
Tepat pukul tujuh Evita pun bangun dengan setengah sadar, dengan nada lemah dia berkata
"Mas, dimana bayi nya, dia selamat kan?".
Tak lama suster pun datang setelah Rangga memencet tombol panggilan yang berada disamping kasur Evita.
Suster pun datang dan mengecek denyut nadi, detak jantung dan tekanan darahnya juga, serta memasukan isi didalam suntikan ke cairan infusan.
"Nyonya Evita masih lemah , jangan dibiarkan banyak bergerak dulu ya pak apalagi bangun dari tempat tidur ,karena kondisinya belum stabil, bila sudah kuat bisa dicoba miring kanan atau miring ke kiri ,untuk lebih lanjut nanti dokter yang menjelaskan perihal kondisi nyonya Evita ,saya permisi dulu pak".
Suster pun berlalu meninggalkan evita dan keluar kamar.
Kemudian Andini pun bangun dan langsung menghampiri kakaknya yang sedang terbaring lemah.
"Kakak harus banyak istirahat biar tenaga kakak semakin pulih". Memberikan semangatnya pada Evita.
"Din, kakak mau lihat bayi kakak, bagaimana kondisinya, dia baik kan?", tanya Evita mengulangi pertanyaannya yang sama.
"Bayi kakak lahir prematur dan sekarang ada di dalam inkubator, dan masih dalam pengawasan dokter juga jadi belum bisa dibawa kesini".
Setelah mendengar penjelasan dari Andini Evita pun terdiam dan tidak bertanya lagi.
Andini pun mengambil alih mengurus Evita dan membiarkan Rangga untuk keluar dulu.
Karena Rangga belum memberikan kabar pada mamahnya dari semalam , pagi itu Rangga langsung menelfon dan bilang bahwa Evita sudah selesai dioperasi dan bayinya terpaksa dilahirkan dengan keadaan prematur.
Rangga pun bingung harus menjelaskannya seperti apa pada mamahnya tentang keadaan Evita yang sebenarnya.
Sekitar pukul sepuluh dokter Hana pun visit ke kamar Evita, dan mengecek kondisi Evita.
"Selamat pagi ibu Evita, selamat ya ibu sudah melahirkan seorang bayi putri, namun bayi ibu terpaksa harus dilahirkan dengan kondisi prematur dan sekarang masih ditangani oleh dokter anak, apakah sudah bisa miring ke kiri dan ke kanan".
"Sudah tapi masih sedikit ngilu dok". Jawab Evita.
"Iya tidak apa-apa yang penting perlahan saja sampai ibu kuat untuk belajar duduk dan jalan, kondisi ibu Evita sudah jauh lebih baik, nanti saya cek esok pagi ya Bu , sekarang saya permisi dulu".
Dokter pun menghampiri Rangga.
"Pak Rangga bisa ikut keruangan saya sebentar ,ada yang ingin saya sampaikan pada bapak".
"Iya dok ", Rangga pun mengikuti dokter Hana menuju ruangannya.
Rangga pun merasa tegang ketika memasuki ruangan dokter Hana, dan duduk dikursi berhadapan dengan dokter Hana.
"Begini pak , seperti dari awal karena ibu Evita mengalami kehamilan dengan miom , jadi kami terpaksa harus mengangkat juga rahim ibu Evita, sebab bila tidak dilakukan akan menyebabkan pendarahan hebat dan janin pun tidak akan selamat, setelah rahimnya kami angkat otomatis ibu Evita tidak bisa lagi hamil ataupun mempunyai keturunan lagi. Namun kami mengecek sebenarnya miomnya ini telah tumbuh sebelum ibu Evita hamil, karena ukurannya pun sudah cukup besar, apakah bapak tau tentang hal ini?".
"Selama ini istri saya tidak pernah berkata apapun dan menjelaskan apapun, tapi setiap dia datang bulan memang selalu kesakitan namun dia bilang hal yang wajar saja sering dialami wanita ketika datang bulan , dan istri saya tidak pernah mengatakan bahwa dia mempunyai miom dirahimnya". jelas Rangga dengan kagetnya.
"Maka dari itu, miomnya cepat sekali membesar kemungkinan ibu Evita tidak pernah memeriksakan secara rutin ke dokter obygin, namun saat ini kondisi ibu Evita sudah membaik tinggal menunggu pemulihan nya saja.
