senang setelah melihat Rangga datang.
Itulah tujuan utama sarah mengambil hati Arini agar Arini merestui dia dengan Rangga, tanpa memperdulikan bahwa Rangga sudah mempunyai keluarga sekarang.
Seorang perawat pun keluar dari ruang ICU, dan Rangga pun bertanya tentang kondisi mamahnya itu.
"Suster bagaimana keadaan mamah sekarang?" tanya Rangga dengan sangat cemas.
"Ibu Arini Alhamdulillah sudah melewati masa kritisnya dan sekarang masih dalam pengawasan dokter, jika nanti sore sudah membaik akan dipindahkan keruang rawat" ucap sang perawat.
"Apakah anda yang bernama Pak Rangga?" tanya suster itu.
"Iya, saya Rangga anaknya" jawab Rangga.
"Silahkan bapak boleh masuk, ibu Arini sudah menunggu bapak dari tadi, saya permisi dulu, didalam pun ada suster yang mengawasi ibu Arini" Perawat itu pun langsung pergi.
Sedangkan Rangga akan bersiap masuk dan menitipkan kopernya pada susi. Namun sebelum Rangga masuk, dia dihadang oleh Sarah yang menyapanya.
"Hai Rangga, apa kabar?"
Rangga pun berlalu dari hadapan Sarah tanpa sepatah kata pun, dan segera masuk keruang ICU.
Sarah pun dibuat geram oleh tingkah Rangga yang mengacuhkan nya.
Rangga pun terlihat sudah memakai jubah berwarna hijau, khusus untuk pengunjung yang masuk keruang ICU.
"Keadaan Mamah baik-baik saja kah sekarang, Rangga sengaja datang untuk Mamah" ucap Rangga.
Arini pun meneteskan air matanya, dan 'ia pun teringat saat pertama kalinya Rangga memperkenalkannya dengan Evita.
"Lho mamah kenapa menangis?"
"Evita mana, Nak?" tanya Arini.
"Evita nanti menyusul, besok harus menghadiri acara lomba mewarnai disekolah Tara. Setelah acaranya selesai Evita akan langsung menyusul kesini dengan tara."
Arini pun mengangguk dan merasa tenang, setelah mengetahui bahwa Evita akan datang besok.
"Maaf pak, waktu kunjungan bapak sudah habis. Pasien harus beristirahat kembali, mungkin nanti dokter akan visit untuk mengecek kondisi ibu Arini, agar segera dipindahkan keruang rawat" ucap perawat itu.
"Mah Rangga tunggu didepan ya, Rangga tidak akan kemana-mana, kita tunggu dokter datang dulu?" tuturnya.
Rangga pun keluar ruangan dan langsung menanyakan pada susi tentang kejadian jantung mamah kambuh.
"Suster ...! kenapa mamah tiba-tiba jantungnya kumat, padahal mamah baik-baik saja kan sebelumnya?" tanya Rangga dengan mencecar.
Sarah yang ada disana hanya terdiam melihat Rangga yang sedikit emosi.
"Saya juga tidak tau Pak, setelah selesai makan malam, saya akan mengambil obat dikamar ibu Arini, namun ketika saya kembali ibu Arini sudah memegang dadanya dan terlihat kesakitan, seketika itu ibu langsung jatuh pingsan tidak sadarkan diri. Lalu semuanya langsung membawa ibu kesini" jelas Susi.
"Lalu apa yang membuat mamah tiba-tiba kambuh jantungnya," Dengan sangat bertanya-tanya Rangga pun memikirkan apa yang terjadi pada mamahnya.
Tadi ketika Rangga datang, Arini seakan-akan ingin memberitahukan sesuatu pada Rangga, namun Arini tampak masih kebingungan.
"Pak Rangga, bolehkah saya ijin untuk pulang dulu ke yayasan, nanti saya akan kesini lagi" pinta Susi.
Rangga pun mengiyakan, dan mengijinkan Susi untuk pulang dulu ke yayasan.
Sarah yang sedari tadi, mencari kesempatan untuk mendekati Rangga kini sudah bebas dan tak ada yang menggangu nya lagi.
Sarah pun tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Rangga, kenapa kamu seakan menghindar dariku sekarang, aku pun semalaman menunggu Tante Arini disini bersama suster Susi, kamu tidak sedikit pun berterima kasih padaku" Sarah berkata seakan dirinya yang paling berjasa.
Sarah pun kesal dibuatnya, Rangga tak sedikit pun berterima kasih atau pun memperhatikan nya.
Rangga tidak percaya begitu saja dengan perkataan Sarah. Rangga pun berpikir apakah mungkin ini ada kaitannya dengan Sarah, hingga mamah Arini Anfal.
Tak lama terlihat seorang dokter masuk ruang ICU, untuk memeriksa mamah Arini.
Setelah beberapa lama dokter pun keluar ruangan sambil meminta Rangga untuk ikut keruangannya.
"Pak Rangga silahkan ikut saya keruangan, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi ibu Arini."
"Baik dokter" jawab Rangga sambil mengikuti sang dokter.
Dokter pun masuk keruangannya, di susul Rangga dan dipersilahkan nya Rangga untuk duduk.
"Begini pak Rangga saya ingin memberitahukan kondisi ibu Arini saat ini, kemarin beliau Anfal hingga kritis, namun alhamdulillah nya pagi tadi keadaan beliau terus membaik, dan kami duga ibu Arini mengalami syok, sehingga serangan jantungnya kambuh dengan tiba-tiba. Saya harap untuk menjaga pikiran dan perasaan ibu Arini itu perlu untuk saat ini. Kondisinya sekarang sudah lebih baik, namun masih harus di rawat inap dulu beberapa hari, sampai kondisinya benar-benar stabil. Saya rasa hanya itu yang perlu saya sampaikan dan ibu Arini sekarang sudah bisa pindah ke kamar rawat inap." Dengan begitu detail dan jelas dokter berkata.
Rangga pun pamit dan kembali keruang ICU.
Dan terlihat perawat yang tengah menunggu Rangga untuk membawa Arini keruang rawat inap nya.
Rangga pun sudah memesan ruang VIP untuk mamah Arini, agar merasa nyaman nanti saat Tara dan Evita datang.