Saya rasa hanya itu saja yang ingin saya sampaikan ke bapak dan perihal putri bapak belum menunjukan perkembangan apapun karena kurang cukup usia dia dilahirkan, sehingga organ dalam belum tumbuh dengan sempurna, kita doakan sama-sama semoga ada keajaiban dari yang diatas untuk putri bapak".
Semakin syok saja Rangga mendengarnya dan campur Bingung harus menjelaskan bagaimana pada Evita tentang rahimnya yang telah diangkat.
Belum lagi anak keduanya lahir dengan keadaan prematur, dan keadaannya belum menunjukan sesuatu yang baik.
Evita pasti sangat hancur bila mendengar hal ini, namun semuanya sudah terjadi Rangga pun tidak bisa berbuat apapun selain menerima semuanya.
Rangga pun menuju ruang NICU dan melihat putrinya yang sedang berada di dalam sebuah tabung inkubator terpasang selang disana sini ,sehingga tak tega Rangga melihatnya.
Bayi mungil yang sangat cantik namun harus berjuang untuk hidupnya sendiri dengan banyak sekali bantuan alat-alat medis terpasang disana sini.
"Semoga kamu kuat dan bisa melewati masa sulitmu saat ini ,ibu dan ayah juga kakakmu menunggu kehadiranmu bersama kami, ayah sayang sama kamu nak, lekaslah pulih agar ayah dapat menggendongmu, Oma mu pun pasti sangat senang melihat mu".
Ucap Rangga dengan dibanjiri air mata yang tumpah membasahi pipinya.
Kemudian suster dari ruang NICU memanggil Rangga untuk bertemu dengan dokter anak.
Rangga pun bergegas dengan hati yang diselimuti dengan kegundahan menuju ruang dokter anak, seakan ingin tahu tentang kondisi putrinya.
tok.. tok..
"Silahkan masuk". terdengar suara dibalik pintu
cklik ..Pintu pun terbuka
"Selamat siang dokter".
"Siang , silahkan duduk bapak, saya dokter melita yang menangani putri bapak". Jawab sang dokter.
"Bagaimana keadaan putri saya dokter?".
Rangga pun bertanya dengan tidak sabar ingin mengetahui perkembangannya.
"Saya sudah mengecek dan melakukan observasi dari mulai putri bapak dilahirkan hingga hari ini belum ada perkembangan apapun, karena dilahirkan belum cukup usianya dengan kata lain prematur.
Putri bapak harus berada di inkubator dalam waktu yang cukup lama hingga organ dalam tubuh nya bisa tumbuh dengan sempurna, dan saat ini dia bisa bertahan hanya dengan mengandalkan alat -alat medis saja, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa menyelamatkan putri bapak, saya harap bapak pun bisa menerima informasi yang saya berikan tadi.
Bila nanti ada perkembangan sekecil apapun saya akan memberikan informasi pada bapak".
Dengan panjang lebar dokter pun menjelaskan , dan Rangga hanya menyimak dan mendengarkan apa yang dikatakan dokter anak.
"Semoga ada keajaiban untuk putri bapak , berdoa saja ya pak".
"Lakukan yang terbaik untuk putri saya dokter, saya berharap sekali agar putri saya dapat berkumpul bersama kami".
Dengan sangat berharap agar putrinya bisa normal seperti bayi pada umumnya.
"Saya permisi dokter".
Dengan lemasnya Rangga pun keluar dari ruangan dokter melita.
Dengan pikirannya yang sudah tidak menentu Rangga pun langsung menuju ruangan Evita, setelah didepan ruangan VIP dia pun tidak langsung masuk ,Rangga duduk di kursi yang berada disamping ruangan tersebut sambil terus melamun memikirkan nasib putrinya.
Dan saat itu juga Heru keluar dari ruangan VIP dan mendapati Rangga yang sedang melamun.
Dan Heru pun duduk disamping Rangga.
"Kak , yang sabar dan ikhlas ya. Semuanya sudah diatur oleh yang diatas, tugas kita hanya berusaha memberikan yang terbaik dan berdoa, untuk hasil nya kita serahkan pada sang pencipta".